Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (Mei 2025)
klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan.
Lihat versi terjemahan mesin dari artikel bahasa Inggris.
Terjemahan mesin Google adalah titik awal yang berguna untuk terjemahan, tapi penerjemah harus merevisi kesalahan yang diperlukan dan meyakinkan bahwa hasil terjemahan tersebut akurat, bukan hanya salin-tempel teks hasil terjemahan mesin ke dalam Wikipedia bahasa Indonesia.
Jangan menerjemahkan teks yang berkualitas rendah atau tidak dapat diandalkan. Jika memungkinkan, pastikan kebenaran teks dengan referensi yang diberikan dalam artikel bahasa asing.
Salah satu peta Piri Reis menggambarkan Samudra Atlantik dan Benua Amerika Latin
Peta Piri Reis adalah peta dunia pra-modern yang disusun pada tahun 1513 dari intelijen militer oleh laksamana Turki-Utsmani dan kartografer Piri Reis. Setengah dari peta yang bertahan menunjukkan pantai barat Eropa dan Afrika Utara dan pantai Brasil dengan akurasi yang wajar. Berbagai pulau-pulau Atlantik termasuk Azores dan Kepulauan Canary digambarkan, seperti pulau mitos Antillia dan mungkin Jepang. Setelah penaklukan Mesir oleh kekaisaran Ottoman pada tahun 1517, Piri Reis mempersembahkan peta dunia 1513 kepada Sultan Ottoman Selim I (memerintah 1512–1520). Ketika ditemukan kembali pada tahun 1929, bagian peta yang tersisa menarik perhatian internasional karena peta tersebut mencakup salinan sebagian dari peta yang hilang karya Christopher Columbus.[1]
Peta ini ditemukan di Perpustakaan Istana Topkapı di Istanbul pada tahun 1929, saat istana tersebut diubah menjadi museum. Peta ini digambar di atas perkamen yang terbuat dari kulit gazela, dan hanya sebagian kecil dari aslinya yang diketahui masih ada. Fragmen peta yang masih ada berukuran 35 x 24 inci (90 x 63 cm),[2] diperkirakan ini adalah sekitar sepertiga dari peta aslinya. Peta ini dianggap karya luar biasa dalam beberapa hal, terutama karena dibuat pada masa ketika penentuan posisi topografis dari wilayah-wilayah yang baru ditemukan.[3]
Piri Reis sangat teliti dalam proses penelitiannya dan juga mencatat sumber-sumber yang digunakannya. Dia menuliskan referensi dan sumber-sumber tersebut di peta, mengungkapkan bahwa dia menggunakan dua puluh sumber untuk menyusun peta ini, termasuk delapan peta Ptolemeus, sebuah peta Arab dari India, empat peta Portugis, serta peta-peta milik Christopher Columbus yang menggambarkan wilayah 'Tanah Barat'. Keterkaitan dengan Columbus sangat penting dalam peta ini, karena banyak fitur pada peta tersebut mendukung klaim Reis bahwa dia menyalin peta Columbus, sementara peta-peta yang dibuat oleh Columbus sendiri dianggap hilang. Nama-nama tempat yang ada di Hindia Barat menguatkan klaim tersebut.[3]
Keunikan Peta Piri Reis
Peta karya Piri Reis ini sangat unik karena menggunakan kompas dan jaringan angin untuk membantu navigasi, bukan garis bujur dan lintang seperti peta modern. Peta ini juga memiliki banyak catatan yang ditulis dalam bahasa Turki Ottoman.[3] Salah satu bagian yang menarik adalah gambaran Amerika Selatan yang sangat detail dan akurat pada masanya. Di bagian barat laut, peta ini menggambarkan gabungan Amerika Tengah dan Kuba sebagai satu daratan.[4]
Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa penggambaran yang tidak biasa di Karibia pada Peta Piri Reis mungkin berasal dari peta yang dibuat oleh Christopher Columbus, yang kini telah hilang. Peta tersebut menggabungkan Kuba dengan daratan Asia dan Hispaniola menurut Marco Polo, mencerminkan kesalahan besar Columbus yang mengira ia telah menemukan jalur menuju Asia. Di bagian selatan Samudra Atlantik, peta ini kemungkinan menggambarkan Terra Australis, sebuah daratan yang belum ditemukan pada masa itu.[4]
Patung Piri Reis di Alişahane
Peta Piri Reis sangat berbeda dari peta-peta Eropa lainnya karena dipengaruhi oleh tradisi seni miniatur Islam. Keunikan lain adalah penggunaan berbagai sumber yang tidak hanya berasal dari dunia Islam, tetapi juga dari sumber-sumber non-Muslim.[5] Sejarawan bernama Karen Pinto mencatat bahwa peta ini menggambarkan makhluk-makhluk legendaris di tepi dunia yang dikenal di Amerika, yang merupakan pergeseran dari pandangan Islam abad pertengahan yang menggambarkan samudra yang mengelilingi dunia yang tidak bisa dilalui.[6]
Peta ini masih memicu berbagai perdebatan ilmiah. Banyak ahli belum dapat memastikan sumber-sumber yang digunakan dalam pembuatannya atau jumlah peta lain yang menjadi referensi. Beberapa bagian peta ini tampaknya menggambarkan wilayah di Amerika yang belum ditemukan pada tahun 1513, tetapi tidak ada bukti konkret yang mengaitkan peta ini dengan wilayah di selatan Cananéia yang ada sekarang. Selain itu, ada juga teori yang pernah dibantah, yang mengaitkan daratan selatan tersebut dengan pantai Antarktika yang tidak tertutup es.[6]
Sepertiga bagian peta yang masih tersisa berfokus pada Samudra Atlantik dan benua Amerika. Di sudut kiri atasnya, kawasan Karibia digambarkan dengan susunan yang berbeda dari peta modern atau peta pada zamannya. Pulau besar yang digambar secara vertikal diberi label sebagai Hispaniola, dan bagian baratnya mencakup gabungan antara Kuba dan Amerika Tengah. Tulisan-tulisan di Amerika Selatan dan wilayah selatan (yang disebut Benua Selatan) merujuk pada perjalanan-perjalanan pelaut Portugis yang baru saja terjadi pada masa itu. Jarak antara Brasil dan Afrika digambarkan cukup akurat, dan pulau-pulau di Samudra Atlantik digambar sesuai dengan gaya peta laut Eropa saat itu.[7]
Namun, banyak tempat dalam peta ini yang ternyata tidak ada atau belum bisa dipastikan. Pulau bernama İle Verde (Pulau Hijau) di utara Hispaniola bisa mengacu pada banyak pulau yang berbeda. Pulau besar di tengah Atlantik yang diberi nama İzle de Vaka (Pulau Sapi) tidak cocok dengan pulau nyata atau pulau fiksi manapun yang dikenal. Menariknya, baik salah satu pulau di Atlantik maupun daratan di Amerika digambarkan sebagai pulau legendaris Antilia.[7]
Para ahli masih memperdebatkan dari mana sebenarnya asal peta-peta ini karena peta ini dibuat dalam gaya mappae mundi. Dalam arti modern, mappae mundi adalah istilah untuk peta dunia bergaya skematis (seperti gambar sederhana) yang dibuat pada zaman Kristen abad pertengahan. Namun, pada abad ke-15, istilah ini juga digunakan untuk menyebut peta dunia secara umum.
Ada juga istilah Jaferiyes menurut beberapa ahli adalah bentuk salah eja atau versi yang berubah dari kata Arab Jughrafiya, yang biasanya merujuk pada buku Geographia karya ilmuwan kuno Claudius Ptolemy. Buku ini sangat berpengaruh dan banyak dicetak pada abad ke-16, sering kali bersama dengan peta-peta buatan Nicolaus Germanus dan Maximus Planudes. Tapi ada juga kemungkinan bahwa Jaferiyes mengacu pada peta-peta dunia simbolis dari tradisi kartografi (ilmu membuat peta) Islam abad pertengahan. Tradisi ini berasal dari ilmu pengetahuan kuno dan kadang memakai istilah jughrafiya dalam judul-judul bukunya. Selain itu, para ahli juga masih berbeda pendapat soal jumlah total peta sumber yang digunakan.[8]
Dalam penelitian ini, para ahli masih memiliki pandangan yang berbeda mengenai jumlah total peta sumber yang digunakan. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa tulisan 20 peta dan mappae mundi sudah mencakup semua peta yang digunakan sehingga angka tersebut dianggap mencerminkan jumlah keseluruhan. Namun, ada juga kelompok ahli lain yang memperkirakan jumlah dokumen peta yang digunakan bisa lebih banyak lagi, mencapai angka 30 atau bahkan 34. Perbedaan pendapat ini menunjukkan adanya ketidakpastian dalam menentukan secara pasti berapa banyak peta yang digunakan dalam karya tersebut.[8]
Riwayat singkat Piri Reis
Sebagian besar biografi Piri Reis hanya diketahui melalui karya-karya kartografinya, termasuk dua peta dunia dan Kitab-ı Bahriye (Buku Masalah Maritim) yang diselesaikan pada tahun 1521. Ia berlayar bersama pamannya, Kemal Reis, sebagai pelaut Barbary hingga Kemal Reis mendapatkan posisi resmi di Angkatan Laut Ottoman pada tahun 1495. Dalam salah satu pertempuran laut, Piri Reis dan pamannya menangkap seorang Spanyol yang ikut serta dalam perjalanan Columbus, dan kemungkinan besar orang ini membawa peta awal Amerika yang kemudian digunakan Piri Reis sebagai sumber. Ketika pamannya meninggal pada tahun 1511, Piri Reis sementara waktu pensiun ke Gallipoli dan mulai menyusun peta dunia pertamanya. Naskah yang selesai itu bertanggal bulan Muharram tahun 919 H, yang setara dengan tahun 1513 M.
Piri Reis kembali ke angkatan laut dan berperan dalam penaklukan Mesir pada tahun 1517. Setelah kemenangan Ottoman, Piri Reis mempersembahkan peta dunia 1513 kepada Sultan Selim I (1512–1520). Tidak diketahui bagaimana Sultan Selim menggunakan peta tersebut, karena peta itu menghilang dari sejarah hingga ditemukan kembali berabad-abad kemudian.
Sejarah penemuan peta
Pada akhir tahun 1929, fragmen peta dunia karya Piri Reis ditemukan kembali di Istana Topkapi, Istanbul, saat kompleks tersebut sedang dialihfungsikan menjadi museum. Penemuan ini terjadi berkat inisiatif Direktur Museum Nasional Istana Topkapi, Dr. Halil Edhem Eldem, yang mengundang teolog asal Jerman, Gustav Adolf Deissmann, untuk meninjau perpustakaan istana. Deissmann, yang memiliki minat terhadap naskah-naskah kuno, kemudian berhasil memperoleh dukungan dana dari Rockefeller Foundation untuk mendukung konservasi manuskrip kuno dari koleksi istana.[7]
Sebagai bagian dari proyek tersebut, Dr. Halil Edhem memberikan Deissmann akses khusus ke koleksi dokumen non-Islam yang sebelumnya kurang mendapat perhatian. Di antara berkas-berkas yang tidak tersusun rapi, ditemukan sebuah gulungan perkamen berisi peta dengan detail visual yang tidak biasa. Gulungan ini kemudian ditunjukkan kepada orientalis Paul E. Kahle, yang mengidentifikasinya sebagai karya Piri Reis, laksamana dan kartografer Kesultanan Utsmaniyah abad ke-16. Berdasarkan catatan yang tertera pada peta, diketahui bahwa Piri Reis menyusun peta tersebut dengan merujuk pada berbagai sumber, termasuk peta-peta yang diduga berasal dari perjalanan Christopher Columbus.[7]
Penemuan ini mendapat perhatian luas, baik dari kalangan akademik maupun media internasional, terutama karena diduga mengandung fragmen dari peta Columbus yang telah lama hilang. Keterkaitan tersebut memperkuat nilai historis peta Piri Reis dalam konteks eksplorasi global awal. Menyadari pentingnya temuan ini, Presiden pertama Republik Turki, Mustafa Kemal Atatürk, mendukung pelestarian dan publikasi ulang peta tersebut. Upaya ini turut membuka kembali diskusi ilmiah mengenai kontribusi dunia Islam terhadap ilmu kartografi dan pengetahuan geografi global pada masa pra-modern.[7]
Sumber
↑"PIRI REIS". Encyclopaedia of Islam, Second Edition. Diakses tanggal 2020-10-20.