Hubungan dengan Arya Kamandanu
Arya Kamandanu merupakan satu-satunya pria dalam kehidupan cinta Sakawuni, cinta pertama dan cinta terakhirnya. Pertemuan pertama mereka terjadi saat Arya Kamandanu tertarik dengan penampilan unik Sakawuni yang mampir minum di sebuah kedai desa Jasunwungkal. Saat itu Sakawuni tengah mengikuti Ranggalawe dan Gajah Pagon.
Setelah Sakawuni pergi dari kedai itu, Arya Kamandanu mengikutinya sesuai dengan informasi yang didapatkannya dari pelayan kedai. Diam-diam Arya Kamandanu memperhatikan semua jalannya pertarungan antara Sakawuni dengan Gajah Pagon dan Ranggalawe. Saat Sakawuni hampir terbunuh oleh keris megalamat milik Ranggalawe, Kamandanu menolongnya. Iapun berjanji akan membalas budi Kamandanu jika ada kesempatan.
Pertemuan kedua terjadi saat Arya Kamandanu sambil menggendong Panji Ketawang, keponakannya yang masih kecil diserang oleh mpu Tong Bajil dan kelompoknya. Sakawuni menolong Arya Kamandanu untuk meloloskan diri lalu membawa Arya Kamandanu dan keponakannya bersembunyi di lereng gunung Arjuna yang aman. Sakawuni juga membantu Arya Kamandanu untuk membangun sebuah gubuk di sana.
Pertemuan mereka yang ketiga terjadi saat Arya Kamandanu terluka dan pingsan akibat terkena pukulan aji tapak wisa milik Dewi Sambi.
Dengan susah payah Sakawuni berusaha menolong Arya Kamandanu. Ia membawa Kamandanu ke beberapa tabib hingga akhirnya dibawanya ke Tanibala tempat kakekny
Dari kakeknya Sakawuni mendapatkan petunjuk bahwa ada bunga tunjung biru yang bisa menawarkan racun aji tapak wisa. Sakawuni berhasil mendapatkannya dan ternyata yang memiliki bunga tunjung biru adalah Ayu Pupuh yang sudah bergelar Dewi Tunjung Biru, ibu kandungnya sendiri. Sakawuni semula merasa kecewa kepada ibunya, tetapi akhirnya ia memaafkannya. Dari ibunya Sakawuni tahu bahwa ia telah jatuh cinta pada Arya Kamandanu dengan memberikan banyak pertolongan kepada pemuda itu.
Sedangkan Arya Kamandanu pun tahu riwayat keluarga dan kehidupan Sakawuni dari kakeknya. Ia yang sedang dalam kekecewaan yang sangat dalam pada Mei Xin pun merasa sangat dihargai oleh Sakawuni dan tidak mau berterus terang kepada Sakawuni bahwa ia telah memperistri Mei Xin untuk menutupi aib keluarganya di mana Mei Xin telah hamil di luar perkawinan dengan Arya Dwipangga, kakak kandung Arya Kamandanu.
Setelah mengetahui bahwa Arya Kamandanu telah beristri dan sengaja tidak mengatakan kepadanya, Sakawuni marah dan kecewa tapi dia
dapat mengatasinya dengan nasihat dari kakeknya Ki Sugata Brahma. Arya Kamandanu kembali ke lereng gunung Arjuna sedangkan Sakawuni tetap tinggal di desa Tanibala dan memperdalam ilmu jurus-jurus angin lengan seribu.
Ki Sugata Brahma yang juga seorang pendekar menurunkan ilmu pukulan lengan seribu kepada Sakawuni dengan memberikan seluruh tenaga dalamnya kepada cucu tercintanya itu. Setelah menurunkan ilmunya, Ki Sugata Brahma tewas di tangan mpu Tong Bajil dan kelompoknya yang datang menyerang ke rumahnya untuk mencari Sakawuni yang dianggap telah berkhianat kepada Kediri. Sakawuni tidak berhasil menyelamatkan kakeknya, ia sendiri terkena pukulan aji tapak wisa oleh Dewi Sambi lalu pergi meninggalkan desa Tanibala menuju ke bukit Penampihan tempat ibunya berada untuk mendapatkan pertolongan.
Pulih dari lukanya, Sakawuni mendapatkan nasihat dari ibunya untuk tidak lagi ingin membalas dendam kepada ayahnya dan tidak lagi mencintai Arya Kamandanu yang telah mempermalukannya dengan kebohongan. Namun Sakawuni tetap ingin ke Majapahit untuk menemukan Banyak Kapuk.
Dalam perjalanan, Sakawuni mampir ke lereng Arjuna untuk mencari Arya Kamandanu. Ia merasa perlu menyampaikan kekecewaannya atas kebohongan Kamandanu. Namun yang ditemuinya adalah Mei Xin, istri Arya Kamandanu.
Mei Xin menyambut baik kedatangan Sakawuni dan menceritakan kepada Sakawuni tentang kisah hidupnya. Sakawuni bersimpati pada nasib Mei Xin dan meninggalkan Mei Xin dengan sepucuk surat bahwa ia telah lega dan merelakan Arya Kamandanu.
Sakawuni lalu menuju Majapahit untuk menyelesaikan masalah dengan ayahnya dan akhirnya ia bergabung menjadi prajurit di Majapahit dan
tinggal bersama ayahnya yang ternyata sangat menyayanginya. Sayang sekali tidak lama setelah pecah pertempuran Majapahit melawan Kediri, ayahnya meninggal karena terkena aji tapak wisa milik Dewi Sambi dan terlambat mendapatkan pertolongan meskipun Sakawuni dengan dibantu oleh Arya Kamandanu telah berusaha sekuat tenaga untuk membawanya ke bukit Penampihan tempat Dewi Tunjung Biru.
Namun demikian, Sakawuni cukup lega karena sebelum ayahnya meninggal, ia telah mempertemukan ayah ibunya hingga mereka bersatu dalam ikatan perkawinan yang sah dan Sakawuni pun menjadi anak yang jelas asal-usulnya.
Banyak Kapuk meninggal di pangkuan istri dan putrinya yang tercinta. Ia dimakamkan di bukit Penampihan tempat istrinya berada.
Sepeninggal ayahnya, Arya Kamandanu membangkitkan semangat Sakawuni untuk kembali berjuang di Majapahit melanjutkan cita-cita ayahnya sebagai wujud bakti kepada orang tuanya. Sakawuni pun kembali ke Majapahit bersama Arya Kamandanu.
Salam perjalanan ke Majapahit mereka diikuti oleh tak kurang dari 500 penduduk desa-desa yang mereka lewati yang ingin turut bergabung dengan Majapahit dalam mengusir tentara Tartar dari Jawa.
Setelah tentara tartar berhasil diusir, Sakawuni tetap mengabdikan diri di Majapahit. Ia sering mendapatkan tugas bersama Arya Kamandanu seperti dalam upaya pemadaman pemberontakan Ranggalawe dan penumpasan gerombolan perusuh yang dipimpin oleh mpu Tong Bajil dan Dewi Sambi.
Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana sangat terkesan dengan kebersamaan Arya Kamandanu dan Sakawuni hingga beliau berkata alangkah senangnya beliau bila Arya Kamandanu dan Sakawuni menjadi suami-istri. Mereka berdua tidak langsung setuju terutama Sakawuni maka dia sendiri mengajak Arya Kamandanu untuk mencari Mei Xin, istri Arya Kamandanu yang hilang tanpa jejak. Karena Mei Xin tidak dapat ditemukan, maka Arya Kamandanu kembali pada keinginannya semula untuk melamar Sakawuni seperti yang dikatakan oleh sang Prabu. Namun, Sakawuni masih menolak dengan alasan Kamandanu tidak mencintainya.
Arya Kamandanu yang kecewa dan marah karena penolakan Sakawuni yang berulang kali itu akhirnya mengamuk. Dengan menggunakan pedang naga puspa dan kekuatan tenaga dalam dari naga puspa kresna ia menghancurkan tebing-tebing.
Akhirnya Sakawuni mau mempertimbangkan lamaran Arya Kamandanu dan meminta Arya Kamandanu untuk mengulangi lamarannya di hadapan ibunya dan jika ibunya setuju maka iapun akan menerima lamaran Arya Kamandanu.
Meskipun telah mendengar berbagai keberatan dan kekhawatiran Sakawuni, ibu Dewi Tunjung Biru tetap menerima lamaran Arya Kamandanu dan merestui Sakawuni menjadi istri Arya Kamandanu.
Merekapun menikah pada hari Respati wulan Waisaika wuku landep (1297 M) di hadapan dua pendeta Dang acarya ring kasogatan dan Dang acarya ring kasaiwan.
Mereka membangun mahligai perkawinan yang bahagia dikaruniai seorang anak yang bernama Jambu Nada setelah hampir 12 tahun berumah tangga. Sakawuni akhirnya meninggal saat melahirkan anaknya pada tahun 1309 M dan dimakamkan di bukit Penampihan tepat di samping makam ayahnya, Banyak Kapuk.
Sementara suaminya Arya Kamandanu menolak tawaran Dewi Tunjung Biru, ibu mertuanya, agar menyerahkan bayi Sakawuni untuk diasuh di bukit Penampihan dan ia bisa menikah lagi. Arya Kamandanu memilih untuk membesarkan bayi pemberian Sakawuni seorang diri dengan bertapa di lereng gunung Arjuna, tempat di mana ia dulu disembunyikan oleh Sakawuni lalu tinggal di sana beberapa waktu dari kejaran mpu Tong Bajil dan Dewi Sambi.