Ranah Ampek Hulu Tapan adalah sebuah kecamatan di bagian selatan Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat, Indonesia.[1] Kecamatan ini adalah pemekaran dari Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan. Wilayah Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan adalah sebagian wilayah Tapan yang sebagiannya masuk wilayah Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan. Kota Tapan berada di jalan lintas barat Sumatera dan persimpangan yang menghubungkan tiga provinsi, yaitu Sumatera Barat, Jambi dan Bengkulu.
Pembagian Administrasi
Secara administrasi Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan terbagi atas 10 Pemerintahan Nagari,[2] antara lain:
Posisi wilayah Tapan (Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan dan Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan) sangat strategis karena berada pada persimpangan tiga provinsi, yaitu Sumatera Barat, Jambi dan Bengkulu. Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan sebelah timurnya berbatasan langsung dengan Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci di Provinsi Jambi. Jarak Tapan dengan kota sekitarnya sebagai berikut:
Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan memiliki luas wilayah 281,96 km2. Pada tahun 2024, wilayah administrasi Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan terbagi atas 10 nagari. Nagari Sungai Gambir Sako Tapan merupakan nagari yang memiliki wilayah terluas dibandingkan dengan nagari lainnya yang berada di Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan. Nagari Sungai Gambir Sako Tapan merupakan nagari yang memiliki jarak tempuh terjauh untuk ke Kantor Camat dan Kantor Bupati.[3]
Secara geografis, daerah Tapan berada pada dataran rendah pesisir barat Pulau Sumatera, dengan kontur wilayah beragam, mulai dari dataran bergambut di bagian barat hingga selatan dan perbukitan rendah pada bagian utara hingga tinggi di bagian timur yang merupakan bagian dari gugusan Bukit Barisan. Dengan iklim tropis dan curah hujan tinggi, semakin ke arah timur suhu udara di Tapan semakin rendah karena semakin tinggi mengarah ke Dataran Tinggi Kerinci.
Perekonomian masyarakat Tapan sebagian besar adalah pertanian, dengan bertani Padi adalah mata pencarian utama masyarakat Tapan, diikuti Jagung, Palawija serta sebagian kecil buah-buahan seperti Semangka (karamojo).
Di samping itu potensi perkebunan juga menjadi mata pencarian masyarakat Tapan, yakni perkebunan Karet (parah) dan sekarang semakin berkembangnya perkebunah Sawit dan Kakao (cokelat). Serta yang telah terkenal lama serta menjadi ikon dan oleh-oleh dari Tapan yaitu Petai (ptai) dan Jengkol (jighiang) meski sekarang produksinya semakin berkurang.
Sosial Budaya
Menurut Adat N’ghing Tapan, masyarakat Tapan dibagi atas 4 (empat) suku, yakni Malayu Kcik, Malayu Gdang, Caniago dan Sikumbang. Masing-masing suku dipimpin oleh datuk yang dikenal dengan Basa Ampek Balai dengan Machudum Sati sebagai Orang Tua Nagari (Ughang Tuo N’ghing) Tapan. Tiap-tiap suku dibagi atas beberapa kaum yang masing-masing kaum dipimpin oleh seorang Ninik Mamak (Pamakung). Adapun susu-suku tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Suku Malayu Kcik
Suku Malayu Kcik memiliki Gelar Kebesaran (Gelar Nobat) Datuk Panghulu Suku yang di-gele (Digilir atau Diganti) antara lain sebagai berikut:
Datuk Sangguno Dirajo
Datuk Semanggun Dirajo
Datuk Rajo Dibandar
Datuk Dewa Pahlawan
Datuk Syahbandar
Datuk Rindang Pincalang
2. Suku Malayu Gdang
Giliran Gelar Kebesaran dalam Muku Malayu Gdang adalah sebagai berikut:
Datuk Maharajo Besar
Datuk Suka Dano
Datuk Rajo Indo
Datuk Permai Duaso
3. Suku Caniago
Giliran Gelar Kebesarandalam Suku Caniago adalah sebagai berikut:
DatukSuri Maha Rajo di Kubu
Datuk Maharajo Lelo di Pasar 60
Datuk Gedang Dirajo di Nilau
Datuk Rajo Lebih di Nilau
Datuk Rajo Nan Sati di Nilau
4. Suku Sikumbang
Giliran Gelar Kebesaran dalam Suku Sikumbang adalah sebagai berikut:
Datuk Rajo Nan Kayo di Tanjung Pondok
Datuk Benu Sutan
Datuk Sri Gagah di Kubu
Saat ini yang memegang jabatan Penghulu di Tapan antara lain:
Suku Malayu Kcik: H. Bachtaruddin, SE. Dt. Dewa Pahlawan
Suku Malayu Gdang: Bustami Pasry Dt. Permai Duaso
Suku Caniago: Novrial Bahrun, SH., M.Kn., Dt. Suri Maha Rajo
Suku Sikumbang: Ir. Nasution Dt. Rajo Nan Kayo
Pemekaran Kabupaten
Sejak tahun 2000, masyarakat yang berada di enam kecamatan paling selatan di Kabupaten Pesisir Selatan ini telah memperjuangkan sebuah kabupaten baru yang meliputi daerah Renah Indojati (Kecamatan Air Pura, Kecamatan Pancung Soal, Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan, Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan, Kecamatan Lunang dan Kecamatan Silaut). Usulan pemekaran telah masuk dan dibahas oleh DPR RI, tetapi sampai saat ini belum juga disahkan. Saat ini masyarakat masih menunggu RUU tentang pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Renah Indojati disahkan menjadi UU sehingga Renah Indojati menjadi kabupaten sendiri dan terpisah dari Kabupaten Pesisir Selatan. Dengan Ibu kota Kabupaten berada di Bukit Buai, Nagari Bukit Buai Tapan, Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan.[4]