Ponorogo (juga sering disebut Ponorogo Kota) adalah kecamatan yang menjadi ibu kota sekaligus pusat ekonomi Kabupaten Ponorogo yang terletak di tengah kabupaten. Kecamatan ini memiliki luas terkecil (23km²) tetapi penduduknya terbesar (77 ribu jiwa di tahun 2024), sehingga membuatnya menjadi kecamatan dengan kepadatan tertinggi di Ponorogo.[1] Kecamatan Ponorogo adalah persimpangan jalur-jalur strategis, terdapat jalur dari utara (Madiun dan Magetan) menuju ke selatan (Pacitan dan Trenggalek) serta ke arah barat (Provinsi Jawa Tengah di Wonogiri).
Ponorogo memiliki infrastruktur yang lengkap dengan adanya alun-alun, kantor pemerintahan, berbagai institusi pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi, pondok pesantren, rumah sakit, pasar dan pusat perbelanjaan lain, masjid agung, Stadion Batoro Katong dan Gelanggang Remaja, serta tempat lainnya. Pusat kota Ponorogo dihiasi oleh berbagai macam patung terutama di persimpangan jalan utama, hal ini memberikan identitas unik yang menimbulkan kesan tersendiri bagi pengendara yang lewat.[2] Kecamatan Ponorogo juga menjadi lokasi berbagai acara besar seperti Grebeg Suro dan Kirab Pusaka.
Dalam sejarah Ponorogo, Kecamatan Ponorogo yang sekarang disebut sebagai "Kutho Tengah". Ibu kota Ponorogo dipindahkan dari "Kutho Wetan" (Kota Timur) ke "Kutho Tengah" yang lebih strategis. Peristiwa ini terjadi pada zaman kolonial Belanda pasca Perang Diponegoro sekitar tahun 1837 dengan KRMA Mertonegoro sebagai bupati pertama di lokasi yang baru.[3] Kutho Wetan atau Kota Lama berada di timur Kecamatan Ponorogo yang sekarang menjadi kawasan Pasar Pon dan sekitarnya.
Sejarah
Kirab Pusaka untuk memperingati pemindahan ibu kota Ponorogo
Sebelum berdirinya Ponorogo, wilayah ini dikenal dengan nama Wengker (Wewengkon kang Angker - berarti tempat yang angker). Raden Patah dari Kesultanan Demak mengirim utusan ke wilayah yang berada di antara Gunung Lawu dan Gunung Wilis untuk mendirikan kota baru sekaligus menyebarkan Agama Islam. Utusan tersebut terdiri dari Batoro Katong yang didampingi oleh Kyai Ageng Mirah dan Selo Aji. Mereka mendirikan kota baru di wilayah Wengker yang saat itu dikuasai oleh Ki Ageng Kutu. Batoro Katong berhasil mendirikan kota baru yang dinamakan Ponorogo pada tahun 1496. Ki Ageng Kutu hanya mengakui kekuasaan Majapahit dan menolak kekuasan Demak serta penyebaran Islam, sehingga dia menyatakan perang melawan Batoro Katong. Singkat cerita, Ki Ageng Kutu mengalami kekalahan dan Ponorogo makin berkembang pesat.[4]
Ponorogo bukan satu-satunya kabupaten yang berdiri di wilayah ini. Adapula kabupaten lain seperti Sumoroto, Polorejo, dan Pedanten. Ponorogo disebut sebagai "Kutho Wetan" karena letaknya di timur. Selanjutnya Ponorogo dikuasai oleh Belanda pasca Perang Diponegoro. Pada tahun 1837, Belanda melebur kabupaten-kabupaten tersebut menjadi satu yaitu Kabupaten Ponorogo. Tidak hanya itu, Belanda juga memindahkan ibu kota Ponorogo dari "Kutho Wetan" ke wilayah yang lebih strategis yaitu "Kutho Tengah" dengan bupati pertama di daerah baru yaitu Mertohadinegoro atau KRMA Mertonegoro.[3] Kutho Wetan sekarang menjadi kawasan Kota Lama atau Pasar Pon. Sedangkan Kutho Tengah sekarang menjadi Kecamatan Ponorogo.
Geografi
Lokasi Kecamatan Ponorogo
Ponorogo adalah kecamatan terkecil di Ponorogo yang letaknya di tengah. Geografisnya berupa dataran rendah dengan wilayah yang didominasi kawasan urban. Ponorogo dilintasi berbagai jalan strategis yang menghubungkan berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Trenggalek, Pacitan, dan Jawa Tengah. Kecamatan ini dilalui berbagai sungai seperti Kali Soko dan Kali Sekayu.
Batas wilayah Kecamatan Ponorogo adalah sebagai berikut:[5]
Kecamatan Ponorogo terdiri dari 19 kelurahan, sehingga kecamatan ini menjadi satu-satunya di Ponorogo yang tidak memiliki desa. Kelurahan tersebut yakni sebagai berikut:[5]
SMAN 1 Ponorogo - SMA terbaik di Ponorogo berdasarkan nilai UTBK SBMPTN menurut Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi tahun 2022 (peringkat 289 secara nasional)[10]
↑"Pangkalan Data Pendidikan Tinggi". pddikti.kemdikbud.go.id/. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-12-07. Diakses tanggal 2022-12-20.