Penggunaan aksara Ra sama dengan penggunaan Ra (Dewanagari: र) dalam abjadbahasa Sanskerta. Dalam sistem penulisan dengan aksara Bali, Ra digunakan pada kata-kata yang mengandung bunyi /r/, baik dari bahasa Bali, maupun bahasa non-Bali. Selama Ra tidak dibubuhi oleh pangangge suara, maka Ra dibaca "ra" (lafal: /rə/).
Selain itu, Ra memengaruhi aksara Na kojong yang mengikutinya. Bila ada aksara Na kojong dari warga Dantya (konsonan dental) yang mengikutinya, maka aksara tersebut patut diganti menjadi aksara warga murdhanya (konsonan retrofleks), yaitu Na rambat. Sebab, menurut aturan tradisional, bunyi /r/ (Ra) dan /ɳ/ (Na rambat) sama-sama merupakan warga murdhanya, diucapkan dengan menyentuh langit-langit keras, sedangkan bunyi /n/ (Na kojong) diucapkan dengan menyentuh gigi. Contohnya (dalam bahasa Bali): warna, karna, rena, dll.
Ra tidak boleh diberi tanda pepet bila ingin menulis kata yang berbunyi /rə/. Untuk menulis kata yang mengandung bunyi /rə/, misalnya kata "rebut", maka digunakanlah huruf Ra repa. Hal ini dianjurkan karena menurut aturan sistem penulisan aksara Bali, bunyi /rə/ termasuk vokal, bukan bunyi konsonan.