Pinus roxburghii, yang lebih dikenal sebagai pinusindia berdaun panjang,[3] adalah spesies pohon pinus yang berasal dari wilayah Himalaya. Nama spesies ini diberikan untuk menghormati William Roxburgh. Dahulu, pohon ini memiliki sebaran yang lebih luas, hingga mencapai wilayah Gujarat.[4] Tanaman ini diketahui mengandung taksifolin dalam jumlah besar.[5]
Deskripsi
Pinus roxburghii adalah pohon besar yang dapat mencapai tinggi 30–50 meter dengan diameter batang hingga 2–3 meter. Kulit batangnya tebal, berwarna merah-coklat, retak dalam di bagian pangkal, dan lebih tipis serta mengelupas di mahkota atas. Daunnya berbentuk jarum, tersusun dalam fasikel tiga, sangat ramping, dan panjangnya 20–35 sentimeter dengan warna hijau kekuningan. Kerucutnya berbentuk bulat telur, panjang 12–24cm dan lebar 5–8cm saat masih muda, berwarna hijau awalnya dan berubah menjadi coklat kastanye mengkilap saat matang setelah 24 bulan. Kerucut ini terbuka perlahan selama setahun atau lebih, atau setelah terpapar panas kebakaran hutan, hingga lebar 9–18cm untuk melepaskan biji. Bijinya panjang 8–9mm dengan sayap sepanjang 40mm dan tersebar oleh angin.[6]
Distribusi dan habitat
Jangkauan asli tanaman ini meliputi Tibet di Tiongkok dan Afganistan, melewati Pakistan, India utara (Jammu dan Kashmir, Himachal Pradesh, Uttarakhand, Sikkim, serta Arunachal Pradesh), Nepal, Bhutan, hingga Myanmar. Biasanya tumbuh di ketinggian lebih rendah dibanding pinus Himalaya lainnya, yaitu 500–2.000 meter, kadang hingga 2.300 meter. Pinus Himalaya lain termasuk P. wallichiana (pinus biru), P. bhutanica (pinus putih bhutan), P. armandii (pinus putih tiongkok), P. gerardiana (pinus chilgoza), P. densata (pinus sikang), dan P. kesiya (pinus khasi).[2][3]
Kegunaan
Pinus roxburghii sering dimanfaatkan sebagai sumber kayu di wilayah Himalaya, termasuk India Utara dan Nepal, dengan kayunya digunakan untuk konstruksi bangunan, pembuatan mebel, peti teh, serta alat musik.[7] Selain dimanfaatkan produk kayunya, dalam tradisi lokal Himalaya, resin dari pohon tanaman ini digunakan sebagai obat untuk meredakan batuk, memar, dan luka. Sebagai contoh di Nepal, resin ini dikenal sebagai ahule sallo dan dikombinasikan dengan garam untuk pengobatan batuk.[8]
Referensi
↑Chauhan, M. S. (1991). "A Catalogue of Fossil Plants from India Part 6: Cenozoic (Quaternary) Palynology and Palaeobotany". Paleobotany.
↑Chauhan, M. S. (1991). "A Catalogue of Fossil Plants from India Part 6: Cenozoic (Quaternary) Palynology and Palaeobotany". Paleobotany.
↑Stefan Willför; Mumtaz Ali; Maarit Karonen; Markku Reunanen; Mohammad Arfan & Reija Harlamow (2009). "Extractives in bark of different conifer species growing in Pakistan". Holzforschung. 63 (5): 551–558. doi:10.1515/HF.2009.095. S2CID97003177.
↑William M. Ciesla (1998). Non-wood forest products from conifers(PDF). Roma: Food and Agriculture Organization of the United Nations. hlm.19. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)