Pendirian perusahaan ini sangat terkait dengan Bandara Amsterdam Schiphol, yang mulai beroperasi pada tahun 1916 di tengah Perang Dunia I.[5] Awalnya dioperasikan untuk penerbangan militer, Bandara Amsterdam Schiphol kemudian dialihkan untuk penerbangan sipil pasca gencatan senjata 11 November 1918. Pada tahun 1926, manajer pertama dari Bandara Amsterdam Schiphol, Jan Dellaert, pun resmi dilantik. Dellaert kemudian merancang dan menerapkan rencana strategis baru untuk Bandara Amsterdam Schiphol.[5]
Selama dekade 1920-an dan 1930-an, Bandara Amsterdam Schiphol terus berkembang dan makin fokus pada penerbangan sipil. Pada tahun 1940, Bandara Amsterdam Schiphol telah memiliki empat landas pacu beraspal. Selama Perang Dunia II, Bandara Amsterdam Schiphol disita oleh militer Jerman dan namanya diubah menjadi Fliegerhorst Schiphol. Bandara Amsterdam Schiphol pun hancur akibat pengeboman udara, tetapi kemudian dibangun kembali pasca berakhirnya perang.[6]
Pada tahun 1949, diputuskan bahwa Bandara Amsterdam Schiphol akan dikembangkan sebagai bandara utama di Belanda. Pada dekade 2010-an, Bandara Amsterdam Schiphol pun telah menjadi bandara dengan jumlah penumpang terbanyak ketiga di Eropa.[2] Pada tahun 2019 saja, Bandara Amsterdam Schiphol menangani sebanyak 1,57 juta ton kargo dan 71,7 juta orang penumpang.[7]
Pada bulan Oktober 2008, diumumkan bahwa dewan direksi Aéroports de Paris dan perusahaan ini telah setuju untuk saling membeli 8% saham, sehingga membentuk grup operator bandara terbesar di dunia.[3]
Pada bulan Maret 2014, perusahaan ini mengakuisisi 38,85% saham AREB yang memiliki lebih dari 17 unit properti strategis di Bandara Amsterdam Schiphol.[10] Setahun kemudian, perusahaan ini mengumumkan penjualan 60% saham Schiphol Airport Retail, yang menangani gerai ritel di dalam bandara, ke Heinemann Duty Free & Travel Value.[11][12]
Pada bulan Maret 2016, perusahaan ini mulai membangun terminal baru di Bandara Amsterdam Schiphol yang rencananya mulai dioperasikan pada tahun 2023, dengan kapasitas sebesar 14 juta orang penumpang per tahun.[13] Pada tahun yang sama, perusahaan ini mendapat piagam kerajaan dari Willem-Alexander dari Belanda, sehingga perusahaan ini berhak memakai nama Royal Schiphol Group. Tidak lama kemudian, perusahaan ini juga menambahkan gambar mahkota pada logonya.[7]
Pada bulan September 2022, CEO perusahaan ini, Dick Benschop, mengundurkan diri setelah kekacauan selama berbulan-bulan di Bandara Amsterdam Schiphol.[14][15] Pada bulan Oktober 2022, diumumkan bahwa perusahaan ini telah menguasai 40% saham Bandara Maastricht Aachen.[16]
Struktur keuangan
Bandara Schiphol Amsterdam 100%
Bandara Rotterdam 100%
Bandara Lelystad 100%
Bandara Eindhoven 51%
Bandara Maastricht Aachen 40%
Bandara milik Royal Schiphol Group di Belanda.
Bandara Internasional John F. Kennedy Terminal 4 100%
Bandara Hobart 35%
Bandara Brisbane 19,6%
Bandara milik Royal Schiphol Group di luar Belanda.