Pinguicula moranensis
| Pinguicula moranensis | |
|---|---|
| Di habitat aslinya di Oaxaca | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Eudikotil |
| Klad: | Asteridae |
| Ordo: | Lamiales |
| Famili: | Lentibulariaceae |
| Genus: | Pinguicula |
| Spesies: | P. moranensis |
| Nama binomial | |
| Pinguicula moranensis | |
| Varietas | |
|
P. moranensis var. moranensis | |
| Sinonim | |
|
Menurut Zamudio (2001) kecuali jika disebutkan lain.[1]
P. moranensis var. neovolcanica: | |
Pinguicula moranensis /pɪŋˈɡwɪkjʊlə ˌmɒrəˈnɛnsɪs/ adalah terna pemakan serangga menahun yang membentuk roset dari famili tumbuhan berbunga Lentibulariaceae. Tumbuhan ini merupakan spesies asli dari El Salvador, Guatemala, Honduras, dan Meksiko.[3] Sebagai salah satu spesies dari genus butterwort, tumbuhan ini membentuk roset musim panas dengan daun pipih yang sukulen dan panjangnya mencapai 10 sentimeter (4 in). Permukaan daun tersebut ditutupi oleh kelenjar lendir (lengket) yang berfungsi untuk menarik, menjebak, dan mencerna mangsa artropoda. Nutrisi yang diperoleh dari mangsanya digunakan untuk melengkapi substrat miskin unsur hara tempat tumbuhan ini hidup. Pada musim dingin, tumbuhan ini membentuk roset nonkarnivora yang terdiri dari daun-daun kecil dan berdaging untuk menghemat energi saat persediaan makanan dan kelembapan sedang menipis. Bunga tunggal berwarna merah muda, ungu, atau lembayung mekar dua kali setahun pada tangkai tegak yang panjangnya dapat mencapai 25 sentimeter.
Spesies ini pertama kali dikumpulkan oleh Humboldt dan Bonpland di pinggiran Mina de Morán di Sierra de Pachuca, yang kini merupakan negara bagian Hidalgo, Meksiko, pada ekspedisi Amerika Latin mereka dari tahun 1799–1804.[4] Berdasarkan koleksi tersebut, Carl Sigismund Kunth mendeskripsikan spesies ini dalam Nova Genera et Species Plantarum pada tahun 1817. Spesies yang sangat bervariasi ini telah didefinisikan ulang setidaknya dua kali sejak saat itu,[4][5][6] sementara beberapa spesies baru telah dipisahkan darinya berdasarkan berbagai perbedaan geografis atau morfologis, meskipun keabsahan dari beberapa spesies baru tersebut masih diperdebatkan.[7] P. moranensis tetap menjadi anggota yang paling umum dan tersebar paling luas dari Bagian Orcheosanthus.[4] Tumbuhan ini telah lama dibudidayakan karena sifat karnivoranya serta bunganya yang menarik, dan merupakan salah satu butterwort yang paling umum dibudidayakan.
Nama genus Pinguicula berasal dari bahasa Latin pinguis (yang berarti "lemak") karena tekstur permukaan daun karnivoranya yang seperti mentega. Julukan spesifik moranensis merujuk pada lokasi tipe-nya, yakni Mina de Moran.
Karakteristik tumbuhan

Habitus
Pinguicula moranensis bersifat dimorfik musiman, yang mana tumbuhan ini mengalami dua habitus pertumbuhan yang berbeda sepanjang tahun. Selama musim panas ketika hujan dan mangsa serangga paling melimpah, tumbuhan ini membentuk roset yang menempel di tanah yang terdiri dari 6–8 daun yang umumnya berbentuk bundar telur sungsang (obovat), yang masing-masing panjangnya dapat mencapai 95 milimeter (3 ¾ in).[8] Daun-daun ini bersifat karnivora, memiliki luas permukaan yang besar dan ditutupi rapat oleh kelenjar lendir bertangkai yang dengannya mereka menarik, menjebak, dan mencerna mangsa artropoda, paling umum berupa lalat. Daun yang disebut "daun musim panas" ini digantikan oleh "roset musim dingin" berupa daun sukulen kecil tanpa kelenjar saat dimulainya musim kemarau pada bulan Oktober. Roset musim dingin yang bersifat protektif ini memungkinkan tumbuhan tersebut mengalami masa dormansi musim dingin hingga hujan pertama turun pada bulan Mei.[8] Bunga tunggal yang tumbuh pada tangkai bunga (pedunkel) tegak sepanjang 10–25 sentimeter (4–10 in.) muncul dua kali dalam setahun (dari roset musim panas dan kembali muncul dari roset musim dingin), sebuah ciri yang langka di antara spesies-spesies asal Meksiko.[9][10][11] Pada musim panas, bunga ini muncul pada bulan Juni, mencapai puncaknya pada bulan Agustus dan September, lalu menghilang seiring kembalinya roset musim dingin pada bulan Oktober atau November.[4]
Daun dan sifat karnivora

Helaian daun dari roset musim panas P. moranensis bertekstur halus, kaku, dan sukulen, dengan warna yang bervariasi dari kuning-hijau cerah hingga merah marun. Lamina daunnya umumnya berbentuk bundar telur sungsang hingga bundar (orbikular), dengan panjang antara 5,5 hingga 13 sentimeter (2–5 in.) dan ditopang oleh tangkai daun (petiolus) sepanjang 1 hingga 3,5 sentimeter (⅜–1 ⅜ in.).[12]
Sebagaimana semua anggota genus ini, helaian daun tersebut ditutupi rapat oleh kelenjar berlendir pedunkular (bertangkai) dan kelenjar pencernaan sesil (pipih tak bertangkai). Kelenjar pedunkular terdiri dari beberapa sel sekretori di atas tangkai bersel tunggal. Sel-sel ini menghasilkan sekresi lendir yang membentuk tetesan-tetesan yang terlihat di seluruh permukaan daun. Tampilan basah ini kemungkinan membantu memikat mangsa yang mencari air; fenomena serupa juga diamati pada tumbuhan sundew. Tetesan tersebut hanya menyekresikan enzim dalam jumlah terbatas dan terutama berfungsi untuk menjerat serangga. Saat bersentuhan dengan serangga, kelenjar pedunkular melepaskan lendir tambahan dari sel cadangan khusus yang terletak di pangkal tangkainya. Serangga yang meronta-ronta akan memicu lebih banyak kelenjar dan membuat dirinya terbungkus lendir. P. moranensis dapat sedikit menekuk tepi daunnya melalui tigmotropisme, sehingga kelenjar tambahan dapat bersentuhan dengan serangga yang terperangkap. Kelenjar sesil, yang terletak rata pada permukaan daun, berfungsi untuk mencerna mangsa serangga. Setelah mangsa terperangkap oleh kelenjar pedunkular dan pencernaan dimulai, aliran awal nitrogen akan memicu pelepasan enzim oleh kelenjar sesil. Enzim-enzim ini, yang meliputi amilase, esterase, fosfatase, protease, dan ribonuklease, memecah komponen-komponen tubuh serangga yang dapat dicerna. Cairan ini kemudian diserap kembali ke dalam permukaan daun melalui lubang kutikula, dan hanya menyisakan eksoskeleton kitin dari serangga-serangga yang lebih besar di permukaan daun.[13]
Lubang-lubang pada kutikula yang memungkinkan mekanisme pencernaan ini menimbulkan tantangan bagi tumbuhan, karena lubang tersebut berfungsi sebagai celah pada kutikula (lapisan lilin) yang melindungi tumbuhan dari kekeringan.[13] Akibatnya, P. moranensis biasanya ditemukan di lingkungan yang relatif lembap. Produksi kelenjar penangkap bertangkai dan kelenjar pencernaan sesil juga memakan banyak energi. Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa kepadatan dari masing-masing kelenjar ini dapat berkorelasi dengan gradien lingkungan. Sebagai contoh, kepadatan kelenjar penangkap ditemukan paling tinggi di tempat yang ketersediaan mangsanya rendah, sedangkan kepadatan kelenjar pencernaan menunjukkan korelasi langsung dengan ketersediaan mangsa.[8] Hasil ini menunjukkan bahwa besarnya investasi pada fitur-fitur karnivora merupakan bentuk adaptasi terhadap gradien lingkungan.
Roset musim dingin

Roset "musim dingin" atau "istirahat" dari P. moranensis berdiameter dua hingga tiga (maksimum lima) sentimeter (¾–2 in.) dan terdiri dari 60 hingga 100 atau lebih daun berdaging yang kecil dan tanpa kelenjar. Masing-masing daun memiliki panjang 10 hingga 30 milimeter (⅜–1 ¼ in.) dan lebar tiga hingga delapan milimeter (⅛–5⁄16 in.), umumnya berbentuk spatula (spatulat) atau oblong-spatulat, dan ditutupi rapat oleh rambut-rambut halus. Roset ini dapat berbentuk terbuka maupun padat dan menyerupai umbi, bergantung pada varietasnya (lihat bagian bawah).[14]
Bunga
Pinguicula moranensis menghasilkan satu hingga tujuh bunga pada setiap periode berbunga. Bunga-bunga ini tumbuh tunggal pada tangkai bunga tegak yang berwarna hijau hingga hijau kecokelatan dan biasanya, seperti halnya permukaan atas daun karnivoranya, ditutupi rapat oleh rambut kelenjar; tangkai bunga tersebut pada kenyataannya memang menjebak mangsa serangga. Tangkai bunga ini memiliki panjang 10 hingga 25 sentimeter (4–10 in.) dan meruncing dari dua hingga tiga milimeter (⅛ in.) di bagian pangkal menjadi satu milimeter (1⁄16 in.) di bagian pucuk.[12]

Bunga itu sendiri terdiri dari lima petal yang menyatu di salah satu ujungnya. Bagian leher, yakni bagian bunga di dekat titik perlekatan yang menampung organ reproduksi, berbentuk corong, dan petal-petal tersebut mekar dari sana membentuk korola zigomorfik bercuping lima. Bunga ini memiliki panjang 30 hingga 50 milimeter (1 ¼–2 in.). Di bawah titik perlekatan pada batang, petal-petal tersebut menyatu membentuk taji sepanjang 15–30 milimeter yang menonjol ke belakang kira-kira tegak lurus terhadap bagian bunga lainnya.[12][15]
Bakal buah (ovarium) dan putik yang melekat padanya menonjol dari bagian atas tabung bunga di dekat bukaannya, dengan permukaan kepala putik (stigma) yang reseptif menghadap ke depan. Dua kepala sari berukuran 1 milimeter menggantung dari tangkai sari (filamen) melengkung berukuran 2 milimeter di belakang putik.[16] Hewan penyerbuk yang keluar setelah mengumpulkan nektar dari taji akan menyentuh kepala sari, memindahkan serbuk sari ke kepala putik bunga berikutnya yang mereka kunjungi. Bunga ini dapat bertahan hingga 10 hari tetapi akan layu setelah diserbuki.[17] Bakal buah yang telah diserbuki akan matang menjadi kapsul biji dehiscent (pecah saat masak) berukuran 5 milimeter (3⁄16 in.) yang berisi banyak biji dengan panjang 1 milimeter.[16] Jumlah kromosom untuk spesies ini adalah 2n=44.[18]

Warna dan morfologi bunga spesies ini sangat bervariasi, yang menjadi sumber kegembiraan bagi para ahli hortikultura sekaligus memusingkan bagi para ahli taksonomi. Namun, beberapa generalisasi dapat dibuat.
Korola mekar terbuka menjadi lima cuping, dua cuping atas dan tiga cuping bawah. Cuping atas memiliki panjang 7–16 milimeter (¼–⅜ in.) dan lebar 4–9 milimeter (5⁄32–⅜ in.) dan umumnya berbentuk lonjong, bundar telur sungsang (obovat), atau pasak (kuneat). Cuping bawah memiliki bentuk yang serupa dengan panjang 7–20 milimeter (¼–¾ in.) dan lebar 4–18 milimeter (5⁄32–¾ in.). Cuping bawah bagian tengah biasanya sedikit lebih panjang dari cuping di sebelahnya. Semua cuping petal memiliki ujung membulat. Tabung bunga yang menampung organ reproduksi dan terlihat di pangkal cuping korola berwarna putih atau ungu muda (lilac) dan memiliki panjang 4–6 milimeter (5⁄32–¼ in.). Warna putih pada tabung bunga dapat meluas hingga jarak yang bervariasi pada cuping korola, khususnya berupa garis pada cuping tengah bawah.[12] Warna cuping korola umumnya bervariasi dari merah muda hingga ungu, tetapi telah dideskripsikan oleh para pengumpul sebagai "ungu, merah tua, lavender kemerahan hingga ungu kebiruan, merah muda tua hingga lavender, ungu kemerahmudaan, ungu violet pekat, ungu tua, merah muda lembayung cerah, merah muda keunguan cerah, magenta dengan [mata putih], [dan] pucat kemerahan dengan mata putih."[19] Bentuk bunga berwarna putih yang langka juga diketahui keberadaannya.[19]

Taksonomi
Sergio Zamudio Ruiz, dalam revisi bagian Orcheosanthus tahun 2001 miliknya, menyebut identitas dan batasan pasti dari P. moranensis "mungkin merupakan masalah yang paling sulit untuk dipecahkan di dalam genus ini".[20] Kesulitan ini terutama disebabkan oleh tingginya variabilitas dan luasnya sebaran geografis spesies ini, yang telah memunculkan deskripsi tentang banyak sinonim sejak spesies ini pertama kali dideskripsikan hampir 200 tahun yang lalu. Para ahli botani telah mencoba untuk membatasi spesies ini melalui berbagai metode morfologi, ekologi, dan genetik, meskipun hingga saat ini masih terdapat perdebatan mengenai penempatan dan deskripsi P. moranensis beserta hubungannya dengan spesies-spesies yang berkerabat dekat dengannya.

Sejarah botani
Sebelum ekspedisi Amerika Latin oleh Alexander von Humboldt dan Aimé Bonpland pada tahun 1799–1804, hanya ada 8 spesies Pinguicula yang dikenal oleh ilmu pengetahuan — 5 dari Eropa, 2 dari Amerika Utara, dan P. involuta dari Peru. Dari tahun 1803–1805, tiga spesies tambahan dari Eropa dan Amerika Utara dideskripsikan, menjadikan total spesies yang diketahui menjadi 11.[2] Pada tahun 1817, Carl Sigismund Kunth mendeskripsikan 3 spesies baru dari ekspedisi Amerika Latin yang dilakukan Alexander von Humboldt dan Aimé Bonpland: P. calyptrata dari Peru serta spesies asli Meksiko yang pertama kali diketahui: P. macrophylla dan P. moranensis.[21] Pada titik ini, belum ada klasifikasi infragenerik yang diusulkan.
Pada tahun 1844, seorang ahli botani Prancis-Swiss bernama Alphonse Pyrame de Candolle (yang menyusun Kode Nomenklatur Botani pertama) mengusulkan pembagian genus tersebut ke dalam tiga seksi berdasarkan morfologi bunga. Ia menempatkan di seksi Orcheosanthus spesies-spesies dengan korola berbibir dua dalam (bilabiate) berwarna ungu dengan 5 cuping sub-sama besar, tabung bunga pendek, dan taji besar yang tidak menonjol melewati tabung tersebut. Ia memasukkan empat spesies ke dalam seksi ini, semuanya dari Meksiko: P. oblongiloba, P. orchidioides, P. caudata dan P. moranensis. Ia mengecualikan P. macrophylla H.B.K. dengan alasan bahwa itu adalah "spesies yang meragukan".[22]

Seksi Orcheosanthus berkembang ketika Charles Morren mendeskripsikan P. flos-mulionis pada tahun 1872, Eugene Fournier menambahkan P. sodalium pada tahun 1873, dan Sander mengusulkan P. bakeriana pada tahun 1881.[2] Namun, pada tahun 1879–1888, ahli botani William Hemsley, setelah mempelajari berbagai spesimen di herbarium dan dalam budidaya, berkesimpulan bahwa semua taksa yang ditempatkan dalam seksi Orcheosanthus hingga saat itu berasal dari satu spesies tunggal yang sama. Karena keraguan mengenai identitas dari dua spesies asli yang dideskripsikan oleh Kunth, Hemsley memutuskan untuk menggunakan nama P. caudata Schltdl. untuk spesies konglomeratnya. Nama ini telah diterapkan secara "serampangan" pada anggota kelompok yang kompleks ini sejak saat itu.[23]
Abad kedua puluh
Ketika Barnhart merevisi famili Lentibulariaceae pada tahun 1916, ia mengakui enam spesies di dalam seksi Orcheosanthus, namun ia mengakui bahwa jumlah ini kemungkinan akan berubah seiring penelitian lebih lanjut mengenai seksi tersebut di masa depan. Pada tahun 1928, Sprague mengusulkan bahwa spesies-spesies yang digabungkan oleh Hemsley kemungkinan adalah spesies yang berbeda, tetapi mereka mungkin sangat saling berkaitan sehingga membedakannya akan memerlukan pengamatan karakteristik yang biasanya atau selalu tidak jelas pada spesimen kering.[24] Sprague mengakui delapan spesies dalam seksi tersebut: P. moranensis H.B.K, P. caudata Schltdl., P. oblongiloba, P. flos-mulionis, P. bakeriana, P. rosei yang menyerupai P. moranensis yang dideskripsikan oleh Watson pada tahun 1911, dan P. gypsicola yang sangat berbeda.[6]
Pada tahun 1966, Casper menerbitkan monograf pertama untuk genus tersebut. Ia mendefinisikan dengan jelas organisasi taksonominya berdasarkan berbagai karakteristik morfologis dan fenotipik yang luas. Casper menganggap P. caudata, serta berbagai taksa lainnya, sebagai sinonim dari P. moranensis. Oleh karena itu, ia hanya mengakui 6 spesies untuk seksi Orcheosanthus: P. moranensis, P. gypsicola, P. macrophylla H.B.K., P. oblongiloba, dan dua spesies yang baru ditemukan yaitu P. colimensis dan P. cyclosecta.[5] Sejak saat itu, 14 spesies tambahan telah ditemukan dan dimasukkan ke dalam seksi tersebut.[25] Namun, ketika Zamudio mendefinisikan ulang seksi tersebut pada tahun 1999, ia memilih untuk hanya memasukkan 12 spesies, termasuk keenam pilihan Casper.[6] Oleh karena itu, P. moranensis tetap berada di dalam seksi Orcheosanthus, bersama dengan lebih dari selusin sinonim yang diwarisinya selama 200 tahun sejarah taksonominya.

Filogenetik
Berbagai tingkat kepentingan yang diberikan oleh para penulis yang berbeda terhadap beragam karakteristik morfologi saat menentukan taksonomi genus ini telah lama membuat subdivisi genus yang dihasilkannya menjadi subjek kontroversi.[11] Zamudio (2001) mendukung revisinya pada seksi Orcheosanthus dengan analisis filogenetika, menggunakan 20 karakteristik morfologi dan fenologi.[6] Pada tahun 2005, Cieslak dkk. melakukan analisis filogenetik komprehensif pertama pada seluruh genus Pinguicula. Menggunakan data molekuler, mereka mampu mengisolasi karakteristik-karakteristik morfologi yang merupakan sinapomorfi bagi berbagai kelompok, yang memberikan bukti bagi struktur taksonomi berbasis genetik. Secara keseluruhan, hasil yang mereka peroleh tidak mendukung penempatan P. moranensis di dalam seksi Orcheosanthus, melainkan mengindikasikan bahwa spesies tersebut seharusnya ditempatkan di dalam seksi Longitubus bersama dengan P. laueana.[11]
Lebih jauh lagi, berbeda dengan revisi seksi Orcheosanthus oleh Zamudio pada tahun 2001, data filogenetik Cieslak dkk. mengindikasikan bahwa P. rectifolia dan beberapa taksa tak bernama yang sebelumnya diperlakukan sebagai sinonim dari P. moranensis pada kenyataannya adalah kompleks yang berbeda. Mereka mengisolasi beberapa karakteristik morfologi yang dapat digunakan untuk membedakan antara kompleks-kompleks tersebut, termasuk panjang taji bunga (lebih panjang pada P. moranensis), warna bunga (tidak pernah dengan rona biru pada P. moranensis), dan bentuk cuping korola lateral (menunjukkan putaran pada P. rectifolia).[11] Studi yang lebih menyeluruh dengan menganalisis berbagai populasi P. moranensis beserta anggota lain dari taksa yang berkerabat dekat diperlukan untuk mengurai kompleks ini.
Varietas
Setelah mempelajari secara ekstensif P. moranensis di habitat aslinya, Zamudio (1999) sampai pada kesimpulan bahwa spesies ini dapat dibagi menjadi dua varietas yang berbeda, terutama berdasarkan bentuk daun yang menyusun roset musim dingin (istirahat) mereka:[4]
Varietas ini memiliki roset musim dingin terbuka yang terdiri dari daun-daun berbentuk spatula dengan ujung tumpul atau membulat. Varietas ini cenderung tumbuh di substrat berbasis batu kapur.
Varietas ini memiliki roset daun musim dingin tertutup menyerupai umbi yang bersifat asikular (runcing) di bagian ujungnya. Varietas ini cenderung tumbuh pada substrat beku.
Zamudio juga mencatat bahwa subspesies-subspesies ini berbeda dalam preferensi substrat tanahnya. Ia pertama kali mencatat hal ini saat mencoba menemukan populasi tumbuhan yang darinya Humboldt dan Bonpland telah mengumpulkan spesimen tipe mereka pada tahun 1803. Meskipun Zamudio mampu menemukan banyak populasi spesies ini yang tumbuh di daerah-daerah yang telah dikunjungi Humboldt dan Bonpland di sekitar Mina de Moran, hanya satu populasi, satu-satunya yang tumbuh di atas batu kapur, yang cocok dengan deskripsi H.B.K. dan spesimen tipe serta isotipe mereka yang sekarang disimpan di herbarium Museum Nasional Sejarah Alam Prancis. Populasi lainnya di area tersebut tumbuh pada substrat yang berasal dari batuan beku dan lebih cocok dengan deskripsi Hooker pada tahun 1846 tentang P. orchidioides.[26] Tumbuhan-tumbuhan yang disebutkan terakhir ini kemudian menjadi varietas baru, P. moranensis ssp. neovolcanica.[4]
Persebaran dan habitat

Pinguicula moranensis adalah anggota yang tersebar paling luas dari Bagian Orcheosanthus.[4] Tumbuhan ini juga merupakan spesies Pinguicula yang paling umum dan tersebar paling luas di Meksiko, serta dapat ditemukan di semua pegunungan utama kecuali Sierra Madre Occidental dan Baja California.[16] Lokasi-lokasi keberadaannya diketahui di negara-negara bagian Meksiko seperti Tamaulipas, Guanajuato, Nuevo León, Campeche, Chiapas, Oaxaca, Puebla, Distrito Federal, Veracruz, México, Querétaro, San Luis Potosí, Morelos, Hidalgo, Guerrero, Zacatecas, Tlaxcala, Quintana Roo, dan Michoacán serta departemen-departemen di Guatemala seperti Huehuetenango, Quiché, San Marcos, Quetzaltenango, Totonicapán, Sololá, Chimaltenango, Baja Verapaz, Guatemala, dan El Progreso.[6] Di tempat-tempat tersebut, tumbuhan ini tumbuh di daerah pegunungan dengan ketinggian antara 800 dan 3200 meter (2600–10500 ft). Umumnya, spesies ini cenderung mengikuti singkapan sedimen dari periode Kapur. Namun, P. moranensis var. neovolcanica cenderung tumbuh di atas batuan beku dari Sabuk Vulkanik Trans-Meksiko.[16]

Pinguicula moranensis paling sering tumbuh di hutan ek, hutan pinus-ek, atau hutan pegunungan beriklim sedang. Namun, distribusinya merambah hingga ke hutan tropis dan semak belukar xerofitik, serta di jurang dan dinding tebing ngarai dengan kelembapan lingkungan yang tinggi. P. moranensis lebih menyukai lingkungan yang lembap dan teduh, seperti lereng di dekat aliran sungai, selokan, atau tebing galian jalan, atau di antara serasah daun di tanah berpasir yang kaya akan bahan organik. Kemampuannya untuk mengumpulkan nutrisi dari mangsa artropoda yang ditangkapnya memungkinkannya untuk tumbuh di lingkungan miskin unsur hara di mana tumbuhan lain biasanya akan mengalahkannya dalam persaingan. Akibatnya, ia sering ditemukan di daerah-daerah yang terganggu atau di tebing yang curam maupun lereng bukit. Karena akar-akarnya hanya sekadar berfungsi sebagai penopang, tumbuhan ini hanya membutuhkan sedikit atau bahkan tanpa tanah, dan rumpun yang lebat dapat ditemukan menempel di bongkahan batu, lumut atau celah-celah tebing batu, atau bahkan hidup secara epifitik pada batang pohon. Tumbuhan penyerta yang umum dijumpai di sekitarnya meliputi lumut, Selaginella, paku-pakuan, dan tumbuhan terna lainnya, serta pohon-pohon kanopi seperti pinus dan ek.[16]
Budidaya
Pinguicula moranensis adalah salah satu spesies Pinguicula yang paling populer dan paling umum dibudidayakan,[27] sebagian karena ukurannya yang besar, bunganya yang besar dan cantik, serta kemudahannya untuk ditumbuhkan sebagai tanaman pot. Sebagian besar pembudidaya menggunakan campuran tanah yang gembur yang terdiri dari beberapa kombinasi pasir yang telah dicuci, perlit, vermikulit, lumut gambut (peat moss), gipsum, dan/atau granit yang telah terurai. Tanah harus dijaga agar sistem drainasenya baik, namun tetap disiram secara teratur dengan air suling pada musim panas dan hanya sesekali disiram setelah tumbuhan ini memasuki masa roset musim dinginnya. Spesies ini tumbuh dengan mudah di ambang jendela yang cukup terang, di bawah lampu fluoresen, atau di dalam rumah kaca bersuhu hangat hingga panas.[27]
Hibrida dan kultivar
Meskipun belum ada laporan mengenai hibrida alami yang melibatkan P. moranensis, spesies ini diketahui cukup mudah berhibridisasi dalam pembudidayaan. Sebagai hasilnya, sejumlah kultivar yang melibatkan spesies ini telah didaftarkan dan diakui oleh International Carnivorous Plant Society:[28]
| nama kultivar | persilangan induk | deskripsi |
|---|---|---|
| Pinguicula 'George Sargent' Hort. Slack | P. moranensis × gypsicola | Bunga berwarna ungu muda (lilac), daun berbentuk pita, roset musim dingin berukuran besar. |
| Pinguicula 'Hameln' Hort. Studnicka | P. gypsicola × moranensis | Dedaunan lebih lebar, menyerupai P. moranensis. |
| Pinguicula 'John Rizzi' Hort. D'Amato | P. moranensis × ? | Bunga besar dan penuh; daun berbentuk oval, bergelombang tanpa tepi yang jelas. |
| Pinguicula 'L'Hautil' Hort. L.Legendre & S.Lavayssiere | P. (ehlersiae × moranensis) × moranensis | Dua bentuk ("Grande" dan "Petite"). P. 'Sethos' × P. 'Huahuapan' |
| Pinguicula 'Mitla' Hort. Studnicka[29] | P. gypsicola × moranensis | Dedaunan lebih lebar, menyerupai P. moranensis. |
| Pinguicula 'Pirouette' Hort. J.Brittnacher, B.Meyers-Rice & L.Song | P. agnata × (moranensis × ehlersiae) | Klon yang tangguh, roset dengan daun berwarna merah muda yang menarik. |
| Pinguicula 'Sethos' Hort. Slack | P. ehlersiae × moranensis | Bunga berukuran besar dengan bagian tengah berwarna putih yang menyerupai bintang. |
| Pinguicula 'Weser' Hort. Slack | P. moranensis × ehlersiae | Bunga berukuran besar dengan coretan putih tunggal di sepanjang cuping tengah bawah dan memiliki urat berwarna gelap. |
Sebagai tambahan, tiga klon dari P. moranensis telah terdaftar sebagai kultivar:[2]
| nama kultivar | asal | deskripsi |
|---|---|---|
| Pinguicula 'Huahuapan' Hort. Slack | Huajuapan de León, Oaxaca, Meksiko | Bunga berwarna merah muda keunguan (lilac) dengan sentuhan warna merah tua di bagian pangkalnya. |
| Pinguicula 'Libelulita' Hort. Rice & Salvia | Meksiko selatan | Petal dengan ujung persegi, berwarna ungu pucat di bagian tepi yang menggelap menjadi warna merah beludru pekat di dekat pangkal, memiliki banyak urat, dan bagian tengah berwarna putih. |
| Pinguicula 'Vera Cruz' Hort. Slack | Veracruz, Meksiko | Warna merah mawar pekat dengan corak di bagian pangkal. |
Catatan
- ↑ Zamudio 2001, hlm. 160–161, 182.
- 1 2 3 4 5 6 7 Schlauer, Jan: Basis Data Tumbuhan Karnivora Diarsipkan 2016-09-18 di Wayback Machine., versi 15 November 2005, 16:25.
- ↑ "Pinguicula moranensis Kunth". Plants of the World Online. Royal Botanic Gardens, Kew. Diakses tanggal 8 April 2023.
- 1 2 3 4 5 6 7 Zamudio, S. 1999
- 1 2 Casper, S.J. 1966
- 1 2 3 4 5 Zamudio, Sergio 2001 [halaman dibutuhkan]
- ↑ Sebagai contoh, lihat Speta 1989. Dari tiga spesies yang dideskripsikan oleh Speta & Fuchs, dua (P. rectifolia dan P. potosiensis) ditolak sebagai sinonim oleh Zamudio 2001, sedangkan P. rectifolia didukung oleh studi filogenetik Ciezlak dkk. pada tahun 2005.
- 1 2 3 Alcalá, R.E. & Dominguez, C.A. 2005
- ↑ Panjang tangkai bunga: Zamudio 2001, hlm. 158.
- ↑ Menurut Cieslak dkk. 2005, P. moctezumae, P. moranensis, P. emarginata, P. spesies 'Huahuapan' dan P. rectifolia semuanya memiliki sifat ini.
- 1 2 3 4 Cieslak et al., 2005
- 1 2 3 4 Zamudio 2001, hlm. 158.
- 1 2 Legendre, L. 2000
- ↑ Zamudio 2001, hlm. 161.
- ↑ Menurut Cieslak (2005), panjang taji merupakan ciri diagnostik saat membedakan spesies ini dari P. rectifolia. Cieslak menegaskan bahwa pada P. moranensis, taji tersebut berukuran lebih dari 50% lebih panjang dibandingkan bagian korola lainnya.
- 1 2 3 4 5 Zamudio 2001, hlm. 159.
- ↑ Legendre, L. Penyerbukan bunga Pinguicula. Diakses pada 2 Januari 2007.
- ↑ Zamudio 2001, hlm. 60.
- 1 2 Zamudio 2001, hlm. 184.
- ↑ Zamudio 2001, hlm. 26; "La identidad de Pinguicula moranensis y su delimitación precisa es quizás el problema más difÍcil de resolver dentro del género."
- ↑ Dari Zamudio 2001, asal Humboldt, A., A. Bonpland & C.S. Kunth. 1817
- ↑ Dari Zamudio 2001, asal A.P. De Candolle 1844
- ↑ Zamudio 2001, hlm. 26.
- ↑ Kesulitan mendasarkan pekerjaan taksonomi pada genus Pinguicula semata-mata pada spesimen kering telah dicatat oleh beberapa ahli botani yang merasa frustrasi. McVaugh & Mickel dalam catatan tahun 1963 mereka tentang seksi Orcheosanthus menyatakan bahwa "Studi herbarium pada tumbuhan ini sulit dan membuat frustrasi karena daun serta struktur vegetatif dan reproduktif lainnya sangat rapuh sehingga spesimen kering jarang terawetkan dengan baik. Biasanya hanya ditemukan satu bunga pada sebuah tumbuhan, dan bunga yang ditekan yang luar biasa rapuh sering kali kehilangan warna dan bentuk aslinya dalam tingkat yang sangat besar. Sering kali baik struktur vegetatif maupun reproduktif tidak dapat dipelajari tanpa merusak spesimen secara parah" (McVaugh, 1963). Barnhart (1916) telah menyatakan bahwa "rentang variasinya sangat besar, tetapi seberapa banyak yang bersifat musiman, seberapa banyak yang bersifat individual, dan seberapa banyak yang memiliki arti penting taksonomi, saat ini (jika hanya didasarkan pada sampel herbarium) hanyalah tebakan semata" (Barnhart, 1916). Kesimpulan ini digaungkan oleh Sprague (1928), Ernst (1961), dan McVaugh (1963).
- ↑ Zamudio 2001, hlm. 29.
- ↑ Zamudio 2001, hlm. 177; P. orchidioides masa kini dideskripsikan dua tahun sebelumnya (pada tahun 1844) oleh A. De Candolle. Hooker mendeskripsikan tumbuhan yang dilihatnya tumbuh di Kebun Raya Kew dan, karena mengiranya mirip dengan P. orchidioides milik Candolle, ia menggunakan nama tersebut.
- 1 2 D'Amato P. 1998, hlm. 203–205.
- ↑ International Carnivorous Plant Society, Registered Cultivar Names—Pinguicula Diarsipkan 2007-03-18 di Wayback Machine.. Diakses pada 2 Januari 2007.
- ↑ Terdapat homonim tidak sah untuk kultivar ini. Peter D'Amato mendeskripsikan klon P. moranensis dengan nama ini di dalam buku The Savage Garden (1998).
Referensi
- Alcalá, R.E. & Dominguez, C.A. 2005 Differential Selection for Carnivory Traits Along an Environmental Gradient in Pinguicula moranensis; Ecology, 86(10), 2005, pp. 2652–2660
- Casper, S.J. 1966. Monographie der Gattung Pinguicula L. Heft 127/128, Vol 31. Stuttgart: Bibliotheca Botanica
- Cieslak, T., Polepalli, J.S., White, A., Müller, K., Borsch, T., Barthlott, W., Steiger, J., Marchant, A. & Legendre, L. 2005. Phylogenetic analysis of Pinguicula (Lentibulariaceae): chloroplast DNA sequences and morphology support several geographically distinct radiations; American Journal of Botany. 2005;92:1723–1736.
- Candonelle, A.P. De. 1844. Prodromus systematis naturalis regni vegetabilis; Tomo VIII. Paris. pp. 26–32.
- D'Amato, P. 1998. The Savage Garden: Cultivating Carnivorous Plants. Berkeley, California: Ten Speed Press. ISBN 0-89815-915-6
- Ernst, A. 1961 Revision der Gattung Pinguicula Bot. Jahrb. Syst. 80(2): 145–194
- Hemsley, W.B. 1879–1888. Botany. In: Godwin, F.D. & O. Salvin, Biologia Centrali-Americana. R.H.Porter, London. 5 vol.
- Hooker, J.D. 1846 P. orchidioides. Botanical Magazine. 72: tab. 4231
- Humboldt, A., A. Bonpland & C.S. Kunth. 1817. Nova genera et species plantarum. II: pp. 225–226
- Legendre L (2000). "The genus Pinguicula L. (Lentibulariaceae): an overview". Acta Botanica Gallica 141 (1): 77–95.
- Mc Vaugh, R. & J.T.Mickel 1963. Notes on Pinguicula, sec. Orcheosanthus. Brittonia, Vol. 15, Issue 2 (apr. 15, 1963), p. 134–140
- Morren, E. 1872. Notice sure le Pinguicula flos-Mulionis Ed. Mn. ou Grassette Fleur de Muletier, Fig. Pl. XXVII. Belgique Hort. 22:371–374
- Zamudio Ruiz, S. 2001 Revision de la seccion Orcheosanthus del Genero Pinguicula (Lentibulariaceae) Universidad Nacional Autónoma de México.
- Sessé, M. & J. M. Mociño. 1893. Plantae Novae Hispaniae. 2a. Ed. México. Oficina Tipográfica de la Secretaria de Fomento, México, D.F. 175 pp.
- Speta, F. & F. Fuchs 1989 Drei neue Pinguicula-Arten der Sektion Orcheosanthus DC. aus Mexiko; Phyton (Austria), vol. 29, fasc. 1, pp. 93–103
- Sprague, T.A. 1928. The orchid-flowered butterworts. Kew Bull. 6: 230–234
- Watson, W. 1911. Pinguicula rosei. Gard. Chron. ser. 3, 29: 82.
- Zamudio, S. 1999 Notas sobre la identidad de Pinguicula moranensis H.B.K., con la description de una variedad nueva, Acta Botanica Mexicana, 1999, vol.49, pages 23–34
Pranala luar
- A World of Pinguicula — Articles, photos, taxonomic and horticultural information
- Carnivorous Plant Photo Finder: Pinguicula
- International Carnivorous Plant Society
- Pinguicula Discussion Forum
| Pinguicula moranensis |
|
|---|---|