Pertempuran awal dan Tentara mendekati Hanano
Serangan diumumkan pada 15 November, dengan diawali serangan udara Rusia.[28] Pada 16 November, Angkatan Darat Suriah yang didukung oleh serangan udara Rusia menyerbu distrik Rasyidin dan Aqrab di barat laut Aleppo, tetapi berhasil ditahan oleh para pemberontak.[29] Di tengah baku tembak kedua belah pihak, terjadi serangan baru di distrik Jamiat al-Zahra Aleppo barat.[30]
Pada 19 November, setelah pemboman besar-besaran di timur Aleppo, Tentara Suriah berusaha untuk melaju ke distrik Sheikh Saeed di wilayah tenggara, tetapi lagi-lagi dihentikan oleh para pemberontak. Sementara itu, pasukan pro-pemerintah melaju ke timur laut.[12] Tentara merebut bagian selatan dan tengah distrik Bustan Al-Basha, sehingga pemerintah telah menguasai 75 persen dari Aleppo.[13][31] Selain itu, di malam hari, setelah dua hari serangan udara Suriah dan Rusia, Pasukan Harimau merebut kontrol bukit Zouhor yang menghadap distrik Hanano dan timur Aleppo yang sebagian besar dikuasai pemberontak.[32] Pada saat yang sama, Tentara melaju di barat daya distrik Aqrab, Aleppo.[33] Pasukan Harimau juga melaju ke barat daya bukit Zouhor ke kompleks pabrik lama Sheikh Najjar, dan merebut sebagian besar pabrik setelah pertempuran sengit.[34]
Hari berikutnya, Tentara berhasil melaju ke gerbang distrik Hanano.[35] Di malam hari, pemberontak melancarkan serangan balik ke bukit Zouhor dan wilayah kompleks pabrik[36] dan akhirnya dihentikan.[18] Pada akhir hari, Tentara berhasil masuk ke distrik Hanano.[37] Pada 21 November, pasukan pemerintah melaju ke kompleks pabrik lama Sheikh Najjar, perumahan Hanano dan dekat pemakaman Islam,[38] sedangkan Tentara meluncurkan dua serangan dalam waktu 48 jam ke selatan distrik Sheikh Saeed.[39] Meskipun pemberontak berhasil menghentikan serangan ini, mereka dilaporkan mengalami kehilangan banyak milisi.[40]
Kembalinya Hanano dan jatuhnya pemberontak
Pada 22 November, militer menguasai sekitar sepertiga Hanano dan pada hari berikutnya setengah dari distrik. Menurut aktivis pro-oposisi SOHR, jika Tentara berhasil merebut Hanano, mereka akan mampu memotong bagian utara dari Aleppo yang dikuasai pemberontak dari sisa distrik yang dikuasai oposisi.[41][42]
Pada 24 November, Tentara mendorong jauh ke dalam distrik Hanano, merebut lebih dari setengah gedung utama.[43] Tujuan dari manuver ini untuk membagi dua wilayah Aleppo yang dikuasai pemberontak. Pemboman berat dan sistematis yang dilakukan pemerintah menimbulkan korban dalam jumlah banyak.[44] Pada hari berikutnya, pasukan pemerintah menguasai sebagian besar Hanano.[45][46] Pasukan pemerintah juga mengambil alih sebagian besar wilayah timur laut distrik 'Ard Al-Hamra dan selatan Sheikh Lufti, serta selatan Bukit 420 (Bukit Polisi).[14][47]
Pada 26 November, pasukan pemerintah berhasil menguasai Hanano,[48][49][50] yang merupakan distrik pertama Aleppo yang direbut oleh pemberontak pada tahun 2012,[51] dan merupakan seperempat dari wilayah yang dikuasai pemberontak.[52] Pasukan pemerintah juga melakukan upaya-upaya untuk melaju ke distrik Ard Al-Hamra dan Jabal Badro, selatan Hanano.[53] Setelah Hanano direbut, 400-600 warga sipil meninggalkan wilayah Aleppo yang dikuasai pemberontak.[54][55]
Pada 27 November, pasukan pemerintah membuat kemajuan besar[56] setelah runtuhnya pertahanan pemberontak,[57] merebut distrik Jabal-Badro, Ard Al-Hamra dan Ba'ibdeen,[56][58][59] dan juga merebut sebagian distrik Sakhour,[60] yaitu Jembatan Al-Sakhour.[56] Segera setelah itu, Tentara merebut utara kompleks pabrik Jandoul dan mengamankan distrik Ayn Al-Tal, serta sebagian besar dari distrik Hallak Fuqani dan Hallak Tahtani.[1][61] Karena kemajuan ini, para pemberontak mundur besar-besaran,[62][63] juga meninggalkan distrik Bustan Al-Basha dan sebagian Haydariyah, dan menarik milisi ke Aleppo selatan melalui distrik Sakhour, yang jika berhasil direbut akan memecah wilayah yang dikuasai pemberontak menjadi dua.[62][64] Pada titik ini, kurang dari satu kilometer jarak yang memisahkan antara pasukan pemerintah dengan pusat kota.[57]
Runtuhnya pemberontak di garis depan dikarenakan pemboman besar-besaran, intensitas pertempuran, jumlah korban tewas dan terluka, dan kurangnya rumah sakit.[21] Ratusan warga sipil berusaha untuk memanfaatkan runtuhnya pemberontak,[65] dengan jumlah warga sipil yang dievakuasi meningkat menjadi hampir 10.000 pada hari itu.[66]
Di malam hari, hanya jarak 500 meter yang memisahkan militer dari celah antara timur laut dan tenggara kota. Pada titik ini, jarak yang tersisa telah dikendalikan Tentara.[67] Di samping itu, Tentara merebut penuh distrik Hallak Al-Fukani, Hallak Al-Tahtani dan Bustan Al-Basha, dengan dukungan Kurdi, sedangkan timur laut distrik Inzarat juga telah dikuasai.[1][68][69] Setidaknya 36 pemberontak menyerah kepada Tentara selama proses perebutan distrik tersebut,[70] sementara beberapa dari mereka dilaporkan telah membelot ke SDF yang dipimpin Kurdi.[71]
Pada 28 November, seluruh bagian timur laut dari Aleppo telah direbut.[5] Pada pagi hari, Tentara mengambil alih Haydariyah.[5][72] Dua jam kemudian, pasukan pemerintah juga merebut Sakhour,[2][5][73] sehingga distrik Sheikh Keder dan Sheikh Tarif yang dikuasai pemberontak dikepung.[74] Segera setelah itu, Sheikh Khider juga direbut oleh Tentara, bersama dengan sebagian dari Sheikh Tarif. Sisa dari wilayah Sheikh Tarif direbut oleh pasukan Kurdi, yang juga telah mengendalikan sebagian dari distrik Hallak dan Bustan Al-Basha[5] setelah melaju dari utara distrik Sheikh Maqsood yang dikuasai Kurdi. Keseluruhan situasi digambarkan sebagai "kekalahan terbesar bagi oposisi di Aleppo sejak tahun 2012",[73] dengan empat tahun kebuntuan di tengah kota yang telah rusak.[75]