Pada tahun 2007 penduduk yang menghuni pulau ini tercatat berjumlah 687 jiwa yang terdiri dari 335 laki-laki dan 352 perempuan (PMU Coremap II Kabupaten Pangkep, 2007). Mereka umumnya beretnis Mandar, Bugis, dan Makassar.
Ekosistem dan sumberdaya hayati
Pulau Doang-Doangan Lompo bersama dengan dua pulau lainnya (Pulau Togotogo I dan Pulau Togotogo II) termasuk dalam wilayah Desa Doang-Doangan Lompo. Terumbu karang yang bertipe fringing reef atau terumbu karang tepi tersebar merata di semua sisi pulau. Pertumbuhan karang-karang bercabang, seperti Acropora, Porites, Montipora, Acropora, Porites, dan Goniastrea umum ditemukan. Di samping itu, karang-karang masif, seperti Porites lutea, Favia dan Favites tumbuh di bagian atas terumbu mendekat di darag tubir terumbu. Terumbu karang umumnya dalam kondisi yang rusak. Akibatnya perkembangan biota laut seperti sponge dan algae tumbuh dengan baik tetapi tidak melimpah. Tingginya hancuran karang mati dan karang mati tertutup algae menjadi indikasi intervensi manusia dalam pengrusakannya. Biota asosiasi lain yang bisa ditemukan bulu babi (Diadema setosum), ubur-ubur, kerang kima (Tridacnidae).
Aktivitas pengelolaan sumberdaya
Ketergantungan warga pada sumber daya alam terutama laut tecermin dari aktivitas mata pencaharian yang mereka lakukan, yakni kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap ,seperti pukat/jaring, bilah, bubu, pancing rawai, pancing, dan kompresor, serta pengambilan telur ikan torani. Beberapa warga menanam rumput laut jenis Euchema di pantai, sebagian lainnya mengambil kayu bakau untuk diolah menjadi arang lalu dijual ke Kota Makassar. Komoditas-komoditas tersebut lalu dijual kepada pedagang pengumpul yang kemudian mengangkutnya dengan kapal berkapasitas antara 10 dan 15 ton ke kota dan menjualnya disana. Kegiatan penangkapan ikan yang mereka lakukan umumnya berlangsung di perairan sekitar pulau dengan menggunakan jolloro. Beberapa warga yang memiliki kapal berkapasitas besar melakukan penangkapan ke perairan yang agak jauh seperti di wilayah Liukang Tangaya terutama pada saat musim telur torani (ikan terbang).
Sarana dan prasarana
Sarana pelayanan kesehatan yang terdapat di pulau ini berupa satu unit Pustu, sedangkan sarana pendidikan masih sangat minim karena hanya ada sebuah SD, sehingga warga yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi harus meninggalkan pulau ke ibu kota kecamatan, Makassar, Pangkajene, atau Kalimantan. Pelayanan listrik umum di daerah ini disuplai oleh mesin generator pembangkit listrik milik PLN yang berfungsi pada mulai pukul 18.00 sampai 22.30 WITA, sedangkan kebutuhan air tawar bersih warga dipenuhi dengan adanya sumur-sumur kecil yang digali disekitar pemukiman mereka.
↑Direktorat Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil, Ditjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (2012). "Direktori Pulau-Pulau Kecil Indonesia". www.ppk-kp3k.kkp.go.id. Diakses tanggal 30 September 2022. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)