Sejarah
Sejarawan Shawn McHale mencatat bahwa meskipun ras membentuk sikap orang Prancis terhadap orang Vietnam, hampir tidak ada tulisan mengenai konsep ras dalam pemikiran orang Vietnam selama Perang Indochina Pertama. Pada kenyataannya, sejumlah penulis dan intelektual Vietnam sangat dipengaruhi oleh darwinisme sosial sebelum Perang Dunia Kedua,[2] yang membentuk wacana mereka tentang ras. Selama Perang Indochina Pertama, meskipun para pihak yang berkonflik umumnya menghindari pembicaraan tentang ras, sebagian ada yang tidak. Mereka semakin memakai wacana tentang ras dan etnisitas yang, pada waktu tertentu, mendemonisasi Orang Kulit Hitam, Arab, Khmer, dan kelompok pribumi non-Vietnam lainnya.[2] Misalnya, sebuah selebaran propaganda nasionalis di Delta Mekong pada tahun 1951 menuduh bahwa “orang Prancis yang biadab” menggunakan mesin untuk “memasak” tentara Vietnam dan mengubah mereka menjadi orang Afrika kulit hitam dan orang Maroko.[2]
Terlepas dari propaganda perang, sebagian penghinaan rasial semacam itu muncul dalam media arus utama Vietnam, berupa kebencian anti-kulit hitam dan xenofobia yang tajam. Ungkapan-ungkapan retorika berisi muatan rasial dapat ditemukan dalam slogan populer, surat kabar, dan gambar grafis seperti poster atau kartun propaganda. Pada saat yang sama, orang Vietnam dari berbagai spektrum politik menekankan perlunya “melindungi ras (nòi giống) Vietnam”.[2] Konsep ras Vietnam pada masa itu merujuk pada mereka yang berbagi “garis keturunan biologis” atau memiliki asal-usul Vietnam yang sama.[2] Istilah đồng bào (sesama anak bangsa) juga menekankan makna serupa, dan kemudian diperluas ke orang-orang Tionghoa di Delta Mekong yang sering berasimilasi melalui perkawinan campur, tetapi tidak pernah diterapkan pada kelompok Cham, Melayu, dan Khmer.[2] Persentase tinggi orang Afrika dan Arab dalam Korps Ekspedisi Prancis kemungkinan menjadi alasan kebencian mendalam orang Vietnam terhadap “kekelaman”.[2] Antagonisme kuat semacam ini jarang dikecam oleh para pemimpin Viet Minh, yang pada saat yang sama juga menyadari bahwa tentara Kulit Hitam dan Arab itu sebenarnya juga korban dari imperium kolonial Prancis.[2]
Contoh wacana rasial semacam itu mudah ditemukan sepanjang waktu. Misalnya, Đào Duy Anh pada 1940-an pernah menyatakan: “kebudayaan bangsa-bangsa Amerika dan Eropa adalah tinggi, sedangkan kebudayaan bangsa-bangsa liar (dân tộc mọi rợ) di Afrika dan Australia, sebagaimana halnya Mường, Mán, Mọi di negeri kita, adalah kurang berkembang.” Surat kabar Dân sinh edisi 14 Januari 1946 menyatakan dengan bangga: “Sekarang, tak seorang pun berani mengatakan bahwa bangsa Vietnam adalah suku liar (một bộ tộc mọi rợ), sebab rakyat Vietnam telah menjalankan penentuan nasib sendiri dan pemerintahan sendiri melalui pemilu!” Jurnalis Hanoi Phùng Tri Lai pada tahun 1950 dengan keras menggambarkan kelompok minoritas Afrika dalam istilah “ketelanjangan, kebiasaan barbar, dan adat makan daging manusia.” Ketika anggota Katolik dalam perlawanan Viet Minh menyeru kaum Katolik lain di Delta Mekong pada 1949, mereka menggunakan ketakutan terhadap punahnya ras: “Kalian tidak boleh berdiam diri dan menyaksikan musuh melenyapkan ras kita.”[6] Sebaliknya, biksu Khmer Krom Trịnh Thới Cang pada tahun 1949 berpendapat bahwa tanpa pendidikan, minoritas Kamboja di Vietnam akan dipandang tidak lebih baik daripada Orang Kulit Hitam di Amerika dalam persepsi kaum intelektual Vietnam.[9] Selama perang, kelompok-kelompok etnis minoritas di Vietnam yang dianggap “berkulit lebih gelap” sering dipandang sebagai budaya yang lebih rendah daripada orang Vietnam.[2]
Wacana rasial kadang juga berkaitan dengan penindasan terhadap etnis minoritas. Bahkan sebelum perang dimulai, kekerasan etnis dan penindasan oleh berbagai faksi Vietnam terhadap Khmer Krom di Delta Mekong sudah meningkat, dan menjadi bagian dari dinamika kekerasan yang membentuk kawasan Delta Mekong. Trần Văn Trà pada awal 1946 mengakui bahwa Partai “menggunakan kekuatan untuk menekan, dan menangkap ratusan orang Khmer.”[2] Hal ini memicu ketegangan etnis, pembantaian massal, penjarahan kota yang kacau, dan kerusuhan ras yang dilakukan baik oleh kelompok Khmer maupun Viet, yang meletus dan menyebar di seluruh Delta dari Agustus 1945 hingga Maret 1946.[2]
McHale menyimpulkan bahwa kekerasan rasial dan persoalan ras selama Perang Indochina Pertama, yang sering dianggap marjinal di luar arus utama kajian ilmiah, sesungguhnya sangat signifikan: “..., Perang Indochina Pertama adalah perang ras. Namun bukan seperti Perang Dunia II, ketika para propagandis Jepang berbicara tentang ‘ras Yamato’[3] yang berperang melawan orang kulit putih dalam perjuangan global yang pahit, atau ketika Nazi mendefinisikan orang Jerman sebagai ‘ras Arya’ murni[4] yang berperang melawan ras lain. Bukan pula perang Fanonian yang mempertemukan kolonialis kulit putih melawan musuh kulit gelap.[5][6] Sebaliknya, pada masa-masa terburuknya, orang Vietnam kadang memandang perang ini sebagai perjuangan untuk kelangsungan hidup rasial atau etnis mereka sendiri melawan musuh—mulai dari pemerkosa dan pembunuh Prancis hingga “kanibal” Maroko dan Senegal, serta para pemenggal kepala Khmer Krom.”[2]