Puthu Lanang merupakan kuliner tradisional atau salah satu jajan pasar yang terbuat dari tepung beras, gula merah, dan parutan kelapa.[1][2] Puthu Lanang dimasak dengan cara dimasukkan dalam bambu dan kemudian diletakkan di atas kukusan. Puthu Lanang memiliki warnanya yang hijau (warna tersebut berasal dari daun pandan sebagai pewarna alami)[3], dengan ditambahkan gula merah asli tanpa dicampur apapun, serta memiliki tekstur yang kental dan manis (legit) dengan itu parutan kelapa yang segar.
Puthu Lanang sendiri dikenal di kalangan masyarakat Malang Raya hingga luar kota. Sejak awal dikenalkan pada tahun 1935, Ibu Supiah dan sang suami Abdul Jalal berjualan puthu dengan berkeliling di sekitar rumah. Makanan ini awalnya dikenal dengan nama Puthu Celaket. Awalnya, nama kedai ini adalah Puthu Celaket karena lokasinya di kawasan Celaket atau Claket.[2][4] Karena semakin lama semakin terkenal, banyak yang kemudian menggunakan nama yang sama, warung puthu milik Supiyah ini kemudian memiliki hak paten dan beralih nama menjadi Puthu Lanang pada tahun 2003.[2][4] Istilah lanang (laki-laki) digunakan untuk membedakan makanan ini dari Puthu Ayu.
Proses pembuatan Puthu Lanang ini dimulai dari adonan tepung beras, kelapa, dan gula merah dicetak dalam bumbung atau potongan bambu. Kemudian, dikukus dalam kukusan panas kurang lebih 3 hingga 5 menit hingga matang. Setelah itu, barulah ditaburi dengan taburan kelapa parut.[3]
Puthu Lanang tidak hanya digemari oleh masyarakat Malang, mantan Presiden Soeharto pun pernah mengundang Siswoyo (anak Ibu Supiah) langsung ke kediamannya untuk membuatkannya kue puthu sebanyak dua kali sekitar tahun 1980-an. Selain itu banyak orang Belanda dan Jepang yang dulu pernah di Malang juga menggemari Puthu Lanang ini.[2]
Lokasi berjualan Warung Puthu Lanang masih sama dan tidak berubah sejak awal berdiri, yaitu di sebuah gang yang berada di Jl. Agung Suprapto No. 73, RT.03, Samaan, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur.[4]
Cara penyajian Puthu Lanang ini memiliki bentuk penyajian yang beragam, dari bentuk klasik hingga sentuhan kreatif seperti:
Puthu Lanang Klasik: dibungkus dengan daun pisang dan menjadi favorit banyak orang, karena daun pisang memberikan aroma alami yang membuat kuliner ini klasik ini lebih hidup.
Puthu Lanang Kukus dengan Taburan Kelapa Parut: Kelapa parut bukan hanya menjadi hiasan, tetapi menambah tekstur yang renyah dan lembut.
Puthu Lanang Mini Warna-warni: selain tampilannya yang dapat menarik mata, setiap warna memiliki rasa yang berbeda, namun tetap mempertahankan inti manis gula merah.
Puthu Lanang Versi Panggang: menawarkan sensasi tekstur yang lebih renyah di luar namun tetap lembut di dalam.
Puthu Lanang Modern dengan Siraman Saus: menawarkan hidangan yang lebih modern dengan siraman saus, bisa berupa cokelat, karamel, atau gula kelapa cair yang tampilannya makin menggoda.[5]
Referensi
↑Asmawan, Fery Andri (2018). "PERANCANGAN BUKU ILUSTRASI DIGITAL PAINTING CULINARY EXPERIENCE OF MALANG SEBAGAI UPAYA MENDUKUNG POTENSI KULINER LEGENDARIS DI KOTA MALANG". Tugas Akhir: SEKOLAH TINGGI INFORMATIKA & KOMPUTER INDONESIA MALANG.