Masyarakat Pulau Runduma memiliki keterkaitan sejarah yang erat dengan Kesultanan Buton. Berdasarkan catatan sejarah lokal, penduduk asli Runduma secara sosiologis berasal dari kelompok Kadie Timu. Pada sekitar tahun 1800 Masehi, seorang tokoh agama bernama Langgui diutus oleh Kesultanan Buton untuk menetap di pulau ini. Selain itu, masyarakat Runduma juga memiliki identitas sebagai keturunan Suku Bajo, etnis maritim yang secara historis merupakan pengembara laut yang kemudian menetap di pulau tersebut.
Infrastruktur dan Aksesibilitas
Sebagai salah satu wilayah terluar di Kabupaten Wakatobi, Pulau Runduma menghadapi tantangan pembangunan struktural yang signifikan. Infrastruktur dasar seperti listrik masih menjadi kendala utama; sejak tahun 2022, pasokan listrik di pulau ini sering mengalami gangguan teknis yang menghambat aktivitas ekonomi warga.
Dalam sektor transportasi dan kesehatan, letak geografis yang terisolasi menyebabkan biaya hidup dan layanan darurat menjadi sangat tinggi. Untuk mendapatkan layanan medis lanjutan di Pulau Tomia atau Wangi-Wangi, warga harus menyewa kapal (carter) dengan biaya berkisar antara Rp5.000.000 hingga Rp6.000.000 per perjalanan. Kondisi ini menempatkan Runduma dalam kategori wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Terabaikan) di Indonesia.
Konservasi Lingkungan
Pulau Runduma merupakan salah satu habitat peneluran penting bagi Penyu hijau (Chelonia mydas) di kawasan Taman Nasional Wakatobi. Hubungan antara masyarakat lokal dengan ekosistem laut sangat dipengaruhi oleh pengetahuan tradisional dan upaya konservasi berbasis komunitas, meskipun tekanan ekonomi dan keterbatasan akses terhadap sumber daya menjadi tantangan dalam pelestarian lingkungan di wilayah tersebut.