Pulau Gebe pertama kali diberi nama sekitar tahun 1700-an. Namanya berasal dari perjalanan seorang sultan dari Kesultanan Tidore yang bertujuan untuk memperluas wilayahnya ke Kepulauan Raja Ampat. Pada saat itu, wilayah Kesultanan Tidore meliputi bagian tengah hingga selatan Pulau Halmahera. Saat beristirahat untuk menghilangkan kelelahan perjalanan, rombongan Kesultanan Tidore melihat sebuah pulau di sebelah utara tempat istirahat mereka. Salah satu anggota rombongan berseru dalam bahasa Tidore, "kie...!", yang artinya "ada sebuah pulau", kemudian anggota rombongan lainnya menjawab, "bei...?", yang artinya "di mana". Anggota pertama rombongan itu kemudian menjawab lagi dengan seruan "ge...!". Dari jawaban ini, nama "Gebe" yang berarti 'pulau itu' mulai digunakan untuk menamai Pulau Gebe.[1]
Geografi
Pulau Gebe terletak di bagian timur Kabupaten Halmahera Tengah. Lokasinya berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Raja Ampat, yaitu Pulau Gag.[2] Pulau Gebe adalah bagian dari gugusan pulau-pulau bersama dengan Pulau Fau, Pulau Yu (Yoi), Pulau Uta, dan Pulau Sain.
Pulau ini terletak di arah barat laut-tenggara. Di beberapa bagian pulau ini, terdapat sejumlah tanjung, yaitu di barat laut terdapat Tanjung Safa, sedangkan di selatan terdapat Tanjung Elingejo, Tanjung Magnonapo, dan Tanjung Ngetalngejo. Garis pantai Pulau Gebe di bagian timur laut lebih landai dibandingkan dengan kondisi garis pantai di bagian barat daya.
Di tengah Pulau Gebe terletak Bukit Elfanoen (Elfanun), dengan ketinggian 450 mdpl. Bagian selatan bukit ini membentuk tanjung yang luas, yaitu Tanjung Oeboelie. Bagian selatan Pulau Gebe juga melebar, yaitu antara Toeli Kalio hingga batas tenggara.
Terdapat dua area luas, yaitu Bukit Elfanoen dengan lebar 6 km dan sekitar area Toeli Kalio dengan lebar 6,8 km. Pulau Fau yang terletak di depan desa Kapaleo dengan luas 4,6 km2, hampir seluruh wilayah desa ini mengandung deposit nikel.[3]
Penduduk
Pulau Gebe dihuni oleh sekitar 5.000 jiwa, sebagian besar adalah penduduk asli yang dikenal sebagai suku Gebe, sebagian lainnya adalah imigran, terutama pekerja Aneka Tambang (Antam), kebanyakan orang Weda, Patani, Tobelo, tetapi juga kelompok etnis lain, terutama suku Jawa dan Bugis. Sebagian besar penduduk asli Gebe mencari nafkah sebagai nelayan dan pengolah kopra, sementara sebagian kecil bekerja sebagai pedagang dan karyawan di perusahaan Aneka Tambang. Populasi Pulau Gebe meningkat selama masa keemasan eksploitasi nikel oleh perusahaan Aneka Tambang (Antam) karena kedatangan karyawan dari luar Pulau Gebe. Namun, sejak tahun 2007, para karyawan Antam mulai pindah karena cadangan dan produksi nikel di Pulau Gebe menurun. Perumahan yang awalnya dibangun khusus untuk karyawan Antam kemudian disediakan untuk warga melalui pemerintah daerah. Hampir seluruh bekas perumahan karyawan Antam ditempati oleh penduduk asli Pulau Gebe.
Transportasi
Pulau Gebe memiliki fasilitas transportasi yang menghubungkannya dengan Kota Ternate dan Kota Sorong melalui jalur laut dan jalur udara. Akses menuju Pulau Gebe dari Kota Ternate dapat melalui layanan kapal perintis atau dengan waktu tempuh sekitar satu hari melalui laut. Transportasi menggunakan kapal perintis hanya tersedia satu atau dua kali dalam seminggu. Sementara itu, transportasi dari Pulau Gebe ke Kota Ternate dapat dilakukan dengan pesawat yang dioperasikan oleh Susi Air. Penerbangan beroperasi setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat. Transportasi dari Pulau Gebe ke Kota Sorong tersedia setiap hari Rabu. Selain itu, transportasi ke kedua kota dari Pulau Gebe dapat dilakukan melalui kapal laut Kie Raha atau kapal kargo kayu.