Ptolemaios I Epigonos[1] (bahasa Yunani:Πτολεμαίος ὁ ἐπίγονοςcode: el is deprecated Ptolemaios Epigonos, Epigonos yakni Pewaris,[2] 299/298 SM[3]–Februari 240 SM[4]) adalah seorang Pangeran Yunani dari Asia Kecil, keturunan Makedonia dan Thessalia.
Ptolemaios I adalah putra pertama[5] dari Lysimakhos dan Arsinoe II, memiliki dua orang adik yakni Lysimakhos (putra Lysimakhos) dan Filipus (putra Lysimakhos).[5]
Ayahnya, Lysimakhos sebagai salah satu DiadokhoiAleksander Agung, Raja Trakia, Asia Kecil dan Makedonia.[6] Kakek dari pihak ayahnya (ayah Lysimakhos) adalah Agathokles (bahasa Yunani:Ἀγαθοκλῆςcode: el is deprecated ), seorang bangsawan Yunani yang seangkatan dengan FilipusII dan Nenek dari pihak ayahnya (ibu Lysimakhos) adalah seorang wanita yang tidak diketahui namanya, tetapi diperkirakan bernama Arsinoe. Dari pernikahan Lysimakhos sebelumnya dengan selir Odrisia, PtolemaiosI memiliki dua orang kakak tiri laki-laki yakni Agathokles (putra Lysimakhos)[7] dan Alexandros (putra Lysimakhos)[8] serta dua orang kakak tiri perempuan bernama Eurydike,[7]Arsinoe I[7] dan mungkin kakak perempuan lain yang tidak diketahui namanya, diperkirakan istri dari Ptolemaios Keraunos.[9][10]
Ibu PtolemaiosI, ArsinoeII adalah seorang Putri Ptolemaik yang menikah dengan suami pertamanya dan sebagai istri ketiga Lysimakhos.[11] Ia adalah putri kandung PtolemaiosI Soter dengan BerenikeI dan Kakak dari FiraunPtolemaiosII. PtolemaiosISoter juga sebagai salah satu Diadokhoi yang kelak mendirikan Dinasti Ptolemaik di Mesir Kuno dan BerenikeI adalah keponakan dari seorang penguasa wilayah yang sangat berpengaruh, Antipatros. Ptolemaios adalah nama Kakek dari pihak ibu dan merupakan cucu pertama yang lahir dari PtolemaiosISoter dan istrinya BerenikeI.
Kehidupan awal
Koin dengan potret ArsinoeII (dicetak pada masa pemeritahan PtolemaiosII)
PtolemaiosI lahir dan dibesarkan di Efesos, kelak kota ini pindah ke pemukiman baru berjarak sekitar dua kilometer dari tempat asalnya, karena wabah penyakit Malaria.[12] Kemudian nama kota berganti menjadi Arsinoe (bahasa Yunani Kuno:Ἀρσινόηcode: grc is deprecated [13][14] atau Ἀρσινόεια[15] atau Ἀρσινοΐα[16]) yang dinamai dari ArsinoeII, ibu PtolemaiosI.[17] Pada tahun 282 SM, ArsinoeII menuduh kakak tirinya Agathokles (putra Lysimakhos) melakukan pengkhianatan dan di eksekusi atas perintah Lysimakhos. Kemudian istrinya Lysandra beserta anak-anaknya melarikan diri ke Babilon menemui SeleukosI. Lalu SeleukosI memanfaatkan perseteruan pahit suksesi Dinasti ini sebagai kesempatan untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Pada tahun 281 SM, SeleukosI berhasil mengalahkan Lysimakhos dalam Pertempuran Kurupedion, lalu memasukkan Asia kecil dan Trakia kedalam wilayah Kerajaannya.[6][17]
Ibunya hanya memegang kendali atas wilayah Aegea, bagian dari wilayah Kerajaan ayahnya. Setelah kematian Lysimakhos, ArsinoeII dan putranya melarikan diri ke Kassandreia, kemudian menikah dengan kakak tirinya Ptolemaios Keraunos dalam upayanya untuk melindungi kedaulatan PtolemaiosI atas Kerajaan ayahnya.[17] Ptolemaios Keraunos tinggal dalam wilayah Kerajaan Lysimakhos sebagai orang dalam pengasingan politik dan sebelum menikah dengan ArsinoeII, ia membunuh SeleukosI untuk mendapatkan kekuasaan atas bekas pelindungnya tersebut. Kemudian ia bergegas ke Lismakeia (Trakia), di mana ia dinyatakan sebagai Raja oleh sebagian besar tentara Makedonia.[18]
Persatuan antara ArsinoeII dengan Ptolemaios Keraunos adalah murni karena alasan politis sebagaimana mereka berdua mengklaim atas takhta Makedonia, Trakia dan pada saat kematian ayah PtolemaiosI, wilayah kekuasaannya meluas hingga ke Yunani selatan. Pernikahan ArsinoeII dengan kakak tirinya bukanlah pernikahan yang bahagia. Melalui pernikahannya dengan ArsinoeII, posisi politik Ptolemaios Keraunos menjadi semakin kuat sehingga ArsinoeII melakukan konspirasi dengan putra-putranya untuk melawannya. Ptolemaios Keraunos dengan cepat membalas sikap tersebut dengan merebut Kassandreia dan membunuh kedua adik PtolemaiosI, Lysimakhos (putra Lysimakhos) dan Filipus (putra Lysimakhos), tetapi ArsinoeII dan PtolemaiosI berhasil melarikan diri.
Upaya klaim takhta Makedonia
ArsinoeII melarikan diri menemui adiknya PtolemaiosII di Mesir untuk meminta perlindungan dari Ptolemaios Keraunos. Pemerintahan singkat Ptolemaios Keraunos berakhir pada tahun 279 SM, saat ia ditangkap dan dibunuh dalam invasi Galia ke Balkan yang dipimpin oleh Bolgios yang melakukan serangkaian serangan massal ke daratan Yunani.[18] Pada saat itu PtolemaiosI adalah putra tertua Lysimakhos dan satu-satunya yang masih hidup.[19] Sebagai putra kandung dan pewaris Lysimakhos yang agung, sepertinya ia ditakdirkan untuk menjadi lebih dari sekadar anggota keluarga Kerajaan biasa, setelah pembunuhan kakak tirinya Agathokles (putra Lysimakhos).[20] Posisi barunya sebagai pewaris yang terlihat sebagai salah satu Kerajaan terbesar pada awal periode Helenistik tidaklah bertahan lama setelah kematian ayahnya Lysimakhos dan paman yang juga ayah tirinya Ptolemaios Keraunos yang membuat Kerajaannya secata total dibubarkan.
Sebagai dampak dari kematian Ptolemaios Keraunos, terjadi kekacauan di daratan Yunani. Dalam periode 279-277 SM, PtolemaiosI melarikan diri ke Illiria. Dengan dukungan dan bantuan Rajanya Monunius I, Upaya PtolemaiosI dalam memulihkan Makedonia tidak membuahkan hasil dan upaya kedua yang diperkirakan pada tahun 278 SM juga tidak berhasil.[21] Ia disebut sebagai salah satu penuntut dalam periode anarki setelah pemerintahan Sostenes.[22] Kekacauan tersebut berlangsung hingga AntigonosII berhasil mengalahkan Galia dalam pertempuran Lismakeia dekat Lismakeia, Trakia pada tahun 277 SM. Setelah kemenangannya, AntigonosII diakui sebagai Raja Makedonia dan kekuasaannya meluas hingga ke Yunani bagian selatan.
Wakil penguasa Kerajaan Ptolemaik
Koin emas PtolemaiosII dan ArsinoeII.
Setelah kegagalan atas upayanya dalam memulihkan Kerajaan Makedonia, PtolemaiosI akhirnya pergi ke Kerajaan Ptolemaik untuk tinggal dengan kerabatnya. PtolemaiosII lalu menikah dengan ArsinoeI dan memiliki dua orang putra, yakni Ptolemaios III dan Lysimakhos serta seorang putri Berenike.[19] Pada tanggal yang tidak diketahui antara tahun 279-274/3 SM, ArsinoeII tiba di Mesir, lalu kemungkinan membuat hasutan kepada adik iparnya ArsinoeI atas tuduhan persekongkolan untuk membunuh PtolemaiosII.[23] ArsinoeI dinyatakan bersalah oleh PtolemaiosII atas tuduhan persekongkolan tersebut. Kemudian PtolemaiosII menceraikan ArsinoeI dan mengasingkannya ke Qift di selatan Mesir.[23]
Ibu PtolemaiosI, ArsinoeII lalu menikah dengan adiknya PtolemaiosII.[18] ArsinoeII meninggal pada tanggal yang tidak diketahui antara bulan Juli 270-260 SM. Dalam beberapa hal setelah kematian ArsinoeII, PtolemaiosII secara legal menyatakan anak-anak ArsinoeII adalah anak-anak PtolemaiosII.[24]
Sejak upayanya untuk memulihkan dan memperoleh kembali takhta Makedonia hingga meninggalnya ArsinoeII, PtolemaiosI menghilang dari catatan sejarah. Berdasarkan gambar-gambar, tulisan, koin dan Papirus, PtolemaiosI dijadikan sebagai wakil penguasa Kerajaan Ptolemaik oleh PtolemaiosII.[25] Mungkin terdapat beberapa alasan terkait penunjukkan PtolemaiosI sebagai wakil penguasa yakni untuk membebaskannya dalam tugas-tugasnya, memiliki anak yang masih hidup dari ArsinoeII sebagai bantuan dalam mendukung Perang Kremonides yang dimulai saat penunjukkannya sebagai wakil penguasa.[26]
Tanggal paling awal yang terbukti atas penunjukkannya sebagai wakil penguasa bersama paman dan ayah angkatnya tersebut, dari catatan pada papirus tertanggal sejak bulan November 267 SM.[27] sementara tanggal terakhir dari rujukannya sebagai wakil penguasa, tertanggal 10 September 259 SM.[28] Terdapat kemungkinan bahwa PtolemaiosI bertunangan dengan kakak angkatnya Berenike.[29] PtolemaiosI ditampilkan sebagai orang dewasa dalam prasasti "The Great Mendes Stela" tertanggal 264/3 SM, di mana ia digambarkan mengenakan mahkota perang Firaun, yang menunjukkan bahwa ia berperan aktif dalam kehidupan istana dan kelak dalam urusan militer. Pemakaian mahkota tersebut mengungkapkan dan memberikan pernyataan yang signifikan, karena digunakan sebagai simbol penobatan dan penerus Firaun yang sah.[26] Menurut bukti-bukti yang ada, PtolemaiosI dimaksudkan sebagai pewaris dan penerus PtolemaiosII.[26]
Pemberontakan dan kekuasaan atas Telmessos
Pada tahun 262/261 SM, PtolemaiosII mengutus PtolemaiosI ke kota Miletos di Asia Kecil, untuk mewakili Firaun dalam melaporkan situasi politik di kota tersebut kepada PtolemaiosII.[30] Pemimpin kota tersebut seorang zalim bernama Timarkhos. Atas suatu alasan yang tidak diketahui, PtolemaiosI dan Timarkhos memimpin pemberontakan terhadap PtolemaiosII pada tahun 259/258 SM. Terdapat kemungkinan bahwa PtolemaiosI memberontak, karena PtolemaiosII ingin PtolemaiosI menyerahkan kekuasaannya di Asia Kecil kepadanya. Pemberontakan PtolemaiosI dan Timarkhos tidak membantu perencanaan strategis PtolemaiosII di Asia Kecil,[31] karena pada tahun 258 SM, Timarkhos terbunuh oleh Raja SeleukiaAntiokhosII dalam perang Suriah kedua antara Kerajaan Ptolemaik dengan Kekaisaran Seleukia berakhir dengan kekalahan Ptolemaik termasuk penaklukan kota Miletos oleh AntiokhosII.[31]
Setelah pemberontakan berakhir pada tahun 258 SM, PtolemaiosII mungkin saja berdamai dengan PtolemaiosI[32] dan mungkin juga dapat memaafkannya karena kekhawatirannya akan kekuasaan Kekaisaran Seleukia yang semakin besar. PtolemaiosII mengakhiri pemerintahannya bersama PtolemaiosI dan melepaskan klaim apa pun yang dia miliki atas takhta Mesir.[33] Setelah kejadian ini, PtolemaiosII memberikan PtolemaiosI sebuah kota di Asia Kecil bernama Telmessos di Likia untuk memerintah dengan haknya dan mendirikan Dinastinya sendiri.[34] Sebelum di bawah kekuasaan Kerajaan Ptolemaik, Kota Telmessos berada di bawah kekuasaan mendiang ayah PtolemaiosI, Lysimakhos. Dengan demikian PtolemaiosI akan menjadi Raja pengekor dan memiliki Kerajaan pengekor atau Kerajaan klien untuk memerintah di bawah Kerajaan Ptolemaik. Sebuah prasasti yang masih ada tertanggal 258 SM, mengungkap kesepakatan yang dicapai oleh PtolemaiosI dengan pemerintah Mesir dan menandakan bahwa PtoleaiosII menjadikan PtolemaiosI pejabat Ptolemaik di wilayah tersebut dan diberikan tanah yang luas oleh Firaun.[34][35] PtolemaiosI memerintah sebagai Raja klien Ptolemaik di Telmessos, sejak akhir 258 SM hingga kematiannya bulan Februari 240 SM.
Makam batu Helenistik di Telmessos
Dalam pemerintahannya bersama dengan PtolemaiosII, terutama pemerintahannya di Telmessos, PtolemaiosI membangun kembali dan melanjutkan pemerintahan Dinasti Lysimakhos yang juga diketahui sebagai Ptolemaik/Lysimakhos di Likia.[36] Bukti-bukti sebagai berikut mengungkap bahwa PtolemaiosI berada dalam posisi semi otonom sebagaimana Kekaisaran Helenistik:
Ia tetap setia menjadi bawahan PtolemaiosII dan PtolemaiosIII.[37]
Ia merekomendasikan seorang philos atau teman sebagai kehormatan dan mengubah beban pajak Telmessos.[37]
Ia sepertinya yang menyebabkan bangsa Telmessos menerbitkan mata uang logam dengan jenis yang dipinjam dari koin ayahnya, Lysimakhos dan monogram (ΠΤ) yang mewakili namanya sendiri serta membuat dispensasi internal dalam lembaga-lembaga di Telmessos tanpa rujukan yang jelas bagi Raja Ptolemaiknya. Ia menjadikan satu Arkhon sebagai kepala pemerintahan kota, di mana sebelumnya kepala pemerintahan kota ini dipimpin oleh tiga Arkhon. Ia menjadikan seorang Imam sebagai eponim pejabat kehakiman (pengadilan), di mana posisi ini sebelumnya di pegang oleh Arkhon.[37]
Setelah ia meninggal, PtolemaiosI memiliki keturunan yang memerintah Telmessos.[37]
PtolemaiosI memiliki tingkat otonomi yang luar biasa dengan kelonggaran otoritas di bawah Firaun PtolemaikII.[2] PtolemaiosI telah meraih pengaruh yang besar di Telmessos dan kota-kota sekitarnya di wilayah tersebut, hingga namanya disebut dalam suatu pernyataan resmi, menghormati seorang Leimon putra Antipatros yang dikatakan sebagai seorang philos atau teman dari Ptolemaios,[38] yang disebut sebagai salah satu faktor penyebab atas pernyataan resmi tersebut.[37]
PtolemaiosI mengubah pembayaran menjadi satu per sepuluh apomeira atau retribusi dari hasil produksi atas balok-balok, gandum, biji-bijian, wijen, kacang-kacangan, tepung dan tanaman lainnya di Telmessos.[39] Ia juga memungut retribusi atas kebun buah-buahan dan pemanfaatan lahan padang rumput, perpajakan yang secara umum dijalankan oleh Ptolemaik di Mesir.[40] Tidak diketahui secara pasti berapa lama retribusi pertanian ini dijalankan dan melalui reformasi perpajakan ini, PtolemaiosI di hormati dalam suatu pernyataan resmi.[41] Reformasi perpajakan untuk Telmessos merupakan hal yang luar biasa bagi warga kota dan suatu perubahan besar dari rumitnya sistem perpajakan dan sewa, yang di berlakukan oleh PtolemaiosI juga dikenal di wilayah lain di Asia Kecil.[41]
Sebelum ia meninggal pada tahun 240 SM, PtolemaiosIII menghormati PtolemaiosI dalam suatu pernyataan resmi di kota dan memastikan bahwa kota tersebut masih diakui oleh otoritas Raja di Iskandariyah atas penanganan yang baik PtolemaiosI atas kota tersebut.[42] Ketika PtolemaiosI meninggal, sebuah prasasti kehormatan di dedikasikan untuknya tertulis Ptolemy son of Ptolemy and Arsinoe the Theoi Philadelphoi (saudara kandung penyayang Dewa).[4] Pada saat kematian PtolemaiosI, ia adalah putra terakhir dari Diadokhoi Lysimakhos. Pada tanggal yang tidak diketahui, mungkin selama masa pemerintahan bersamanya dengan PtolemaiosII atau dalam masa pemerintahannya di Telmessos, PtolemaiosI menikah dengan seorang wanita aristoktrat Yunani dan memiliki dua orang putra yang bernama Lysimakhos yang kelak menggantikan kedudukannya sebagai penguasa klien kedua Ptolemaik yang memerintah Telmessos dan adiknya Epigonos.[43][44]
Identitas
Identitas PtolemaiosI mungkin yang paling kontroversial dan membingungkan dari silsilah Ptolemaik.[35] PtolemaiosI juga di ketahui sebagai berikut:
Ptolemaios Epigonos,[1] juga dikenal sebagai Ptolemaios Epigon, Epigone (Epigonos) yakni pewaris,[2] yang diketahui dari sebuah prasasti di Telmessos. Anak-anak dari Diadokhoi Aleksander Agung yang secara luas merujuk kepada Epigonoi atau sang pewaris.[2] Hal tersebut juga mengungkap status suksesi dan hubungannya dengan Kerajaan Ptolemaik, Kerajaan dari mendiang ayahnya dan menjadi pewaris singkat Kerajaan dari ibunya dan pamannya Ptolemaios Keraunos.
Ptolemaios Nios atau Ptolemaios "sang putra",[45] yang diketahui selama masa pemerintahan bersamanya dengan PtolemaiosII sebagaimana ia menjadi putra angkat dan di maksudkan sebagai pewaris atau penerus PtolemaiosII.
Ptolemaios "sang Kakak", merujuk kepada hubungannya dengan PtolemaiosIII.[46]
Ptolemaios dari Telmessos, nama ini adalah gelarnya selama memerintah Telmessos.[47]
Ptolemaios Lysimakhos,[48] singkatnya Ptolemaios, putra Lysimakhos.