Terdapat pula beberapa nama desa di Cilacap pada prasasti peninggalan Mataram kuno. Kelima prasasti ini menceritakan adanya nama-nama desa atau wilayah yang terletak di daerah sepanjang aliran sungai Serayu, di daerah Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Banyumas, dan Cilacap.[8][9]
Prasasti
Prasasti Salingsingan yang berangka tahun 880 masehi, menceritakan dana kebaktian milik Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala kepada Bathara di Salingsingan tentang sebuah dharma atau bangunan suci (sekarang: Candi Wulan, Candi Asu, dan Candi Pendem) yang terletak di dekat bertemunya Sungai Pabelan dan Sungai Tlising di lereng Gunung Merapi.
Desa di Cilacap yang disebut, antara lain: desa Gulung (sekarang: Grumbul Mengulung, terletak dipinggir Kali Kembangkuning, sebuah dusun di kecamatan Kawunganten, kab. Cilacap), desa Jati (sebuah desa di kecamatan Binangun, kab. Cilacap), desa Sunda (sekarang: Surusunda, sebuah desa di kecamatan Karangpucung, kab. Cilacap), desa Manghujung (sekarang: Ujungmanik, sebuah desa di kecamatan Kawunganten, kab. Cilacap), dan desa Handaunan (sekarang:Donan, sebuah kelurahan di kecamatan Cilacap Tengah, kota Cilacap).
Prasasti Er Hangat yang berangka tahun 885 masehi, menyebut Maharaja Dyah Tagwas Sri Jayakirttiwardhana yang berkuasa tahun 885 masehi, mendatangi desa Kapung, dan sang raja singgah di desa Er Hangat atau desa Kali Anget, yang sekarang terletak di wilayah Wonosobo.
Desa di Cilacap yang disebut, antara lain: desa Limo Manis (sekarang: Jeruklegi, sebuah kecamatan di kab. Cilacap), desa Nusawangka, desa Nusawungu (berada di kecamatan Nusawungu, kab. Cilacap), desa Nusajati (berada di kecamatan Binangun, kab. Cilacap), desa Nusa, Nusatembini, dan Pulau Nusakambangan.
Dalam prasasti ini dikatakan pula bahwa desa Nusa dipimpin oleh seorang Rama (kepala daerah) disebut Pu Sakti, dan kepala daerah di Limo Manis menerima pasak-pasak atau pemberian pisungsung berupa emas seberat 4 ma. Juga dikatakan, bahwa nama desa Dalyatan (sekarang: Kawunganten, sebuah kecamatan di kab. Cilacap), desa Limo Manis (sekarang: Jeruklegi, sebuah kecamatan di kab. Cilacap), desa Kayu Hurang, desa Nusa merupakan wanwatpi siring atau desa perbatasan, yang berstatus desa yang bebas pajak atau desa Salud Mangli. Prasasti ini ditemukan di Banjarnegara.
Prasasti Panunggalan yang berangka 896 masehi, menceritakan beberapa saksi di upacara tertentu, salah satunya seorang Rakupang yang menjabat sebagai Manghingtu (petugas keagamaan) dari desa Danu (sekarang: Donan, sebuah kelurahan di kecamatan Cilacap Tengah, kota Cilacap).
Desa di Cilacap yang disebut, antara lain: desa Air Bulang (sekarang: Bolang, sebuah desa di kecamatan Dayeuhluhur, kab. Cilacap), desa Maddhyapura (sekarang: Madura, sebuah desa di kecamatan Wanareja, kab. Cilacap), desa Panunggalan (sebuah desa di kecamatan Cahyana, kab. Purbalingga), serta beberapa nama desa yang lokasinya belum jelas seperti desa Bhratma, Tegangrat, Air Pelung, Rayun Haruan, Tiwuran, Pring Sungudan, dan Jamwi. Prasasti ini ditemukan di desa Panunggalan, kecamatan Cahyana, kabupaten Purbalingga.
Prasasti Pabuharan yang berangka 900 masehi, menyebut nama-nama desa yang berada di daerah perbatasan yang termasuk desa Sima (desa bebas pajak), seperti desa Hasinan (sekarang: Pengasinan, sebuah dusun di desa Kedungwringin, kecamatan Patikraja, kab. Banyumas), desa Pabuharan (sekarang: Pabuwaran, kelurahan di kecamatan Purwokerto Utara, Kota Purwokerto), desa Pasir yang merupakan batas sebelah Timur (sekarang terbagi menjadi Pasir Lor, Pasir Wetan, Pasir Kulon, sebuah desa di kecamatan Karanglewas, kab. Banyumas dan Pasir Kidul, sebuah kelurahan di kecamatan Purwokerto Barat, kota Purwokerto), desa Ngasinan (sekarang: Ngasin, sebuah dusun di desa Karangkandri, kecamatan Kesugihan, kab. Cilacap).
Istilah Pasir juga berkaitan dengan Babad Pasir Luhur, yang mengacu pada nama desa Pasir yang sudah dikenal sejak tahun 900-an (era Mataram Kuno). Prasasti ini ditemukan di aliran Sungai Serayu, antara Banyumas dan Cilacap.
Prasasti Luitan yang berangka 901 masehi, berisi tentang pengaduan penduduk desa Luitan atau wilayah Kapung kepada Rakyan Mapati I Hino Pu Daksa Sri Bahubaajrapratipaksasaya, sehubungan dengan tanah yang diukur oleh pemungut pajak yang sebenarnya sempit tetapi dikatakan seluas datu tampah, dan ketika diukur ulang ternyata sempit. Akibat dari laporan yang tidak sesuai fakta itulah, menyebabkan penduduk desa Luitan tidak mampu mengisi uddhara (sejenis pajak/PBB). Prasasti ini ditemukan pada 1977 di dekat Punden Lingga (oleh warga sekitar disebut Punden Mbok Ageng Lingga) desa Pesanggrahan, kecamatan Kesugihan, kab. Cilacap.
Naskah
Dalam Naskah Bujangga Manik tahun 1500 Masehi, tidak terdapat nama Chelachap atau Cilacap, sedangkan Donan Kalicung disebut (sekarang: Donan) [10]
Pada 1726 masehi, dalam peta perjalanan Francois Valentyn nama Chelachap atau Cilacap juga belum disebut, hanya dikenal nama-nama desa dan sungai seperti Souse River (Sungai Serayu), Lonbong Negory, (Dainu, sekarang donan), Doman, Calomprit, Oetiong Klang, Kali Kams, (Kara Doea, sekarang muara dua), Kali Balampang, Pagalangan, Pasongon, Oeloebontoe, Boeykota, (Careong, sekarang cireong) dan De Schey River (istilah untuk sungai besar). Semua tempat dan sungai-sungai tersebut terletak di sebelah Utara Pulau Nusakambangan serta di sebelah Timur dan Utara Segara Anakan.[11]
Nama Chelachap (sekarang: Cilacap) baru disebut dalam Buku The History of Java (volume I) karya Thomas Stamford Raffles, terbitan tahun 1817 (Peta Raffles dibuat pada zaman pemerintahan Inggris di Jawa pada 1817 masehi), yang kemudian diterbitkan kembali oleh penerbit Kuala Lumpur (Oxford University Press) pada 1978.[11][12] Berikut adalah petikan aslinya:
To the easward of these districts, and crossing the island from north to south, is the province of Cheribon, divided into the principal, districts. To the South is the island of NOESA KAMBANGAN which from the harbour of Chelachap.
Dengan demikian, nama Handaunan, Donan, Danu, Donan Kalicung lebih tua ribuan tahun dari nama Chelachap atau Cilacap.