Sejarah
Penggunaan nama Lembaga Eijkman
Pada tahun 1938, bertepatan dengan peringatan 50 tahun berdirinya institusi ini, nama Lembaga Eijkman mulai digunakan sebagai bentuk penghargaan terhadap Christiaan Eijkman.[2] Christiaan Eijkman meraih hadiah Nobel di bidang kedokteran pada tahun 1929 atas penelitiannya tentang penyakit beri-beri yang disebabkan oleh kekurangan senyawa yang terdapat pada kulit beras, sebuah konsep yang menjadi cikal-bakal penemuan vitamin.[6]
Sejak tahun 1938, Lembaga Eijkman dipimpin oleh Prof. Dr. Achmad Mochtar hingga kematiannya pada tahun 1945 akibat hukuman pancung oleh tentara Jepang untuk menyelamatkan peneliti-peneliti di institusinya yang dituduh mencemari vaksin tetanus.
[7] Dr. Achmad Mochtar adalah orang Indonesia pertama yang menjabat posisi sebagai direktur Lembaga Eijkman.[7]
Penutupan Lembaga Eijkman
Akibat pergolakan ekonomi dan politik Indonesia pada tahun 1960-an, Lembaga Eijkman ditutup dan digabungkan dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo.[2]
Revitalisasi Lembaga Eijkman
Tiga dekade kemudian pada bulan Desember 1990, dalam rangka memperingati satu abad penemuan defisiensi vitamin B1 sebagai penyebab beri-beri oleh Christian Eijkman, B.J. Habibie yang kala itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi memutuskan untuk membuka kembali Lembaga Eijkman.[8][2] Lembaga Eijkman secara sah dihidupkan kembali pada Juli 1992.[8] Laboratorium mulai beroperasi pada April 1993 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 19 September 1995.[8] Lembaga Eijkman pada era baru dipimpin oleh Profesor Sangkot Marzuki sejak tahun 1992 hingga tahun 2014. Tahun 2014 hingga 2021, jabatan Direktur Lembaga Eijkman dipegang oleh Amin Soebandrio.
Badan Riset dan Inovasi Nasional
Pada September 2021, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman atau Lembaga Eijkman diintegrasikan dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional sebagai Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman, Organisasi Riset Kesehatan.