Pasar Kembang (bahasa Jawa:Hanacaraka: ꦥꦱꦂꦏꦼꦩ꧀ꦧꦁcode: jv is deprecated , disingkat Sarkem) adalah sebuah kawasan yang terletak di Kota Yogyakarta yang dikenal sebagai pusat kegiatan prostitusi di masa lalu. Kawasan ini berada di sekitar kawasan Malioboro, yang merupakan salah satu kawasan paling ramai di Kota Yogyakarta.
Etimologi
Nama "Pasar Kembang" diambil dari tempat ini yang dulu memang digunakan sebagai tempat untuk berjualan kembang (bunga).[butuh rujukan]
Pasar Kembang ini tekah berkembang sejak era penjajahan Kolonial Belanda, sejak tahun 1884.[2] Kawasan ini juga dikenal sebagai Balokan karena fungsinya sebagai tempat menyimpan balok kayu untuk kebutuhan lokomotif.[2] Namun pada perkembangnya Pasar Kembang atau lebih dikenal dengan Sarkem ini menjadi salah satu lokalisasi pertama yang didirikan di Hindia Belanda.[3]
Pada perkembangnannya Sarkem ini menjadi kawasan yang sangat ramai. Kawasan ini menjadi kawasan yang sering dikunjungi para wisatawan baik wisatawan domestik ataupun wisatawan mancanegara.[4] Banyak hotel-hotel atau penginapan sejenis dibangun di sekitar kawasan ini. Khusus untuk wisatawan mancanegara sering menjadikan kawasan ini sebagai destinasi pertama yang kemudian dilanjutkan ke kawasan Prawirotaman (kawasan yang dikenal sebagai Bali kecilnya Jogja).[5]
Sekarang
Kawasan pasar Kembang ini dulu dikenal sebagai lokalisasi yang cukup ramai di Kota Yogyakarta, tetapi pada tahun 2016 muncul wacana untuk menutup lokalisasi ini.[6] Terkait wacana tersebut banyak timbul pro dan kontra terkait wacana tersebut.[7] Hal ini mengingat bahwa Sarkem ini adalah tempat banyak orang menggantungkan kehidupannya, baik itu para penyedia jasa wisata malamnya atau juga para pendukung penyedia jasa wisata malam tersebut.[butuh rujukan]
Pada tahun 2018, pemerintah kota Yogyakarta melakukan penutupan terhadap lokalisasi ini, seiring dengan upaya untuk menata kota dan mengurangi kegiatan prostitusi.[butuh rujukan]