Artikel atau bagian ini sedang dalam perubahan besar untuk sementara waktu. Untuk menghindari konflik penyuntingan, dimohon jangan melakukan penyuntingan pada halaman ini selama pesan ini ditampilkan.
Halaman ini terakhir disunting pada 11.00, 4 Juni 2026 (UTC) (80 detik lalu)– (hapus singgahan). Pesan ini dapat dihapus jika halaman ini sudah tidak disunting dalam beberapa jam. Jika Anda adalah penyunting yang menambahkan templat ini, harap diingat untuk menghapusnya setelah selesai atau menggantikannya dengan {{Akan dikerjakan}} di antara masa-masa menyunting Anda.
Quintus Fabius Maximus Verrucosus
Fabius Cunctator, patung yang dibuat oleh J. B. Hagenauer, 1777, di Istana Schönbrunn, Wina
Quintus Fabius Maximus Verrucosus, dijuluki Cunctator (c. 280 — 203 SM), adalah negarawan Romawi dan jenderal dari abad ketiga SM. Dia menjabat sebagai konsul sebanyak lima kali (233, 228, 215, 214, dan 209 SM) dan ditetapkan sebagai diktator di 221 dan 217 SM. Agnomennya, Cunctator, biasanya diterjemahkan sebagai "penunda", mengacu pada strategi yang dia gunakan untuk melawan pasukan Hannibal selama Perang Punisia Kedua. Menghadapi seorang komandan ulung dengan jumlah pasukan yang lebih unggul, ia menerapkan strategi yang saat itu masih baru, yaitu menargetkan jalur pasokan musuh, dan hanya menerima pertempuran kecil di medan yang menguntungkan, daripada mempertaruhkan seluruh pasukannya dalam konfrontasi langsung dengan Hannibal sendiri. Akibatnya, ia dianggap sebagai pencetus banyak taktik yang digunakan dalam perang gerilya.[1]
Kehidupan awal
Verrucosus lahir di Roma c. 280 SM, dan merupakan keturunan dari gens Fabia. Ia adalah anak atau cucu[i] dari Quintus Fabius Maximus Gurges, tiga kali konsul dan princeps senatus, dan Verrucosus adalah cucu atau cicit dari Quintus Fabius Maximus Rullianus, pahlawan dalam Pertempuran Samnit, yang seperti Verrucosus ditetapkan sebagai konsul lima kali, dan juga sebagai diktator dan sensor. Banyak leluhur sebelumnya juga pernah ditetapkan sebagai konsul. Kognomennya, Verrucosus, diterjemahkan sebagai "berkutil", digunakan untuk membedakannya dari anggota-anggota keluarganya yang lain, berasal dari kutil di bibir bagian atasnya.
Menurut Plutarkhos, Verrucosus memiliki sifat lembut dan berbicara dengan lambat. Sebagai seorang anak, ia belajar dengan giat, berhati-hati dalam olahraga dan tampak seperti pemalu. Secara dangkal, ia tampak malang, tetapi Plutarkhos menilai ini sebagai sifat-sifat bijaksana dan pikiran teguh.[2][3]
Karier
Meskipun Verrucosus masih muda pada 265 SM, ia dijadikan augur.[4] Tidak diketahui jika dia berpartisipasi dalam Perang Punisia Pertama, perang diantara Republik Romawi dan Kartago dari 264 ke 241 SM atau tidak. Karier politik Verrucosus mulai pada tahun-tahun pasca perang. Ia mungkin quaestor pada 237 atau 236 SM, dan curule aedilis sekitar 235 SM.[5] Pada waktu Verrucosus pertama kali ditetapkan sebagai konsul pada 233 SM, ia diberikan pawai kemenangan Romawi atas kemenangannya melawan Suku Liguria, yang kemudian diusir ke pegunungan Alpen. Ia merupakan sensor pada 230 SM, dan konsul lagi pada 228 SM.[6]
Menurut Livy, pada 218 SM, Verrucosus dikirim ke Kartago untuk menuntut agar kota yang ditaklukan Kartago, yaitu Saguntum di Hispania diperbaiki. Kemudian ia menuntut agar Hannibal dan para perwiranya diserahkan kepada pihak Romawi sebagai tahanan. Senat Kartago menolak, sehingga Verrucosus memegang kedua ujung dari toganya, satu ujung mewakili perdamaian, satunya lagi mewakili perang. Verrucosus membiarkan Senat Kartago untuk memilih, tetapi mereka menyuruhnya untuk memilih.[7] Setelah delegasi menerima balasan dari pihak Kartago, Verrucosus sendirilah yang mendeklarasikan perang antara Kartago dan Republik Romawi secara resmi.[8] Namun, Cassius Dio, bersama dengan Joannes Zonaras, memanggil duta besar Marcus Fabius, menyarankan bahwa merupakan sepupunya, yaitu Marcus Fabius Buteo, yang mendeklarasikan perang secara resmi.[9]
Perang Punisia Kedua
Quintus Fabius Maximus Verrucosus di hadapan Senat Kartago.
Ketika konsul Tiberius Sempronius Longus kalah di Pertempuran Trebia pada Desember 218 SM, Verrucosus menyarankan agar pasukan Romawi menunggu saat yang tepat dan menolak untuk melawan Hannibal ketika bertemu, alih-alih membiarkan invasi mereda seraya memastikan kota-kota sekutu Italia mereka aman. Namun, konsul Gaius Flaminius menentang rencananya dan bergabung dengan Gnaeus Servilius Geminus dalam mengerahkan dua bala tentara untuk menghadapi Hannibal di Italia tengah. Rencana Flaminius berakhir ketika Flaminius dibunuh dalam Pertempuran Trasimene pada 217 SM, dimana Republik Romawi kalah. Ini menyebabkan ketakutan di seluruh kota Roma.
Karena dua bala tentara dihancurkan dalam pertempuran tersebut, dan Hannibal semakin dekat dengan gerbang kota Roma, orang Romawi takut akan kehancuran kota mereka. Senat Romawi memutuskan untuk menunjuk diktator, dan memilih Verrucosus, mungkin kedua kalinya, meskipun bukti dari masa jabatan sebelumnya bertentangan, sebagian karena pengalamannya. Namun, Verrucosus tidak dibolehkan untuk menunjuk Magister equitum sendiri; alih-alih, orang Romawi memilih musuh politik, yaitu Marcus Minucius Rufus.
Verrucosus berusaha untuk menenangkan orang Romawi dengan menegaskan bahwa dirinya adalah diktator yang kuat, di krisis yang dipersepsikan sebagai yang terburuk di sejarah Romawi. Ia meminta Senat agar ia diizinkan untuk menunggang kuda, sesuatu yang tidak pernah dibolehkan bagi diktator. Ia ditemani oleh sejumlah besar liktor, dan memerintahkan konsul yang selamat, yaitu Gnaeus Servilius Geminus, untuk membubarkan para liktor (pada intinya, mengakui senioritas diktator), dan menghadap Verrucosus sebagai warga negara biasa.
Verrucosus menghargai kejeniusan militer Hannibal, sehingga menolak untuk menghadapnya dengan langsung di dalam pertempuran sengit. Alih-alih, ia menempatkan pasukannya di dekat Hannibal, berharap untuk membuatnya lelah dalam perang atrisi. Verrucosus berhasil untuk mengganggu kelompok pencari makanan Kartago, melemahkan kemampuan Hannibal untuk menimbulkan kehancuran seraya menjaga kelestarian pasukannya sendiri, dan menerapkan praktik bumi hangus untuk mencegah pasukan Hannibal mendapatkan beras dan sumber daya lainnya.
↑Livy mengidentifikasi Verrucosus sebagai anak dari Gurges dan cucu dari Rullianus, tetapi Plinius Tua dan Plutarkhos memanggilnya cicit dari Rullianus. Ilmu pengetahuan modern menganggap bahwa dia mungkin adalah cucu dari Gurges, meskipun identitas ayahnya belum pasti. Ia mungkin anak dari Quintus Fabius Maximus Gurges, konsul pada 265 SM, atau Quintus Fabius, curule aedile pada 267 SM. Secara tradisional, Gurges, konsul pada 265 SM telah dianggap sebagai orang yang sama yang telah menjadi konsul pertama kali pada 292 SM, dan lagi di 276 SM, dalam hal ini Livy mungkin benar; tetapi beberapa sarjana berpendapat bahwa Gurges yang merupakan konsul pada 265 SM adalah anak dari konsul pada 292 SM and 276 SM; aedile pada 267 SM mungkin adalah saudaranya atau kerabatnya.