Setelah menyerang banyak kota di wilayah pesisir Pantai Utara Pulau Jawa, Pasukan Trunajaya berhasil menguasai kota Surabaya hingga Tegal dari Mataram dan Belanda kecuali Jepara yang masih diduduki oleh Belanda.
Pada tanggal 25 September 1650 Amangkurat I selaku raja Mataram memerintahkan raja Cirebon yaitu Panembahan Ratu II/Pangeran Martasari untuk menyerang Kesultanan Banten untuk menaklukkannya.
Pasukan Cirebon dikerahkan dengan 60 kapal dibawah pimpinan Ngabehi Panjangjiwa untuk menyerang Banten dari laut. Setelah sampai di Banten pasukan Cirebon disergap oleh pasukan Banten, Ngabehi Panjangjiwa menyerah dan dibawa kepada raja Banten, tetapi ia diampuni.[1][2][3]
Penahanan Sultan Cirebon & anak-anaknya oleh Amangkurat I
Pada tahun 1661 Amangkurat I mengundang Raja Cirebon (Panembahan Ratu II) untuk mengadakan upacara penghormatan sebagai Raja baru Cirebon, Panembahan Ratu II mengajak kedua anaknya yang bernama Martawijaya dan Kertawijaya ke Mataram.[4][5][6]
Namun sesampainya disana mereka ditahan oleh Amangkurat I dan tidak boleh kembali ke Cirebon.[7] Hingga pada tahun 1677 Panembahan Ratu II wafat di Mataram.[4][8]Selama 16 tahun Kesultanan Cirebon terjadilah kekosongan kekuasaan karena Rajanya yang ditahan di Mataram, Dan dimasa inilah Cirebon berada dibawah pengaruh Banten dan Mataram.[9][10][11]
Wangsakerta selaku anak ketiga dari Panembahan Ratu II yang memimpin Cirebon selama 16 tahun ini meminta pertolongan kepada Banten agar menolong untuk membebaskan Martawijaya dan Kertawijaya dari Mataram.[8]
Jalannya konflik
Karena saat itu Banten membantu Trunajaya dengan mengirimkan pasukan darat[e], Banten memanfaatan kesempatan itu untuk membebaskan kedua anak Panembahan Ratu II itu dari tahanan Mataram.[8]
Lalu pada tahun 1677 Trunajaya berhasil merebut Plered dari Mataram dan Raja Mataram yaitu Amangkurat I terbunuh saat melarikan diri dari kejaran pemberontak,[12][13] sehingga Martawijaya dan Kertawijaya berhasil selamat dari tahanan Mataram dan dipulangkan ke Banten oleh Trunajaya.[14]
Menyerahnya Syahbandar Mataram di Cirebon
Sebelum mnyerang Plered, pasukan Trunajaya terlebih dahulu menyerang Cirebon pada tanggal 5 Januari 1677 agar Belanda tidak dapat mengirimkan pasukan kepada Mataram melewati Cirebon, pasukan Trunajaya yang dipimpin oleh Ngabehi Sindukarti (paman Trunajaya) dan Ngabehi Langlangpasir sampai di pelabuhan Cirebon dengan 12 kapal berisi 150 pasukan, mereka menuntut agar wakil Mataram yang ditempatkan di Cirebon sebagai Syahbandar yaitu Martadipa menyerah dan menyetujui syarat-syaratnya, yaitu:[12][15][16]
1. Cirebon tidak lagi membayar pajak kepada Mataram 2. Tentara Madura harus melindungi anak-anak dan wanita 3. Sandera Cirebon tidak ada lagi yang dikirim ke Mataram 4. Selanjutnya Cirebon berada di bawah pemerintahan rajanya sendiri 5. Cirebon berada di bawah pertanggungan hak-hak Sultan Banten 6. Orang Cirebon menyokong Banten dengan senjata serta mengakui Sultan Banten sebagai pelindung.
Syarat-syarat tersebut disertai peringatan dengan ancaman seandainya tidak diterima. Martadipa yang pada saat itu telah berusia lanjut akhirnya menerima syarat yang disodorkan kepadanya atas nama Raden Trunajaya dan bersedia menyerahkan kekuasaannya kepada keturunan atau kerabat dekat Panembahan Ratu II.
Akhir konflik
Setelah menyerahnya syahbandar Mataram di Cirebon, akhirnya Cirebon masuk kedalam pengaruh Banten dan Trunajaya.
Penobatan, kontroversi, dan pembagian wilayah di Cirebon
Pembagian wilayah Kesultanan Cirebon oleh Kesultanan Banten pada tahun 1677
Setelah kematian Panembahan Ratu II diketahui bahwa Cirebon tidak memiliki raja, karena kekosongan tahta Cirebon tersebut, Sultan Abdulfath selaku raja Banten menobatkan anak Panembahan Ratu II yang ke-3 yaitu Wangsakerta sebagai Sultan Cirebon. Namun penobatan tersebut menimbulkan kontroversi dibanyak pembesar Cirebon, salah satunya adalah kedua anak Panembahan Ratu II yang baru bebas dari tahanan Mataram pula ingin menjadi raja Cirebon. Karena banyak menimbulkan kontroversi dibanyak pihak akhirnya raja Banten membagi Cirebon menjadi 2 kerajaan & 1 peguron yaitu:[17][18]
Kesultanan Kasepuhan Dipimpin oleh:Martawijaya dengan gelar Sultan Sepuh I Sultan Raja Syamsudin Martawidjaja.
Kesultanan Kanoman Dipimpin oleh:Kertawijaya dengan gelar Sultan Anom I Sultan Badruddin Martawidjaja.
Kesultanan Kacirebonan Dipimpin oleh Wangsakerta dengan gelar Sultan Kacirebonan I Sultan Muhammad Chaeruddin bin Sultan Anom Chaeruddin.
Dua orang menjadi sultan dan memiliki wilayahnya masing-masing yaitu Pangeran Martawijaya dan Kartawijaya sementara satu orang yaitu Pangeran Wangsakerta menjadi Panembahan tanpa wilayah kekuasaan namun memegang kekuasaan atas kepustakaan keraton.[17][18]
↑Hardjasaputra, Sobana (2011). Cirebon dalam 5 zaman Abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-20. Bandung:Dinas Pariwisata dan Kepustakaan Provinsi Jawa Barat. hlm.90–91.
↑Banten membantu Trunajaya secara diam-diam agar tidak terlibat perang dengan Belanda. Dan Banten membantu Trunajaya dengan mengirimkan pasukan darat dan mengirimkan perahu untuk menyerang Pantai Utara
Sumber
Hardjasaputra, Sobana (2011). Cirebon dalam 5 zaman Abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-20. Bandung:Dinas Pariwisata dan Kepustakaan Provinsi Jawa Barat.
Rosita, Heni (2015). Pecahnya Kesultanan Cirebon dan pengaruhnya terhadap masyarakat Cirebon tahun 1677–1752. Universitas Negeri Yogyakarta.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.