Untuk mengelola dan mengawasi pulau Pasoso, pemerintah memercayakan kepada Pak Ahmad yang tinggal di pulau ini bersama dengan keluarganya.[2]
Penamaan
Nama pulau Pasoso berasal dari bahasa Kaili yang berarti 'mengisap telur penyu', mirip dengan bahasa Bajo yang juga artinya adalah sosot-mensosot atau 'diisap telur penyu'. Hal ini berasal dari perebutan telur penyu oleh penghuni pulau sampai menimbulkan pembunuhan.[3]
Akses
Pulau Pasoso dapat ditempuh melalui beberapa jalur. Jalur utama adalah melalui desa Tambu di kecamatan Balaesang yang berjarak 108km di utara kota Palu. Selanjutnya perjalanan akan dilanjutkan dengan perahu motor selama satu jam. Jalur lainnya adalah dari Tanjung Karang dan merupakan jalur pariwisata.[3]
Gugusan pulau
Terdapat satu pulau kecil yang terletak tidak jauh dari pulau Pasoso bernama pulau Batu, yang dalam bahasa Bajo disebut juga Pulau Paguliang atau 'batu yang berguling'. Pulau ini berasal dari batuan yang longsor dari gunung dan oleh karena gempa terpotong dari pulau utama sehingga membentuk pulau kecil berukuran 3,1 ha.[3]
Selain itu, pulau Pasoso juga merupakan habitat alami bagi kepiting kenari.[5]
Untuk keanekaragaman kupu-kupu di Pulau Pasoso memiliki indeks sedang. Hal ini dikarenakan adanya dukungan berupa tumbuhan pakan dan tumbuhan inang kupu-kupu di Pulau Pasoso yang melimpah seperti Bunga tahi ayam, Mengkudu, Justicia sp., Neonauclea sp., Jambu-jambuan., Vehitchia merillii (Palm), Kelapa, Sukun., Beringin., Pohpohan, Semecarpus forstenii dan Chassalia sp. Adapun kupu-kupu yang ditemukan berkelompok adalah jenis Arhopala araxes, Catochrysops strabo, Catopsilia pomona, Hypolimnas anomala, Idea blanchardii dan kupu-kupu yang termasuk kategori punah ialah jenis Apias albina, Tajuria sp., Ideopsis juventa dan Phalanta alcippe celebensis.[6]
123Batubara, Rido; Yusuf, Muhammad; Sidqi, Muhandis; Sinaga, Simon; YB, Anang (2014). Laut Sulawesi dan Selat Makassar, Sulawesi Tengah. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. hlm.23–41. ISBN978-979-709-588-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)