Pertempuran Khaibar (bahasa arab: غزوة خيبر) adalah pertempuran yang terjadi antara umat Islam yang dipimpin Muhammad dengan umat Yahudi yang hidup di oasisKhaybar, sekitar 150km dari Madinah, Arab Saudi pada 628 M / 7 H. Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan umat Islam, dan Muhammad berhasil memperoleh harta, senjata, dan dukungan kabilah setempat. Pertempuran ini terjadi sekitar dua pekan kemudian, Muhammad bahkan memimpin sendiri ekspedisi militer menuju Khaibar, daerah sejauh tiga hari perjalanan dari Madinah. Khaibar adalah daerah subur yang menjadi benteng utama Yahudi di jazirah Arab. Terutama setelah Yahudi di Madinah ditaklukkan oleh Muhammad.
Yahudi tak mempunyai cukup kekuatan untuk menggempur kaum Muslimin. Namun mereka cerdik. Mereka mampu menyatukan musuh-musuh Muhammad dari berbagai kabilah yang sangat kuat. Hal itu terbukti pada Perang Khandaq. Bagi warga Muslim di Madinah, Yahudi lebih berbahaya dibanding musuh-musuh lainnya.
Persiapan
Pertempuran ini adalah salah satu dari sekian banyak ghazwah (misi ekspansi) yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam misi beliau menyebarkan Islam.[2][3][4] Nabi memberikan bendera perang pada Miqdad bin Amr sementara Madinah dititipkan pada Abdullah bin Umi Maktum, riwayat lain menyebutkan pada Siba' bin Urfuthah.[5]
Peta Khaibar.
Pimpinan kaum munafik Madinah, Abdullah bin Ubay, segera memberitahukan pada pimpinan yahudi Madinah akan kedatangan pasukan muslimin. Muhammad melintasi Ishr dan membangun masjid di tempat itu. Lalu melintasi Ash-Shahba'. Ia dan pasukannya terus berjalan hingga menuruni lembah yang di namakan Ar-Raji'.[6] Pimpinan Yahudi segera meminta bantuan pada Bani Ghatafan untuk menghadapi muslimin dengan imbalan separuh kebun kurma. Di tengah jalan pasukan Ghatafan membatalkan bantuannya karena khawatir kampungnya diserang muslimin dari belakang.[5]
Muhammad tiba di dekat Khaibar di pagi hari. Penduduk Khaibar keluar dari rumah mereka sambil membawa sekop dan keranjang seperti biasanya, menuju kebun. Saat melihat pasukan Muslimin, mereka berteriak, "Itu Muhammad. Demi Allah, Muhammad dan pasukannya." Kemudian mereka kembali lagi ke kota mereka dengan berlarian. Muhammad berseru, "Allah Akbar, runtuhlah Khaibar! Allahu Akbar, runtuhlah Khaibar! Jika kita tiba di pelataran suatu kaum, maka amat buruklah bagi orang-orang yang mendapatkan peringatan."[5]
Muhammad memilih suatu tempat untuk dijadikan markas pasukan Muslimin. Al-Hubab bin Al-Mundzir menemui beliau dan bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah tempat yang engkau pilih ini merupakan ketetapan yang diturunkan Allah, ataukah ini hanya sekedar pendapat dalam siasat perang?" "Ini adalah pendapatku," jawab Muhammad. "Wahai Rasulullah, tempat ini terlalu dekat dengan benteng Nathat dan para prajurit Khaibar yang dipusatkan di benteng itu, dengan begitu mereka bisa mengetahui keadaan kita, sementara kita tidak bisa mengetahui keadaan mereka. Anak panah mereka juga bisa ke tempat kita ini sementara anak panah kita tidak bisa mencapai ke tempat mereka. Kita tidak bisa aman dari sergapan mereka sewaktu-waktu. Di sini banyak terdapat pohon-pohon korma, tempatnya rendah dan tanahnya kurang baik. Andaikan saja engkau berkenan memerintahkan pindah ke suatu tempat yang tidak seperti ini, lalu kita ambil sebagai markas." Muhammad menyetujui dan memindahkan markas pasukannya.[5] Muhammad serahkan tongkat komando pada Ali bin Abi Thalib pada penaklukan benteng pertama.
Khaibar terdiri dari 2 bagian wilayah, setiap wilayah terdiri dari beberapa benteng. Wilayah pertama terdiri dari 5 benteng yaitu:
Benteng Na'im
Benteng Ash-Shah bin Muadz (Ash-Sha'b)
Benteng Qal'ahAz-Zubair
Benteng Ubay
Benteng An-Nizar
Wilayah kedua terdiri dari:
Benteng Al-Qamush, benteng milik Bani Abul Huqaiq dari Bani Nadhir
Benteng Al-Wathih
Benteng As-Salalim
Peperangan
Jalan Menuju Khaibar.
Maka Muhammad menyerbu ke jantung pertahanan musuh. Suatu pekerjaan yang tak mudah dilakukan. Pasukan Romawi yang lebih kuat pun tak mampu menaklukkan benteng Khaibar yang memiliki sistem pertahanan berlapis-lapis yang sangat baik. Sallam anak Misykam mengorganisasikan prajurit Yahudi. Perempuan, anak-anak dan harta benda mereka tempatkan di benteng Watih dan Sulaim. Persediaan makanan dikumpulkan di benteng Na’im. Pasukan perang dikonsentrasikan di benteng Natat. Sedangkan Sallam dan para prajurit pilihan maju ke garis depan.
Benteng Naim
Benteng pertama yang diserbu orang-orang Muslim dari delapan benteng ini adalah benteng Na'im dan sekaligus merupakan garis pertahanan yang pertama bagi orang-orang Yahudi, karena tempatnya yang lebih strategis. Benteng ini ditempati para tokoh dan pahlawan Yahudi, yang jumlahnya ada sekitar 1000 orang. Pada awalnya Abu Bakar memimpin namun belum berhasil, lalu digantikan Umar, juga mengalami kegagalan, selanjutnya Ali memimpin hingga berhasil.[6]
Ali bin Abu Thalib bersama orang-orang Muslim menghampiri benteng ini dan menyeru orang-orang Yahudi agar mau masuk Islam. Mereka menolak seruan ini. Bersama pimpinannya yang benama Marhab, mereka keluar untuk menghadapi orang-orang Muslim. Muhammad bin Maslamah maju melawan Marhab. Ketika keduanya telah saling mendekat satu sama lainnya, tiba-tiba pohon tua di antara pohon Usyar roboh di antara keduanya. Maka masing-masing dari keduanya berlindung dari lawannya di balik pohon itu. Setiap kali keduanya berlindung di balik pohon tersebut, lawannya memotong pohon yang menghalanginya dengan pedang hingga keduanya tampak oleh lawannya, kemudian keduanya seperti satu orang yang berdiri, dan di antara keduanya tidak ada lagi dahan pohon yang menghalanginya. Marhab menyerang Muhammad bin Maslamah dan memukulnya dengan pedang, namun Muhammad bin Maslamah tertahan oleh perisainya yang terbuat dari kulit. Pedang Marhab tertahan di perisai kulit Muhammad bin Maslamah. Dalam kondisi seperti itu kemudian Muhammad bin Maslamah memukul Marhab hingga tewas.[6]
Lalu saudara Marhab, Yasir keluar membalas tetapi berhasil dibunuh Zubair bin Awwam.[5] Pada Khaibar di benteng Naim inilah nama Ali dan sahabat lainnya menjulang. Keberhasilannya merenggut pintu benteng untuk menjadi perisai sering dikisahkan.
Benteng Ash-Sha'b
Benteng Khaibar.
Selanjutnya Benteng Ash-Sha'b bisa ditaklukkan muslimin dibawah komando Hubab bin Mudzir selama 3 hari, pada benteng ini diperoleh paling banyak simpanan makanan dan ternak. Bani Sahm dari Aslam datang menemui Muhammad dan berkata,"Wahai Rasullullah demi Allah, kami kelaparan dan tidak punya apa-apa lagi." Dan pada saat itu, Muhammad tidak mempuyai apa-apa yang bisa diberikan kepada mereka. Ia berdoa,"Ya Allah, Engkau Mahatahu keadaan mereka, mereka tidak memiliki kekuatan, sementara aku tidak memiliki apa-apa yang biasa aku berikan kepada mereka. Maka taklukkan buat mereka benteng yang paling besar, paling kaya, banyak makanan dan paling banyak gizinya. Kemudian Bani Sahm pun pergi dan tidak lama berselang benteng Ash-Sha'b bin Muadz ditaklukan oleh mereka. Dan tidak ada satu benteng di Khaibar yang lebih banyak makanan dan gizinya dari benteng ini.[6]
Benteng Zubair
Lalu pasukan Yahudi selanjutnya pindah berkumpul ke benteng Zubair yang berada di puncak bukit sehingga pasukan muslimin sulit menyerangnya, akhirnya Muhammad memutuskan untuk mengepung selama 3 hari. Ada seorang Yahudi menemui seraya berkata, "Wahai Abdul Qasim, sekalipun engkau berada di sini selama sebulan, mereka tak akan ambil pusing, sebab mereka mempunyai mata air dan cadangan minuman di bawah tanah. Mereka bisa pergi ke sana pada malam hari dan mengambil minum dari sana, lalu kembali lagi ke benteng untuk bertahan di sana. Jika engkau hendak memotong jalan mereka ke mata air, tentu mereka akan keluar untuk berhadapan denganmu." Maka Muhammad memutuskan untuk menghadang jalan ke mata air ini. Karena itu, orang-orang Yahudi keluar bertempur hebat untuk mempertahankan mata air itu. Dalam pertempuran ini ada seorang Muslim yang menjadi korban, sedangkan dari pihak Yahudi ada sepuluh orang. Tak lama kemudian muslimin dapat menaklukkan benteng ini.[5]
Benteng Ubay
Pasukan Yahudi berpindah ke benteng Ubay dan bertahan di sana. Muhammad memeritahkan orang-orang Muslim untuk mengepungnya. Satu per satu para pahlawan Yahudi menantang adu tanding, yang semuanya dapat dikalahkan pasukan Muslim yang meladeninya seperti Abu Dujanah, Simak bin Kharasyah, pemilik ikat kepala berwarna merah. Setelah dapat membunuh tokoh Yahudi yang menjadi lawannya dalam perang tanding, dia segera menyelinap ke benteng di atas bukit bersama beberapa prajurit Muslim. Terjadi pertempuran di dalam benteng untuk beberapa saat sehingga pasukan yahudi yang tersisa lari ke benteng an-Nizar.[5]
Benteng Nizar
Benteng Khaibar dari Kejauhan.
Selanjutnya Benteng Nizar, benteng ini kokoh dan dipuncak bukit sehingga sulit ditembus pasukan muslimin. Karena merasa kuat maka pasukan yahudi menempatkan para wanita dan anak-anaknya disini. Dari puncak bukit pasukan yahudi melepaskan anak panah dan melontar batu dengan manjanik. Nabi kemudian memerintahkan juga menggunakan manjanik sehingga robohlah sebagian dinding benteng lalu pasukan muslimin menyerbu masuk. Sisa pasukan yahudi yang selamat lari ke benteng berikutnya di bagian kedua yang cukup jauh, meninggalkan para wanita dan anak-anaknya sebagai tawanan. Selesailah penaklukkan paruh pertama benteng Khaibar di daerah Nathat dan Asy-Syiq.[5]
Pada 3 benteng berikutnya Muhammad mengepung selama 14 hari dan terjadi pertempuran kecil, lalu dilakukan perundingan damai dengan Abul Huqaiq.[7]
Sesudah Pertempuran
Yahudi lalu menyerah. Seluruh benteng diserahkan pada umat Islam. Muhammad memerintahkan pasukannya untuk tetap melindungi warga Yahudi dan seluruh kekayaannya, kecuali Kinana bin Rabi’ yang terbukti berbohong saat dimintai keterangan Muhammad. Pada benteng al-Wathih dan as-Salalim, diperoleh 100 potong baju besi, 400 bilah pedang, 1.000 pucuk tombak, dan 500 busur.[7]
Perlindungan itu tampaknya sengaja diberikan oleh Muhammad untuk menunjukkan beda perlakuan kalangan Islam dan Kristen terhadap pihak yang dikalahkan. Biasanya, pasukan Kristen dari kekaisaran Romawi akan menghancurludeskan kelompok Yahudi yang dikalahkannya. Sekarang kaum Yahudi Khaibar diberi kemerdekaan untuk mengatur dirinya sendiri sepanjang mengikuti garis kepemimpinan Muhammad dalam politik.
Muhammad sempat tinggal beberapa lama di Khaibar. Ia bahkan nyaris meninggal lantaran diracun. Diriwayatkan bahwa Zainab binti Harits menaruh dendam pada Muhammad. Sallam, suaminya, tewas dalam pertempuran Khaibar. Zainab lalu mengirim sepotong daging domba untuk Muhammad. Muhammad sempat mengigit sedikit daging tersebut, tetapi segera memuntahkannya setelah merasa ada hal yang ganjil. Tidak demikian halnya dengan sahabat Muhammad, Bisyr bin Al Barra'. Ia meninggal lantaran memakan daging tersebut.
Setelah kejadian tersebut, Muhammad kemudian mengirim utusan untuk memanggil Zainab binti Harits. Lalu beliau bertanya kepada wanita itu: “Apakah kamu memberi racun pada daging ini?” wanita Yahudi itu menjawab, “Siapa yang memberimu kabar?” beliau menjawab: “Yang memberiku kabar adalah apa yang ada di tanganku ini.” wanita Yahudi itu berkata, “Benar.” Beliau bertanya lagi: “Apa yang kamu inginkan?” wanita Yahudi itu menjawab, “Dalam hati aku berkata, ‘Jika dia memang seorang Nabi maka dia tidak akan mendapatkan bahaya, tetapi jika bukan seorang Nabi maka kami dapat beristirahat darinya’.[6]
Kemudian Muhammad memberi maaf pada Zainab binti Harits dan ia masuk Islam karena telah nyata kebenaran kenabian Muhammad. Pada riwayat berikutnya ia kemudian dihukum mati karena tuntutan qhisos dari keluarga Bisyr bin Al-Bara'.
Khaibar telah ditaklukkan. Rombongan pasukan Muhammad kembali ke Madinah melalui Wadil Qura, wilayah yang dikuasi kelompok Yahudi lainnya. Pasukan Yahudi setempat mencegat rombongan tersebut. Sebagaimana di Khaibar, mereka kemudian ditaklukkan pula. Sedangkan Yahudi Taima’ malah mengulurkan tawaran damai tanpa melalui peperangan dengan dibantu mediasi oleh Muhayyishah bin Mas'ud dari Bani Haritsah.[6]
Dengan penaklukan tersebut, Islam di Madinah telah menjadi kekuatan utama di jazirah Arab. Ketenangan masyarakat semakin terwujud. Dengan demikian, Muhammad dapat lebih berkonsentrasi dalam dakwah membangun moralitas masyarakat.
Kaum Yahudi menyerah dengan syarat membayar pajak dan memberikan tanahnya kepada umat Islam. Akibatnya, mereka banyak yang menjadi hamba sahaya. Menurut Stillman, orang-orang Yahudi dari Bani Nadhir tidak termasuk dalam perjanjian ini, dan seluruh orang bani Nadhir akhirnya dibunuh, kecuali anak-anak dan wanita yang dijadikan budak.[8] Setelah pertempuran ini orang-orang Yahudi masih tinggal di Khaibar, hingga akhirnya diusir oleh khalifahUmar bin Khattab. Pembebanan pajak terhadap orang-orang Yahudi menandai dimulainya penerapan jizyah terhadap para dzimmi di bawah pemerintahan Islam, dan penahanan tanah mereka menjadi milik komunitas Islam.[9][10]
Pada momen Khaibar ini, Muhammad melarang empat hal; menggauli tawanan wanita yang sedang hamil, memakan keledai jinak, memakan binatang buas yang memiliki taring, dan menjual rampasan perang hingga dibagikan.[6]
Ketika Muhammad dalam perjalanan pulang dari Khaibar dan tiba di salah satu tempat pada akhir malam, ia menanyakan pada sahabat siapa di antara mereka yang bersedia berjaga sampai shubuh sehingga mereka bisa tidur, Bilal mengatakan bersedia. Muhammad pun berhenti dan para sahabat pun ikut berhenti, lalu merekapun tidur. Kemudian Bilal shalat beberapa raka'at. Usai mengerjakan shalat, kemudian ia bersandar pada untanya untuk menanti datangnya shubuh tiba, akan tetapi ia tidak bisa mengalahkan rasa kantuk akhirnya dia pun tertidur pulas. Tidak ada yang membangunkan dan para sahabat kecuali sengatan panas sinar matahari. Sehingga mereka solat subuh setelah matahari terbit.[6]
Pendapatan Ekonomi
Tanah Khaibar dibagi menjadi 30 kelompok. Setiap kelompok dibagi lagi menjadi 100 bagian, hingga jumlah totalnya ada 3600 bagian. Nabi dan orang-orang Muslim mendapat separohnya, yaitu 1800 bagian. Beliau mendapat satu bagian seperti yang didapat Muslim lainya. Sementara separoh lainnya, sebanyak 1800 bagian dikhususkan untuk para wakil beliau dan untuk urusan umum kaum Muslimin dimana sebagian yahudi diperbolehkan untuk mengelola sebagian kebun kurma muslimin. Orang-orang Muslim yang ikut dalam peristiwa Hudaibiyah, yang jumlahnya 1400 orang, juga mendapat bagian dari separoh yang terakhir ini, baik yang saat Perang Khaibar itu mereka ikut bergabung atau tidak. Secara umum perekonomian muslimin meningkat pesat setelah penaklukkan Khaibar.[5]
Estimasi pendapatan Muhammad dan keluarganya berkisar lebih 100 miliar rupiah per tahun melalui pengelolaan kebun kurma dari Khaibar dan Fadak. Setiap istri Muhammad mendapatkan jatah 80 wasaq (karung) kurma dan 20 wasaq gandum yang bernilai lebih 100 juta rupiah pertahun. Sementara pasukan muslimin yang terlibat diestimasikan memperoleh sekitar 140 juta rupiah pertahun.[11] Setelah peristiwa Khaibar ekonomi Muhammad dan muslimin secara keseluruhan mengalami peningkatan.
Karena kemenangan umat Islam dalam pertempuran ini, kata "Khaibar" sering disebutkan dalam slogan, lagu, atau senjata-senjata buatan orang-orang Islam.
Para Sahabat Kembali dari Habasyah
Pada saat akhir pertempuran Khaibar ini berlangsung, rombongan sahabat Ja'far bin Abu Thalib dan Abu Musa al-Asy'ari tiba di Madinah. Nabi menyambut dan memeluk Ja'far dan berkata, "Demi Allah, aku tidak tahu karena apa aku gembira, entah karena penaklukkan Khaibar entah karena kedatangan Ja'far." Muhammad juga menikahi Shafiyah binti Huyay setelah memerdekakannya dari tawanan perang.[5] Ada sejumlah 16 keluarga sahabat yang kembali dari Habasyah.
Korban Pertempuran
Berikut nama-nama pasukan muslimin yang terbunuh (syahid) dalam pertempuran Khaibar. Dari Quraisy, yaitu dari Bani Umaiyyah bin Abdu Syams dan kolega-kolega mereka, yaitu: Rabi'ah bin Aktsam bin Sakhbarah bin Amr bin Lakiz bin Amir bin Ghanm bin Dudan bin Asad, Tsaqif bin Amr, Rifa'ah bin Masruh.
Korban dari Bani Asad bin Abdul Uzza adalah Abdullah bin AI-Hubaib Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Al-Habib bin Uhaib bin Suhaim Bani Ghiyarah dari Bani Sa'ad bin Laits kolega Bani Asad dan anak saudara perempuan mereka.
Korban dari kaum Anshar, yakni dari Bani Salimah adalah sebagai berikut: Bisyr bin Al-Barra' bin Ma'rur ia meninggal dunia karena memakan daging kambing beracun yang disiapkan Zainab Binti Haritsah untuk Muhammad, dan Fudhail bin An-Nu'man. Maka jumlah seluruhnya dua orang.
Dari Bani Zuraiq adalah Mas'ud bin Sa'ad bin Qais bin Khaladah Amir bin Zuraiq. Dari kalangan Al-Aus yakni dari Bani Abdul Asyhal adalah Mahmud bin Maslamah bin Khalid bin Adi bin Majda'ah bin Haritsah bin Al-Haritsah. Ia kolega mereka dari Bani Haritsah.
Dari Bani Amr bin Auf adalah sebagai berikut: Abu Dhayyah bin Tsabit bin An-Nu'man bin Umaiyyah bin Umru'ul Qais bin Tsa'labah bin Amr bin Auf, Al-Harits bin Hathib, Urwah bin Murrah bin Suraqah, Aus bin Al-Qaid, Unaif bin Hubaib, Tsabit bin Atslah dan Thal- hah. Sedangkan dari Bani Ghifar adalah Umarah bin Uqbah. Ia terkena bidikan panah.
Dari Aslam adalah sebagai berikut: Amir bin Al-Akwa', dan Al-Aswad ia seorang peng- gembala yang nama aslinya adalah Aslam. Ia seorang penggembala yang berasal dari Khaibar. Korban dari Bani Zuhrah adalah Mas'ud bin Rabi'ah sekutu mereka dari Al-Qarah, demikian menurut Az-Zuhri. Korban kaum Anshar dari Bani Amr bin Auf adalah Aus bin Qatadah.[6]