Asal-usul nama "Peudada" belum memiliki kesimpulan pasti dalam sumber sejarah tertulis. Namun nama tersebut telah tercatat dalam berbagai dokumen lama, termasuk catatan pelaut Portugis abad ke-16 yang menuliskannya sebagai "Pirada".
Geografi
Peudada terletak di jalur utama Banda Aceh–Medan. Wilayah ini berbatasan dengan beberapa kecamatan lain di Kabupaten Bireuen dan memiliki garis pantai yang menghadap langsung ke Selat Malaka. Sungai Krueng Peudada menjadi salah satu ciri geografis utama daerah ini dan sejak dahulu berfungsi sebagai jalur transportasi serta perdagangan.
Pada masa pemerintahan Ali Mughayat Syah (1511–1530), kerajaan-kerajaan kecil di Aceh mulai dipersatukan ke dalam Kesultanan Aceh Darussalam. Setelah proses penyatuan tersebut, Peudada menjadi bagian dari wilayah Kesultanan Aceh.
Dalam tradisi Aceh yang tercatat dalam Hikayat Malem Dagang, kawasan Peudada juga dikaitkan dengan perjalanan militer Iskandar Muda ketika mempersiapkan ekspedisi ke Malaka. Hal ini memperlihatkan bahwa Peudada memiliki posisi strategis dalam jalur pesisir utara Aceh.
Peninggalan Sejarah Islam
Peudada menyimpan sejumlah peninggalan arkeologi penting. Di Gampong Garot ditemukan kompleks makam kuno yang antara lain memuat makam Sultan Muhammad bin Sultan Mahmud Syah yang wafat pada tahun 912 H (1506 M). Temuan ini menunjukkan bahwa wilayah Peudada telah menjadi pusat aktivitas politik dan keagamaan Islam sejak awal abad ke-16 atau bahkan sebelumnya.
Selain itu terdapat sejumlah masjid tua dan situs sejarah lain yang menjadi bukti perkembangan Islam di kawasan ini. Salah satu yang terkenal adalah Masjid Tuha Bugeng yang masih mempertahankan unsur arsitektur tradisional Aceh.
Masa Kolonial Belanda
Pada masa kolonial Belanda, wilayah Peudada menjadi bagian dari kawasan Bireuen yang dikenal sebagai daerah perlawanan rakyat Aceh. Jalur pesisir dan pedalaman di sekitar Peudada sering digunakan sebagai basis perjuangan melawan kolonial Belanda selama Perang Aceh.
Masa Kemerdekaan
Setelah kemerdekaan Indonesia, Peudada menjadi bagian dari Kabupaten Aceh Utara. Ketika Kabupaten Bireuen dibentuk sebagai daerah otonom pada tahun 1999, Peudada masuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Bireuen hingga sekarang.
Pangkalan tentara kolonial Belanda di Peudada di sekitar tahun 1900
Secara administratif, Peudada berstatus kecamatan yang terdiri atas sejumlah mukim dan gampong. Kecamatan ini menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi, pertanian, perikanan, dan perdagangan di bagian barat Kabupaten Bireuen.
Ekonomi
Perekonomian masyarakat Peudada bertumpu pada:
Pertanian dan perkebunan
Perikanan laut dan tambak
Perdagangan
Usaha mikro dan industri rumah tangga
Keberadaan muara Krueng Peudada dan kawasan pesisir menjadikan sektor perikanan sebagai salah satu sumber pendapatan penting masyarakat.
Budaya
Masyarakat Peudada merupakan bagian dari masyarakat Aceh yang menggunakan Bahasa Aceh sebagai bahasa sehari-hari. Tradisi keagamaan Islam, adat mukim, meunasah, serta berbagai seni tradisional Aceh masih menjadi bagian penting kehidupan sosial masyarakat setempat.
Fakta Menarik
Peudada telah disebut dalam catatan Eropa sejak awal abad ke-16 dengan nama Pirada.
Memiliki salah satu sungai terbesar di Kabupaten Bireuen, yaitu Krueng Peudada.
Menyimpan makam-makam kuno dari awal abad ke-16 yang menjadi bukti penting sejarah Islam Aceh.
Diduga pernah menjadi kerajaan atau pelabuhan mandiri sebelum penyatuan Aceh oleh Sultan Ali Mughayat Syah.