Mayoritas penduduk bersuku bugis yang sudah tinggal secara turun temurun hingga sekarang di keturunan kelima. Profesi yang banyak dilakukan penduduk adalah nelayan, petambak ikan dan udang. Saat ini hanya tersisa 25 KK yang bertahan di pulau ini dikarenakan banyak penduduk yang pindah dan juga pulau ini ditetapkan sebagai kawasan konservasi oleh Departemen Kehutanan. Namun sejak 11 Oktober 2019, status pulau ini sudah berubah menjadi Taman Wisata Alam [1]
Di sisi timur dan barat pulau terdapat perkebunan karet, mangga dan rambai milik warga.[2]
Sejarah
Pulau ini diceritakan bermula dari sebuah karang di tengah laut. Namun ada ular sawa berukuran besar yang hanyut dan mati di karang tersebut. Awalnya terjadi perkelahian antara buaya dan ular sawa di muara sungai Batulicin.[3] Lama kelamaan bangkai ular tersebut membusuk dan tertimbun oleh ranting, sampah tanaman dan kotoran burung yang jatuh di atasnya hingga terbentuklah pulau Suwangi seperti sekarang.[4]
Sehingga orang-orang menamakan pulau ini Sawangi, yang berarti ular 'Sawa' tersebut menjadi 'wangi' setelah menjadi pulau.[3]
Akses
Pulau ini hanya berjarak 5 menit dari daratan utama pulau Kalimantan menggunakan speedboat.[2]
Sarana dan prasarana
Pulau ini dilengkapi dengan tiga dermaga dan satu mercusuar yang masih aktif di sisi timur pulau. Tidak ada sarana pendidikan dan kesehatan di pulau ini, sehingga warga harus menyebrang dari luar pulau untuk kedua urusan tersebut. Untuk penerangan mengandalkan genset milik individu dan lampu teplok.[2]
Pulau Suwangi memiliki air tawar yang melimpah dengan produksi 40 m3 per hari [5] dan dijadikan salah satu mata pencaharian warga saat musim kemarau untuk dijual ke luar pulau.[2]
Atraksi wisata
Pulau Suwangi memiliki tradisi budaya bernama pesta adat Ade Massorong.[6] Adat selamatan kampung ini berupa sedekah laut yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali di bulan Muharam. Masyarakat akan membuat perahu mini berukuran 100 x 40cm sebagai tempat sesaji berupa makanan yang akan di lepas ke tengah sungai. Hal ini merupakan simbol rasa syukur kepada Tuhan yang maha esa atas tangkapan para nelayan dan sebagai harapan untuk keselamatan dalam bekerja.
1234Batubara, Rido Miduk Sugandi (2015). Kalimantan Selatan: Antara Laut Jawa dan Selat Makassar. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. hlm.8–9. ISBN978-979-709-854-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)