Pertempuran
Rasulullah menerima wahyu untuk segera mengepung Bani Quraizhah dan bergegas untuk melaksanakannya dan menginstruksikan kepada para sahabatnya untuk bergerak ke arah Bani Quraizhah. Bahkan supaya cepat sampai tujuan, Rasulullah berkata :
"Janganlah ada satupun yang shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah [HR. Bukhari, al-Fath, 15/293, no. 4119]"
Mengenai pesan Rasulullah agar shalat Ashar di daerah Bani Quraizhah, terjadi perbedaan penafsiran di antara para sahabat. Sebagian dari mereka masih sempat mendapatkan waktu Ashar di jalan dan melaksanakannya, sebagian lainnya melaksanakan Shalat Ashar setelah Shalat Isya ketika sampai di daerah Bani Quraizhah. Masalah tersebut di adukan kepada Rasulullah. Beliau tidak menyalahkan seorangpun di antara para sahabat.
Tatkala Muhammad tiba di Bani Quraizhah, ia istirahat di salah satu sumur Bani Quraizhah di sisi kebun mereka yang bernama sumur Una atau sumur Anna. Kaum yahudi meminta agar Muhammad mengirim Abu Lubabah untuk negosiasi, maka Muhammad mengirim Abu Lubabah kepada Bani Quraizhah. Ketika mereka melihat Abu Lubabah maka orang laki-laki, wanita-wanita, dan anak-anak berdatangan kepadanya kemudian menangis di hadapannya hingga Abu Lubabah merasa kasihan kepada mereka. Muhammad mengepung Bani Quraizhah selama 25 hari sampai mereka menyerah.[1]
Rasul memerintahkan untuk menahan semua Yahudi laki-laki dan membelenggu tangan mereka Para wanita dan anak –anak digiring ke tempat yang terpencil. Para tawanan meminta agar salah seorang dari kaum mereka-lah (Sa’ad bin Mu’adz) yang membuat keputusan.[4]
Sa’ad bin Mu’adz yang terluka akibat panah pada perang sebelumnya, memutuskan untuk membunuh orang-orang Yahudi laki-laki, menjadikan wanita-wanita sebagai tawanan, dan harta benda dibagi rata.Dalam Sirah Nabawiyah - Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarahfuri, keputusan Sa’ad adalah keputusan yang tepat, karena selain telah melakukan pengkhianatan, Bani Quraizhah telah menyiapkan 1500 pedang, 2000 tombak, 300 baju besi, dan 500 perisai untuk menghancurkan kaum muslimin.[5]
Nabi Muhammad setuju karena sesuai dengan perintah Allah,[6][7][8][9][10] di mana setiap laki-laki dewasa dipenggal.[11][12] [13] Ulama Hadits Tabari mengutip 600–900 telah dipenggal.
Tapi jumlah tersebut masih dalam perdebatan karena dalam Hadits Shahih tidak disebutkan berapa jumlah yang dihukum mati bahkan ada riwayat yang mengatakan hanya 40 orang tokoh Bani Quraizhah yang dihukum mati.[1][14] Hadits sunni tidak menyebutkan jumlah yang tewas, tetapi semua laki-laki tewas dan seorang wanita.[15] Wanita lainnya dan anak-anak ditawan atau ditukar dengan senjata dan kuda dari wilayah Najd yang diantar Sa'ad Zaid, menurut sumber Islam.[1] Muhammad mengambil tawanan bernama Raihanah binti Amr bin Junafah.[16]
Menurut Ibnu Katsir, Ayat Quran ayat 33:26-27 and 33:9-10 tentang penyerbuan ke Bani Quraizhah.[17][18]
Bani Quraizhah dahulu bersekutu dengan Muhammad dan selama pertempuran Khandaq, mereka meminjamkan peralatan perang untuk berjaga-jaga di Madinah, tetapi mereka tidak ikut serta dalam tiap pertempuran. Bani Quraizhah sangat tersinggung dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad agar bertindak keras terhadap Yahudi, dan menurut Al-Waqidi, mereka bernegosiasi dengan penduduk Mekkah.[19]
Waqidi menyatakan bahwa Muhammad memiliki kesepakatan dengan suku yang terpecah belah tersebut. Norman Stillman dan Watt percaya bahwa kesepakatan dimaksud "diragukan" keberadaannya, walaupun Watt percaya bahwa Quraizhah telah sepakat untuk tidak membantu musuh Muhammad. Al-Waqidi sering dikritik oleh penulis Muslim yang menyebutnya tidak bisa dipercaya. Menurut Mubrakpuri, Peters, Stillman, Guillaume, Inamdar dan Ibnu Katsir, Muhammad memimpin pasukannya melawan kaum di lingkungan Bani Quraizhah.[1][11][6][8][20]