Pengepungan Kota Ramadi
Pada 25 November 2015, tentara Irak sempat melancarkan serbuan untuk kembali merebut Ramadi,[10][32] tentara Irak memutus jalur terakhir yang tersedia bagi ISIS untuk menuju kota Ramadi dengan melalui sungai Eufrat lalu Jembatan Palestina yang menjadi tempat strategis itu dirampas serta dipergunakan oleh tentara Irak.[33] Pengerjaan yang berlangsung di Jembatan Palestina dengan daerah lainnya di sebelah barat laut kota Ramadi telah mendapatkan bantuan dari serangan udara 7 koalisi.[32]
Pada 29 November 2015, tentara Irak telah mulai mengirimkan surat edaran ke Ramadi dengan menyampaikan peringatan akan ada serbuan yang barangkali segera terjadi serta menyampaikan peringatan terhadap warga awam supaya melarikan diri. Bagaimanapun juga, hanya beberapa keluarga yang memutuskan melarikan diri sesudah ISIS telah menutup rapat lintasan yang dirancang pemerintah Irak lalu juga mengurung kota tersebut sambil mengancam akan membunuh siapa saja yang mencoba melarikan diri.[34]
Pada 4 Desember 2015, pasukan Irak telah mulai bergerak maju ke distrik Tamim yang terletak di sebelah barat daya Ramadi dari Universitas Anbar dan distrik Tash.[35] Pada 8 Desember 2015, pasukan Irak menekan ke arah kota Ramadi untuk pertama kalinya sesudah memulai penyerangan[10] capturing Tamim, a key district in the southwestern area of Ramadi, separated from the rest of Ramadi city by the al-Waar River, a tributary of the Euphrates. The Iraqi Army also recaptured the Anbar Operation Control Center, near the Palestine Bridge.[35] Pertempuran tersebut diklaim menjadi suatu keberhasilan yang digaungkan, sebagaimana yang dikatakan oleh jubir pelayanan pemberantas terorisme Irak yaitu Sabah al-Numani kepada kantor berita AFB bahwasannya setelah balatentara meluncurkan gempuran ke distrik Tamim, para militan ISIS sudah tidak memiliki pilihan melainkan berjuang atau menyerah lalu mereka dibinasakan sehabis-habisnya.[36] Setelah melakukan gerakan maju, pemerintah Irak mengklaim bahwasannya mereka telah kembali merebut hingga 60% daerah Ramadi dari ISIS kendati sebagian besar kota tersebut masih berada dalam pengawasan ISIS.[37] Selama berlangsugnya pengerjaan dalam merebt distrik Tamim, 350 militan ISIS meninggal akibat dibunuh oleh serangan udara dari pasukan persekutuan pimpinan AS.[38][39] Pada 10 Desember 2015, pasukan ISIS telah meledakkan bendungan Warrar[40] yang menghubungkan Pusat Pengawasan Pengerjaan Anbar ke sebelah barat laut kota Ramadi dan kemudian terdapat jembatan Qassim yang mengantarkan warga dari distrik al-Tamim ke bagian selatan dari distrik al-Humaira.[41]
Pada 15 Desember 2015, dua pesawat tempur RAF Typhoon FGR4 mendukung tentara Irak saat melaksanakan pengerjaan di sekitar kota Ramadi lalu sebuah perkemahan ISIS disambar dengan dua bom Paveway IV.[42] Saat hari selanjutnya, pesawat tempur RAF Panavia Tornado menolong tentara Irak dalam menumpas ISIS di perbatasan kota Ramadi lalu pasukan Irak menggunakan bom Paveway IV untuk menghancurkan tempat senapan mesin berat, sekelompok penembak jitu dan segolongan para pejuang ISIS.
Pada 18 Desember 2015, brigade ke-55 dari Angkatan Bersenjata Irak menarik kembali serangan udara AS untuk melindungi gerakan maju pasukan Irak karena helikopter tentara Irak tidak akan terbang akibat cuaca yang buruk. Serangan udara tersebut mengalami gangguan dari beberapa kilometer lalu mengenai sasaran tentara Irak hingga menewaskan 9 prajurit, seorang perwira dan seorang hulubalang angkatan .[43]
Besoknya pada 20 Desember 2015, pasangan kedua dari jenis pesawat tempur GR4 telah diterbangkan untuk bertugas melakukan pengintaian sekeliling kota Ramadi serta menyediakan sambung tangan jagaan terhadap suatu serangan dari pesawat terbang koalisi lain.[42] Masih pada hari tersebut, pesawat terbang Irak juga telah mengirimkan surat selebaran ke dalam kota Ramadi lagi dengan mengumumkan peringatan bagi warga awam supaya meninggalkan kota tersebut dalam waktu sampai 72 jam.[44]
Pada 22 Desember 2015, pasukan Irak bergerak maju ke dalam pusat kota Ramadi lalu bertujuan ke arah kelompok perumahan utama pemerintah.[45] Tiga kali serangan yang dilakukan di tempat terpisah dari distrik Al-Tamim dan Al-Humaira yang berada di sebelah selatan dan barat daya telah diluncurkan ke arah utara yaitu di pusat distrik Al-Hoz, Andalus dan Al-Malab.[41] Pasukan Irak telah mengerjakan penyusunan sebuah jembatan sementara di atas sungai Al-Warrar yang memberikan jalan masuk bagi tentara Irak dalam menyeberang ke arah distrik Al-Hoz bagian selatan tempat pasukan Irak yang dilaporkan telah membuat keheranan terhadap pasukan ISIS di sana.[46] Dua pasang pesawat tempur RAF Tornado dan satu pesawat tempur RAF Reaper memerlengkapi Irak dengan dukungan angkatan udara yang berkesinambungan sepanjang pesawat terbang koalisi lain. Ketika para pejuang ISIS membedil para prajurit Irak dengan granat berpeluncur roket dan senjata-senjata ringan. Serangan tersebut cenderung melukai petugas. Dua pesawat tempur RAF Tornado datang di tengah-tengah dengan lemparan bom Paveway yang sangat jitu. Sementara itu, pesawat tempur RAF Reaper menolong pesawat terbang koalisi lain ketika terjadinya suatu serangan yang membinasakan sebuah pistol penangkis serangan kapal udara.[42] Pertempuran masih berlanjut pada hari berikutnya sewaktu bala bantuan Irak dan para pejuang yang terdiri dari berbagai suku di Irak yang beragama Islam Sunni telah dikerahkan setelah mendapatkan pelatihan dari AS untuk menjamin keamanan bagian daerah Ramadi yang telah direbut Irak dalam rangka mengirimkan prajurit gelombang pertama untuk terus menguatkan tekanan ke arah perumahan kelompok pemerintah di pusat kota Ramadi.[47] Pada 23 Desember 2015, terbangnya 2 pesawat tempur RAF Tornado GR4 telah memiliki andil bagi upaya dari angkatan udara koalisi yang menjadi penyokong terhadap gempuran yang dilancarkan tentara Irak menuju pusat kota Ramadi. Pesawat tempur RAF Tornado memiliki sasaran yang meliputi tiga kelompok teroris yang dipersenjatai dengan roket berpeluncur granat dan penembak jitu tersembunyi (sniper), sekelompok pihak NIIS yang bertempur menentang tentara Irak pada jarak yang dekat dan suatu kelompok besar yang sekurang-kurangnya berjumlah 17 teroris yang terkena imbas akibat gempuran langsung selama 6 kali dengan bom Paveway IV lagi.[48] Mulai pada 25 Desember 2015, pasukan Irak dengan pasukan sekutu dari suku-suku Irak telah berjaya dalam upaya untuk memasuki distrik Al-Haouz yang juga berjarak hingga 500 meter dari perumahan kelompok utama pemerintah.[49] Pesawat RAF Tornados tetap menyokong tumpuan dari angkatan udara dengan jarak dekat sekeliling kota Ramadi dengan sekali lagi menjalankan misi secara berdekatan dengan pesawat tempur koalisi lain dan bom Paveway IV digunakan untuk menumpas dua kelompok teroris, pasukan NIIS yang menggunakan pistol penangkis serangan pesawat tempur dan suatu susunan kelompok NIIS yang berupaya mengerahkan serangan balik setelah berhasilnya pasukan Irak untuk terus bergerak maju.[48] Pada 26 Desember 2015, pasukan Irak merebut Tanggul Ramadi di sebelah barat daya dari kota Ramadi lalu mengungsikan 120 keluarga warga awam dari kota tersebut.[50]
Pada 27 Desember 2015, pasukan Irak telah merebut kelompok perumahan pemerintah dan setelah itu mereka memermaklumkan kewijayaannya di kota Ramadi[51] lalu mengklaim bahwa pusat kota Ramadi telah berada dalam pengawasan yang penuh. Militan-militan NIIS dilaporkan telah melarikan diri ke arah timur laut dari kota Ramadi. Rupanya, pertempuran dilaporkan masih terjadi di sebelah barat daya dari kelompok perumahan pemerintah[52] dikarenakan NIIS masih memiliki kekuatan melawan. Pada 28 Desember 2015, pasukan Irak telah merebut pusat kota Ramadi secara tuntas usai sisa-sisa pasukan ISIS memutuskan melakukan penarikan diri dari kelompok perumahan pemerintah dan kawasan-kawasan sekeliling distrik Al-Hoz.[53][54] Akan tetapi, terdapat pembenaran saat hari tersebut bahwa NIIS masih memiliki kekuasaan sebanyak 30 persen atas kota tersebut.[55] Pada 29 Desember 2015, pesawat udara RAF Typhoon dan Tornado GR4 melakukan pengerjaan di sepanjang kota Ramadi sesudah pasukan Irak telah mulai bergerak maju untuk mendekati sisa-sisa daerah yang dikuasai militan-militan NIIS. Pesawat udara RAF Typhoon membombardir dua senapan mesin. Sementara itu, pesawat udara RAF Tornado mengiringkan tiga kali serangan ke arah sebuah strongpoint dan dua senapan mesin yang bersarang. Kendati terjadinya cuaca buruk yang berarti bahwa serangan-serangan itu sudah semestinya diselesaikan dengan baik melalui awan yang tebal serta meski para serdadu Irak berada dalam keadaan dekat yang mulai menghampiri sasaran, perencaan dari awak udara dengan sistem panduan kesaksamaan dari bom Paveway IV membebaskan setiap serangan yang dilakukan hingga berhasil dan tanpa berkemungkinan rugi bagi pasukan sekutu.[48] Selama pekan berlangsungnya gempuran yang terakhir di kota Ramadi bagian tengah, para pejuang NIIS yang terbunuh ditaksir hingga 400 orang.[10][56]