Perang Salib melawan sesama Kristen adalah sebuah Perang Salib yang diserukan dengan melibatkan Tentara Salib untuk melawan berbagai jemaat Kristen yang dianggap menganut kesesatan alih-alih orang non-Kristen. Perang ini marak terjadi sejak abad ke 12, ketika fokus perang tidak lagi mengarah kepada pembebasan Yerusalem. Umumnya, perang semacam ini terjadi di Eropa, baik dengan latar belakang perbedaan ajaran (seperti Katarisme di Prancis dan Husite di Bohemia) maupun politik (seperti terhadap Ruggeru II Markward von Anweiler di Sisilia). Perang Salib ini juga mencakup perang antara kepausan melawan antipaus dan pendukungnya. Gereja Katolik Romapada masa itu menawarkan indulgensi perang salib, sebagaimana perang salib lainnya, kepada mereka yang berpartisipasi pada perang ini, sementara gereja mendapatkan dana tambahan melalui sumbangan umat.[1]
Miniatur yang menunjukkan Paus Innocent III mengucilkan, dan tentara salib membantai kaum Cathar (BL Royal 16 G VI, fol. 374v, 14th)abad)
Gerakan Perdamaian dan Jeda Allah menawarkan pertahanan militer terhadap gereja dan klerus, serta harta benda yang disimpannya. Hal ini menguatkan pengaruh kepausan terhadap penganut-penganutnya yang setia. Pada tahun 1053 Paus Leo IX memimpin pasukan untuk menyerang orang Norman di selatan Italia dan memberikan indulgensi bagi yang ikut serta, meskipun mereka kalah telak di Civitate. Paus Gregorius VII menganggap pertempuran kepausan di bawah milisi Sancti Petricode: la is deprecated sebagai bentuk penitensi. Kasus-kasus tersebut bukanlah penerapan teori Agustinian tentang perang yang benar, melainkan tentang perjuangan mempertahankan gereja sejak abad ke-8. Beberapa penulis gereja sejak akhir abad ke-11 seperti Anselm dari Lucca dan Bonizo dari Sutri berfokus pada kaum heretik dan skismatik daripada orang kafir. Setelah Perang Salib Pertama, pasukan Perang Salib diarahkan untuk menyelesaikan persoalan di Eropa seperti menjaga perdamaian di Prancis utara, menyelesaikan perselisihan dengan Raja Roger II dari Sisilia pada tahun 1120-an dan 1130-an, melawan berbagai bidat, antipaus dan pendukungnya, serta kelompok tentara bayaran pada tahun 1130-an dan 1170-an. Konon, Paus Inosentius III melancarkan perang salib "politik" pertama pada bulan November 1199 melawan Markward von Anweiler di Sisilia. Pasukan perang salib mulai dikerahkan secara sejak pada tahun 1208 untuk menghadapi kaum Kathar di Prancis selatan dan pendukungnya. Di tengah-tengah Perang Salib Albigensian (1209-1229), Konsili Lateran Keempat 1215 menyatakan peperangan melawan Albigensis setara dengan perang salib Timur.[1]
Objek peperangan
Berikut kelompok kekristenan yang diperangi sebagai bagian dari perang salib. Kelompok ini tidak hanya mencakup jemaat dan komunitas religius, tetapi juga entitas politik dan dinasti tertentu.
Para petani Belanda di Drenthe dari tahun 1228 hingga 1232;
Dinasti Hohenstaufen dari Kekaisaran Romawi Suci dan Sisilia dari tahun 1239 hingga 1269. Negara Kepausan ingin melindungi wilayahnya di Sisilia, Ancona dan Spoleto, serta mencegah pengepungan wilayahnya di Jerman dan Italia. Jean dari Briennemelancarkan kampanye militer dengan dukungan dana gereja dari tahun 1228 hingga 1230, tetapi baru pada tahun 1239 Gregorius IX mengumumkan perang salib melawan Friedrich II yang mengancam Roma. Setelah kematian kaisar, perang salib berlanjut melawan putra-putranya, Conrad IV dari Jerman yang sah dan Manfred, Raja Sisilia yang tidak sah. Paus Klemens IV merekrut Carlo I, adik Louis IX dari Prancis, dan mengalahkan Manfred di Benevento pada Februari 1266, dilanjutkan kekalahan Conradin, putra Conrad IV pada Agustus 1268 di Tagliacozzo. Eksekusi Conradin di bulan Oktober melenyapkan garis patrilineal Staufen.
Ezzelino III da Romano dan saudaranya, Alberic, pada tahun 1255.
Vesper Sisilia: Rakyat Sisilia memberontak pada tahun 1282 melawan Raja Carlo I dari dinasti Angevin dan mengangkat menantunya, Pero III dari Aragon, sebagai raja baru. Dua perang salib (1283 terhadap Aragon dan 1285 terhadap Sisilia) mengalami kegagalan dan penerus Pero III, Fidiricu III, menolak melepas Sisilia kepada Dinasti Angevin. Konflik tersebut baru selesai pada tahun 1302 melalui perjanjian Caltabellota.
Fra Dolcino dan pengikutnya di Piedmont pada tahun 1306.
Venesia, berkaitan dengan klaim Ferrara pada tahun 1309–1310
Beberapa kekacauan di Italia: Milan dan Ferrara pada tahun 1321 oleh kardinal-legatus seperti Bertrand du Pouget dan Gil Albornoz; Milan, Mantua, dan pemberontak di Ancona pada tahun 1324; melawan Cesena dan Faenza pada tahun 1354; melawan Milan lagi pada tahun 1360, 1363, dan 1368; melawan tentara bayaran seperti kelompok Konrad von Landau pada tahun 1357, 1361 dan 1369–1370.
Selama Skisma Barat antara tahun 1378 dan 1417, Paus Urbanus VI melancarkan perang salib melawan saingannya dari Avignon, Antipaus Klemens VII dan Yohanes XXIII; para antipaus juga memberikan hak istimewa kepada tentara salib mereka sendiri.
Tyerman, Christopher (2006). "Crusades against Christians". Dalam Murray, Alan V. (ed.). The Crusades: An Encyclopedia. Vol.I:A-C. ABC-CLIO. hlm.325–329. ISBN978-1-57607-862-4.