Paulus melanjutkan pembahasannya tentang penolakan Israel terhadap tujuan Allah yang telah ia mulai di pasal 9: meskipun ia "sangat sedih karena Israel",[5] hal itu tetap menjadi "keinginan hatinya dan doa kepada Allah bagi orang Israel, supaya mereka diselamatkan".[6]
Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.[11]
Unsur-unsur keselamatan terangkum di sini serta berpusat pada kepercayaan akan ketuhanan YesusKristus dan kebangkitan-Nya secara jasmaniah. Iman harus ada di dalam hati, yang meliputi perasaan, akal, dan kehendak sehingga memengaruhi seluruh diri orang itu. Iman juga harus meliputi penyerahan diri secara umum kepada Yesus sebagai Tuhan, baik dalam kata maupun dalam perbuatan.[12]
"Mengaku ... bahwa Yesus adalah Tuhan"
Pengakuan iman yang paling awal dari gereja dalam masa Perjanjian Baru bukanlah "Yesus adalah Juruselamat", tetapi "Yesus adalah Tuhan" (bandingkan Kisah Para Rasul 8:16; 19:5; 1 Korintus 12:3). YesusKristus khususnya disebut Juruselamat 16 kali dalam Perjanjian Baru dan Tuhan lebih dari 450 kali.
1) Ajaran dewasa ini bahwa Yesus bisa menjadi Juruselamat tanpa menerima Dia sebagai Tuhan tidak ada dalam Perjanjian Baru. Tidak seorang pun dapat menerima Yesus sebagai Juruselamat tanpa menerima-Nya sebagai Tuhan. Hal ini merupakan unsur penting dalam pemberitaan rasuli (Kisah Para Rasul 2:36–40).
3) Waktu orang Kristen Perjanjian Baru memanggil Yesus "Tuhan", maka hal ini bukan sekadar pengakuan lahiriah tetapi sikap hati yang sungguh-sungguh (bandingkan 1 Petrus 3:15). Dengan ini mereka menjadikan Kristus dan Firman-Nya Tuhan atas seluruh kehidupan mereka (Lukas 6:46–49; Yohanes 15:14). Yesus harus menjadi Tuhan atas hal-hal rohani di rumah dan di gereja, maupun Tuhan di bidang intelektual, keuangan, pendidikan, kesenangan, dan pekerjaan, pendeknya: semua bidang hidup (Roma 12:1–2; 1 Korintus 10:31).[12]
Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.[13]
Beberapa naskah yang kuno berkata "firman Kristus", tetapi mayoritas naskah kuno berkata "firman Allah". Firman Allah harus diberitakan, karena orang tidak dapat percaya jika berita Firman Allah tidak disampaikan kepada mereka.[14]
↑Donaldson, Terence L. (2007). "63. Introduction to the Pauline Corpus". Dalam Barton, John; Muddiman, John (ed.). The Oxford Bible Commentary (Edisi first (paperback)). Oxford University Press. hlm.1077. ISBN978-0199277186.
↑Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN 9789794159219.
↑John Drane. Introducing the New Testament. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-teologis. Jakarta:Gunung Mulia. 2005. ISBN 9794159050.