Pratardana digambarkan sebagai sekutu Rama (awatara Dewa Wisnu) dalam Ramayana, dan dikisahkan memperoleh pujian dari Sang Awatara karena telah membantu Bharata dalam mengatur upacara penobatannya.[2]
Sebuah kisah berdasarkan kitab Ramayana menyatakan bahwa suatu ketika, Pratardana bersiap untuk pergi ke Ayodhya untuk memberi penghormatan kepada Raja Rama. Dalam perjalanan, dia bertemu dengan Resi Narada. Narada meminta sang raja untuk tidak memberi hormat kepada Resi Wiswamitra saat berada di istana Rama. Pratardana pun bertindak demikian ketika tiba di istana. Wiswamitra menjadi marah karena tindakan Pratardana dinilai tidak sopan, dan mengadu kepada Rama.
Rama marah lalu mengeluarkan tiga anak panah dan bersumpah untuk mencabut nyawa Pratardana sebelum matahari terbenam. Karena takut akan akibatnya, Pratardana meminta perlindungan Narada, yang kemudian mengarahkannya kepada Anjani, ibu Hanoman. Anjani pun menyuruh putranya untuk membantu Pratardana. Hanoman menerbangkan Pratardana ke tepi sungai Sarayu, dan menyuruhnya untuk mengarungi air setinggi pinggang dan tetap di sana sambil mengulang nama Rama. Setelah itu, Hanoman terbang menemui Rama, dan memohon: Siapa pun yang mengucapkan nama Rama akan dilindungi oleh-Nya, dan tidak ada kekuatan di alam semesta―bahkan kekuatan para dewa sekalipun―yang mampu menyakiti orang tersebut. Rama dengan senang hati mengabulkannya. Maka dari itu, ketika Rama menembakkan tiga anak panahnya ke arah Pratardana, ia selamat berkat kecerdasan Hanoman yang menyuruhnya mengucapkan nama Rama. Ketika Pratardana terus mengucapkan nama Rama di hadapan Wiswamitra, sang resi terkesan oleh kesalehannya dan menyuruh Rama untuk menarik sumpahnya.[3]
Mahabharata
Pada upacara aswamedha (pengorbanan kuda), Astaka, Pratardana, Basuman, dan Sibi, bertanya kepada resi suci Narada, siapa di antara mereka yang akan meninggalkan Swarga (kediaman para dewa) terlebih dahulu setelah menikmatinya pascakematian. Narada memberi tahu mereka bahwa Astaka akan pergi terlebih dahulu karena kesombongannya, dan ketika ditanya lagi, dia menyatakan bahwa Pratardana akan menjadi yang kedua. Saat alasannya ditanyakan, sang resi menyatakan bahwa ia pernah tinggal di kediaman Pratardana untuk sementara waktu, dan menceritakan sebuah kejadian saat seorang Brahmana meminta kuda dari raja ketika keduanya sedang menaiki kereta. Mulanya raja ingin memberi pria itu kuda setelah ia kembali dari perjalanannya, tetapi pria itu bersikeras agar raja memberikannya kuda saat itu juga. Pratardana pun memberikan salah satu kuda yang menarik keretanya kepada Brahmana tersebut. Tak lama kemudian, beberapa Brahmana lainnya muncul untuk meminta sisa kuda raja. Setelah raja memberikan semua kuda penarik keretanya kepada para brahmana, ia pun menarik kereta dengan tenaganya sendiri sambil melontarkan keluhan yang meremehkan para brahmana tersebut. Narada menyatakan bahwa inilah alasan mengapa ia akan meninggalkan Swarga di urutan kedua.[4]
Dalam Adiparwa bagian Sambhawaparwa, Pratardana dan tiga putra Madawi kemudian hidup sebagai pertapa di hutan. Di sana, mereka menyaksikan Raja Yayati, kakek mereka sendiri yang sedang jatuh dari surga karena kesombongan. Namun Yayati melayang-layang dan tidak menyentuh bumi. Di saat itulah, Pratardana menawarkan pahala dari kebajikannya agar Yayati dapat kembali ke surga.[5] Karena kemurnian hatinya, ia tidak hanya berhasil membantu Yayati kembali ke tempat yang mulia, tetapi ia sendiri mendapatkan tempat tertinggi di sisi para dewa.[6]
Referensi
↑www.wisdomlib.org (2015-08-17). "Pratardana: 9 definitions". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-12-26.