Pidi Baiq (lahir 8 Agustus 1972) adalah seorang penulis novel dan seniman dari Bandung.[1] Ia dikenal sebagai penulis novel, musisi, ilustrator, komikus, sutradara, dan dosen. Pidi mendirikan grup band The Panas Dalam pada 1995 dan memperoleh pengakuan melalui novel trilogi Dilan serta serial Drunken.[2]
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Pidi Baiq lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 8 Agustus 1972. Ia lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung.[2] Selama kuliah, ia aktif dalam kegiatan seni, termasuk musik dan ilustrasi.[3]
Karier
Ia pernah menjadi ilustrator yang merancang kartu pos dan menggambar komik.[4]
Musik dan The Panas Dalam
Pidi mendirikan grup band The Panas Dalam pada 1995, yang dikenal dengan gaya musik alternatif dan lirik humoris. Band ini merilis beberapa album dan tampil di berbagai acara seni di Bandung.[2] Ia juga menciptakan lagu-lagu untuk proyek musik lainnya, termasuk soundtrack untuk karya-karyanya sendiri.[3]
Penulisan dan Sastra
Pidi mulai dikenal sebagai penulis melalui novel dan buku bergenre humor. Karya-karyanya yang terkenal meliputi:
• Drunken Monster: Kumpulan Kisah Tidak Teladan (2008)
• Drunken Molen: Kumpulan Kisah Tidak Teladan (2008)
• Drunken Mama: Keluarga Besar Kisah-kisah Non Teladan (2009)
• Drunken Marmut: Ikatan Perkumpulan Cerita Teladan (2009)
Karya lain:
• Al-Asbun Manfaatulngawur (2010)
• At-Twitter: Google Menjawab Semuanya Pidi Baiq Menjawab Semaunya (2012)
• S.P.B.U: Dongeng Sebelum Bangun (2012)
• Ancika: Dia yang Bersamaku di Tahun 1995 (2021)[5]
Trilogi Dilan menjadi fenomena budaya di Indonesia, diadaptasi menjadi film pada 2018–2020, dengan Pidi terlibat sebagai penulis skenario.[2] Ia juga berkontribusi sebagai ilustrator dan komikus, menciptakan karakter untuk serial Drunken.[3]
Pendidikan
Sebagai dosen, Pidi mengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, berbagi pengalaman dalam seni dan penulisan kreatif.[2][6]
Pidi Baiq menerima penghargaan IKAPI Awards untuk kategori Writer of the Year pada 2017 dan 2019, atas kontribusinya dalam sastra Indonesia.[8][1]
Kehidupan Pribadi
Pidi Baiq tinggal di Bandung dan dikenal dengan nama panggilan "Surayah" atau "Ayah" di kalangan penggemar dan komunitas seni.[3] Informasi tentang keluarga atau status pernikahannya tidak tersedia secara publik.