Coventry City dan ICGV Albert di lepas pantai Westfjords
Tanggal
1 September– 12 November 1958
Lokasi
Perairan di sekitar Islandia
Hasil
Perjanjian antara Britania Raya dan Islandia; Britania mengakui aneksasi Islandia, sedangkan Islandia sepakat membawa permasalahan klaim lainnya ke Mahkamah Internasional Den Haag
Perubahan wilayah
Islandia memperluas wilayah perairannya sampai 12 mil laut
Perang Kod, disebut juga Perang Kod Islandia (bahasa Islandia:Þorskastríðincode: is is deprecated , "perang kod"; atau Landhelgisstríðin, "perang perebutan perairan"[2]), adalah serangkaian konfrontasi yang terjadi tahun 1950-an dan 1970-an antara Britania Raya dan Islandia soal hak menangkap ikan di Atlantik Utara. Konflik ini berakhir tahun 1976 setelah Britania raya mengakui zona perikanan eksklusif Islandia sejauh 200 mil laut.
perluasan 12 nmi (batas wilayah perairan saat ini)
perluasan 50 nmi
perluasan 200 nmi (batas ZEE saat ini)
Zona Maritim Berdasarkan Hukum Internasional
Penduduk Islandia pada waktu itu hampir seluruhnya bergantung pada perikanan sebagai sumber pendapatan.[3]
Seiring meningkatnya kecanggihan penangkapan ikan berkat mesin uap pada akhir abad ke-19, pemilik kapal dan kapten dipaksa oleh atasannya untuk mengeksploitasi perairan baru. Tangkapan besar di perairan Islandia berarti pelayaran melintasi Atlantik Utara akan semakin rutin dilakukan. Pada tahun 1893, pemerintah Denmark, saat itu penguasa Islandia dan Kepulauan Faroe, mengklaim wilayah tangkapan ikan 50nmi (93km) di sekitar pesisirnya. Pemilik kapal penangkap ikan Britania Raya menolak klaim ini dan terus mengirimkan kapal ke perairan Islandia. Kapal senjataDenmark yang berpatroli di sana mengawal kapal-kapal penangkap ikan ilegal ke pelabuhan Islandia, menjatuhkan denda, dan menyita hasil tangkapan mereka.
Pada tahun 1896, Britania Raya membuat perjanjian dengan Denmark yang mengizinkan kapal Britania Raya berlabuh di pelabuhan manapun di Islandia asalkan semua peralatan dan jaringnya disimpan. Sebagai imbalan, kapal Britania tidak diizinkan mencari ikan di sebelah timur garis yang ditarik dari Illunypa sampai Thornodesker Islet.[4]
Pada April 1899, kapal uap penangkap ikan Caspian sedang menangkap ikan di lepas pantai Kepulauan Faroe, lalu sebuah kapal senjata Denmark mencoba menawan Caspian atas tuduhan mencari ikan secara ilegal di dalam batas yang disepakati. Caspian menolak berhenti dan ditembaki. Akhirnya Caspian berhasil ditawan, tetapi sebelum menaiki kapal Denmark, kapten memerintahkan mualim untuk melarikan diri. Caspian kabur dengan kecepatan penuh. Kapal senjata Denmark terus menembakinya, tetapi kapal penangkap ikan tersebut lolos dan tiba di Grimsby dalam keadaan rusak parah. Kapten Caspian diikat di tiang kapal Denmark. Sidang di Thorshavn menyatakan sang kapten bersalah dengan tuduhan penangkapan ikan ilegal dan upaya penyerangan; ia dipenjara selama 30 hari.
Dengan banyaknya kapal penangkap ikan Britania yang ditawan dan didenda oleh kapal senjata Denmark karena menangkap ikan secara ilegal di dalam batas 13 mil (24,1km) ini (yang tidak diakui pemerintah Britania), pers Britania mulai mempertanyakan mengapa aksi Denmark terhadap kepentingan Britania dibiarkan terjadi tanpa campur tangan Angkatan Laut Kerajaan. Permasalahan ini tidak terselesaikan, dan sengketa ini berakhir seiring menurunnya aktivitas penangkapan ikan ilegal pada Perang Dunia Pertama.
Ingo Heidbrink: “Deutschlands einzige Kolonie ist das Meer” Die deutsche Hochseefischerei und die Fischereikonflikte des 20. Jahrhunderts. Hamburg (Convent Vlg) 2004.
Kurlansky, Mark. Cod: A Biography of the Fish That Changed the World. New York: Walker & Company, 1997 (reprint edition: Penguin, 1998). ISBN 0-8027-1326-2, ISBN 0-14-027501-0.