Meskipun terlihat menjijikkan, tapi makanan ini kaya akan protein yang cukup tinggi dan cocok dimakan oleh penderita diabetes. Makanan ini rendah serat, bisa dimakan secara langsung maupun dengan cara digoreng atau dijadikan sate.[3]
Dalam budaya Papua, ulat sagu menjadi unsur penting dalam ritual perayaan oleh Suku Asmat. Sebuah ritual makanan disiapkan oleh Suku Kamoro dalam pemberian nama anak laki-laki mereka. Ritual makanan ini terdiri dari campuran tepung sagu dengan siput atau kerang jenis tertentu, dan ulat sagu yang dibungkus dalam kemasan daun sagu berukuran panjang.[4]