Ikhtisar
Menurut teori tersebut, populasi Semit Timur bermigrasi dari wilayah yang kini dikenal sebagai Levant dan menyebar ke Mesopotamia,[5] dan populasi pendatang baru ini diyakini turut andil dalam keruntuhan Periode Uruk pada sekitar tahun 3100 SM. Budaya awal Semit Timur ini dicirikan oleh keserupaan linguistik, sastra, dan ortografi yang membentang dari Ebla di sebelah barat hingga Abu Salabikh di sebelah timur.[6] Nama-nama orang dari kota Sumeria di Kish menunjukkan corak Semit Timur dan menyingkapkan bahwa populasi kota tersebut memiliki unsur Semit yang kuat sejak munculnya sejarah tertulis,[7] dan karena Gelb menganggap Kish sebagai pusat dari peradaban ini, dari sanalah penamaan tersebut berasal.[6]
Keserupaan-keserupaan tersebut meliputi penggunaan sistem penulisan yang memuat logogram non-Sumeria, penerapan sistem yang sama dalam penamaan bulan dalam setahun, penanggalan berdasarkan tahun regnal serta sistem pengukuran yang serupa.[6] Kendati demikian, masing-masing kota memiliki sistem monarkinya tersendiri.
Walaupun bahasa yang dituturkan di Mari dan Ebla berkerabat dekat, Kish merepresentasikan entitas linguistik Semit Timur yang mandiri dan menuturkan sebuah dialek tersendiri (Kishit),[8] yang berbeda dari bahasa Akkadia pra-Sargonik maupun bahasa Ebla-Mari.[6]
Teori tersebut telah ditolak karena sejumlah alasan: kesamaan serta keterkaitan linguistik, sastra, dan budaya di antara berbagai bagian dari apa yang diklaim sebagai peradaban Kish terbukti jauh lebih kecil dari yang diyakini oleh Gelb, dugaan mengenai peran sentral kota Kish masih belum terbukti, dan terdapat bantahan bahwa bukti-bukti onomastik beserta temuan lainnya justru mengindikasikan bahwa para penutur bahasa Semit masih menjadi minoritas kecil di wilayah Babilonia Utara pada periode tersebut.[4]