Jika ritus-ritus lainnya menggunakan bahasa yang lebih puitis, Ritus Romawi justru dikenal karena ungkapan-ungkapannya yang lugas. Dalam bentuk Tridentinanya, Ritus Romawi dikenal pula karena formalitasnya: dalam Misa Tridentina tiap gerakan dirinci dalam hitungan menit, sampai jarak gerakan tangan imam untuk memasukkan tangan kanannya terlebih dahulu sebelum lengan kirinya pada saat mengenakan alba (Ritus servandus in celebratione Missae, I, 3). Konsentrasi pada momen yang tepat dari perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus mengakibatkan, dalam Ritus Romawi, hosti dan piala diunjukkan kepada umat segera setelah hosti atau piala itu dikonsekrasi. Jika, sebagaimana umumnya dulu, imam mempersembahkan Misa sambil menghadap ad orientem (ke arah Timur) atau ad apsidem (ke arah apsis - membelakangi umat), maka dia mengunjukkan hosti dan piala kepada umat dengan cara mengangkatnya melampaui kepalanya. Tiap kali pengunjukkan, genta dibunyikan, jika dupa digunakan, maka hosti dan piala didupai (Petunjuk Umum Misa Romawi, 100). Kadang kala lonceng-lonceng Gereja didentangkan pula. Ciri-ciri lain yang membedakan Ritus Romawi dari ritus-ritus Gereja-Gereja Timur adalah genufleksi (gerakan menghormat dengan cara mencondongkan tubuh bagian atas ke depan sambil berdiri) yang sering, berlutut dalam waktu yang lama, dan kedua telapak tangan disatukan, seperti kebiasaan orang-orang Asia Timur dan Asia Selatan bilamana sedang berdoa.
Pendapat Adrian Fortescue mengenai antikuitas Ritus Romawi
Dalam membandingkan Ritus Romawi dengan ritus-ritus Timur, sarjana liturgi terkenal Adrian Fortescue berpendapat: "Tak satu pun Ritus Timur yang masih digunakan sekarang ini yang sama tuanya dengan Ritus Romawi"; dan secara puitis dia menyatakan bahwa "Misa [Romawi] berasal, tanpa perubahan berarti, dari masa ketika Misa pertama kalinya dikembangkan dari liturgi purba. Misa masih meguarkan aroma liturgi itu, yang berasal dari zaman Kaisar masih menguasai dunia dan menyangka dapat melenyapkan iman akan Kristus, manakala para bapa kita berhimpun sebelum fajar menyingsing dan menyanyikan himne bagi Kristus seperti kepada Allah. Hasil akhir dari penelitian kita adalah bahwasanya, meskipun ada masalah-masalah yang tak terpecahkan, dan adanya perubahan-perubahan mutakhir, tak ada dalam dunia Kristen ritus lain yang begitu luhur."[1]
Adrian Fortescue tidak menyangkal bahwa Ritus Romawi mengalami perubahan-perubahan mendalam sejalan dengan perkembangannya. Dalam tulisannya mengenai Liturgi Misa pada Catholic Encyclopedia,[2] dia menunjukkan bahwa bentuk paling awal dari Ritus Romawi, seperti yang tertulis dalam catatan peninggalan Yustinus Martir dari abad ke-2, berciri Timur, sedangkan kitab-kitab Sacramentarium karya Paus Leo dan Paus Gelasius, dari sekitar abad ke-6, "praktis memperlihatkan kepada kita Misa Romawi kita saat ini." Pada rentang waktu antara keduanya terdapat apa yang disebut Fortescue sebagai "suatu perubahan radikal". Dia mengutip teori dari A. Baumstark bahwa "Hanc Igitur", "Quam oblationem", "Supra quæ" dan "Supplices", serta daftar orang-orang kudus dalam "Nobis quoque" ditambahkan ke dalam Kanon Misa Romawi di bawah "campuran pengaruh dari Antiokhia dan Aleksandria", Dan bahwa "St. Leo I yang mulai melakukan perubahan-perubahan tersebut; Gregorius I merampungkan prosesnya dan akhirnya mereka-ulang Kanon Misa dalam bentuknya yang ada sekarang."
Fortescue sendiri menyimpulkan:
- Yang dapat kita simpulkan dari paragraf ini adalah bahwa di Roma Doa Syukur Agung diubah secara fundamental dan direka-ulang pada suatu rentang waktu antara abad ke-4 dan ke-6 serta abad ke-7. Selama waktu yang sama doa-doa umat sebelum Persembahan dihilangkan, salam damai dipindahkan ke sesudah Konsekrasi, dan Epiklesis dilewatkan atau dimutilasi menjadi doa "Supplices" kita. Dari sekian banyak teori menyangkut hal ini, tampaknya masuk akal bagi kita untuk bersama Rauschen mengatakan: "Sekalipun pertanyaannya telah ditetapkan, ada kecocokan dengan teori Drews sehingga saat ini teorinya haruslah dianggap teori yang benar. Oleh karena itu mesti kita akui bahwa antara tahun 400 dan 500 telah terjadi suatu transformasi besar dalam Kanon Romawi" (Euch. u. Busssakr., 86).
Dalam artikel yang sama Fortescue selanjutnya membahas mengenai banyaknya perubahan yang dialami Misa Ritus Romawi sejak abad ke-7 (lihat Misa Pra-Tridentina), khususnya oleh masuknya unsur-unsur Gallia, yang terutama dapat dilihat dari adanya variasi-variasi sepanjang tahun. Masuknya unsur-unsur Gallia ini disebut Fortescue sebagai "perubahan terakhir sejak Gregorius Agung" (yang wafat pada tahun 604).
Anafora atau Doa Syukur Agung yang biasanya digunakan dalam Ritus Bizantium diyakini disusun oleh Santo Yohanes Krisostomus, yang wafat pada tahun 404, tepat dua abad sebelum Santo Gregorius Agung. Dan Doa Syukur Agung Addai dan Mari dari tradisi Suriah Timur, yang masih digunakan sampai sekarang, tentunya jauh lebih tua.