Bandar Udara Internasional Phnom Penh(IATA: PNH,ICAO: VDPP) (bahasa Khmer:អាកាសយានដ្ឋានអន្តរជាតិភ្នំពេញcode: km is deprecated ; Akas Yanhthan Antorcheat Phnom Penh), sebelumnya bernama BandarUdara Internasional Pochentong, adalah bandara internasional yang telah dinonaktifkan di Kamboja dan saat beroperasi berfungsi sebagai gerbang internasional utama negara tersebut. Sebelum ditutup, bandara ini merupakan bandara terbesar kedua di Kamboja berdasarkan luas wilayah setelah Bandara Internasional Siem Reap–Angkor yang baru.[2] Bandara ini terletak di Distrik Pou Senchey,[3] 10 kilometer (5,4 NM) sebelah barat Phnom Penh, ibu kota Kamboja.
Nama lama dari bandara Phnom Penh adalah Bandar Udara Internasional Pochentong. Pada 6 Juli 1995, Pemerintah Kerajaan Kamboja (RGC) menandatangani persetujuan konsesi dengan perusahaan patungan asal Prancis-Malaysia Société Concessionaire d’Aéroport (SCA), untuk mengoperasikan Bandara Internasional Phnom Penh (PNH) - Pochentong. Ini menandakan kembalinya perusahaan yang sudah berdiri 20 tahun. SCA yang dimiliki oleh Groupe GTM (70%) dan Muhibbah Masterron (30%) berkomitmen untuk mengadakan program pengembangan senilai $110 juta yang meliputi pembangunan landasan pacu baru, bangunan terminal dan kargo, hangar, instalasi sistem pendaratan instrumen (ILS) kategori III, dan lampu pendaratan terpadu.
Berger Group dipilih oleh RGC untuk menyediakan layanan teknik independen selama konsesi, untuk mengaudit rancangan dan memberikan saran untuk kepraktisan dan biaya dari proposal pengembangan yang diajukan konsesi. Tim Berger juga mengawasi pengerjaan yang sudah berjalan untuk mengakomodir pesawat badan lebar seperti Boeing 747, termasuk lapisan landasan pacu beton aspal; pemasangan ILS baru, peralatan meteorologi, pencahayaan landasan pacu, sistem energi; dan pembangunan pangkalan pemadam kebakaran, taxiway, dan perluasan turn-pad.
Setelah kesuksesan penyelesaian pekerjaan sebelumnya, Tim Berger menyediakan penyediaan desain dan pelayanan teknik independen untuk konstruksi terminal baru seluas 18,000 meter persegi untuk mengakomodir pertumbuhan lalu lintas wisatawan asing. terminal senilai $22 juta juga meliputi 3 garbarata, lahan parkir dengan kapasitas 700 kendaraan dan fasilitas VIP dan CIP.
Bandara ini juga memiliki waralaba Dairy Queen. Waralaba ini merupakan salah satu waralaba pertama yang beroperasi di Kamboja.
Pada tahun 2020, dilaporkan bahwa SCA akan kehilangan konsesi untuk Phnom Penh (bersama dengan Siem Reap) setelah rencana pembangunan dua bandara baru di lokasi tersebut diumumkan.[5] Namun, SCA kemudian mengamankan MoU dengan Sekretariat Negara Penerbangan Sipil untuk mengoperasikan Bandara Phnom Penh yang baru, Bandara Internasional Techo.[6][7]
Pada tanggal 16 Mei 2025, Perdana Menteri Hun Manet menyatakan bahwa Bandara Pochentong akan dilestarikan sebagai situs bersejarah, dengan mengakui asal-usulnya sebagai karya Yang Mulia Raja Ayah Norodom Sihanouk. Pelestarian ini bertujuan untuk melindungi infrastruktur penting dan untuk menghormati sejarah dan ingatan bangsa.[8]
Mantan maskapai penerbangan dan tujuan
Penerbangan terakhir di Bandara Internasional Phnom Penh beroperasi pada tanggal 8 September 2025, setelah itu semua penerbangan dipindahkan ke Bandara Internasional Techo pada tanggal 9 September.
Penumpang
*Destinasi pada saat penutupan bandara pada 8 September 2025: