Pertempuran Hutan Teutoburg (bahasa Jerman:Schlacht im Teutoburger Waldcode: de is deprecated , Hermannsschlacht, atau Varusschlacht, bahasa Italia:Disfatta di Varocode: it is deprecated ), dijuluki Bencana Varus (Clades Variana) oleh sejarawan Romawi, adalah sebuah pertempuran yang berlangsung di Hutan Teutoburg pada tahun 9 M, ketika persekutuan suku-suku Jermanik menyergap dan berhasil menghancurkan tiga legiun Romawi beserta satuan-satuan pendukungnya. Persekutuan suku Jermanik ini dipimpin oleh Arminius, sementara pasukan Romawi berada di bawah komando Publius Quinctilius Varus. Sebelumnya Arminius telah memperoleh kewarganegaraan Romawi dan mengenyam pendidikan militer Romawi, sehingga ia mampu menipu komandan Romawi dan mengantisipasi gerak-gerik pasukan Romawi.
Walaupun Romawi berhasil melancarkan kampanye militer dan melakukan serangan di wilayah Germania beberapa tahun seusai pertempuran ini, mereka tidak lagi mencoba menaklukkan wilayah Germania yang terletak di sebelah timur Sungai Rhein. Kemenangan suku-suku Jermanik di Hutan Teutoburg berdampak sangat besar terhadap sejarah suku Jermanik dan Romawi. Sejarawan pada masa itu dan juga sejarawan modern menganggap kemenangan Arminius sebagai "kekalahan terbesar Romawi",[3] salah satu pertempuran paling menentukan dalam sejarah,[4][5][6][7][8] dan "titik balik dalam sejarah dunia".[9]
Konon setelah mendengar kabar mengenai kekalahan di Hutan Teutoburg, sejarawan Suetonius mencatat di dalam buku De vita Caesarum ("Kehidupan Kaisar-Kaisar") bahwa Kaisar Augustus sangat terguncang sehingga ia membantingkan kepalanya ke tembok istananya dan berkali-kali berteriak:
"Quintili Vare, legiones redde!code: la is deprecated “ ('Quintilius Varus, kembalian legiun-legiunku!')
Nomor legiun XVII dan XIX juga tidak pernah lagi digunakan oleh Romawi (Legio XVIII didirikan lagi pada masa Kaisar Nero, tetapi akhirnya dibubarkan pada masa Vespasianus).
Pasukan Romawi, yang banyak diantaranya tersesat serta kelelahan karena lebatnya hutan, menjadi berantakan sehingga menjadi sangat rentan untuk diserang. Sementara orang Romawi kehilangan komando yang efektif serta tidak bisa melihat musuh mereka, orang-orang Jermanik melancarkan serangan pukul-lari terhadap orang Romawi yang terpencar-pencar.
Walaupun begitu, pasukan Romawi mampu melawan dengan sengit. Hal ini terjadi terutama karena pelatihan serta pengalaman tempur mereka yang cukup baik, ditambah dengan kepemimpinan yang agresif dari perwira mereka. Namun, orang Romawi makin terdesak karena kehilangan inisiatif
Dalam budaya populer
Opera tahun 1736 Arminio, oleh Handel, dikenal sebagai "kemungkinan opera terlemah Handel", known as "possibly Handel's weakest opera", mengagungkan pemimpin Jerman yang mengalahkan Romawi di Teutoberg.[10]
Novel sejarah tahun 1792 Marcus Flaminius oleh Cornelia Knight mengikuti tokoh utama yang selamat dalam pertempuran.[11]
Wolves of Rome adalah novel sejarah tahun 2016 oleh Valerio Massimo Manfredi. Diterbitkan pertama kali dalam bahasa Italia pada 2016 sebagai Teutoburgo[it], diterbitkan dalam bahasa Inggris pada 2018, ini adalah cerita fiksi tentang kehidupan Armin (Hermann) dan berbagai peristiwa Hutan Teutoburg.[13]
Barbarians, seri orisinal dari Jerman mendetail kampanye Kekaisaran Romawi di Germania pada 9 Masehi, ditayangkan di Netflix pada Oktober 2020.[14]
Catatan kaki
↑Wells, Peter S. The Battle that stopped Rome. New York: W.W. Norton & Company. 2003, hlm. 187 ISBN0-393-32643-8
↑Pagán, V. E. (2002). "Actium and Teutoburg: Augustan Victory and Defeat in Vergil and Tacitus". Clio and the Poets. Brill. hlm.45–59. doi:10.1163/9789047400493_004. ISBN9789047400493.
↑Stucchi, S. (2016). "L'uomo ha bisogno di sognare, perciò la narrativa batte la storia" [Man needs to dream, so fiction trumps history]. Libero: 24. hdl:10807/94857.