Dalam Islam, penghuni surga adalah para manusia yang akan memasuki dan menikmati segala kenikmatan di dalam surga. Kriteria manusia yang layak menghuni surga disebutkan oleh Allah dalam beberapa ayat di dalam Al-Qur'an. Beberapa kriterianya ialah beriman, mengerjakan kebajikan, takut akan azab Allah dan takut tidak dimasukkan ke dalam surga.
Kisah para penghuni surga ketiika memasuki surga disebutkan dalam Surah Al-A'raf ayat 43. Kenikmatan yang tersedia di dalam Surga antara lain kamar dan kemah berserta istri-istri dari kalangan bidadari di dalamnya. Namun kenikmatan tertinggi bagi penghuni surga adalah melihat Allah secara langsung. Di dalam hadis, disebutkan bahwa para wanita penghuni surga dipimpin oleh Fatimah, sedangkan para pemuda penghuni surga dipimpin oleh Hasan dan Husain.
Kelayakan
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 82, Allah menetapkan kriteria penghuni surga. Penghuni surga adalah orang-orang beriman yang mengerjakan kebajikan. Para penghuni surga ini akan kekal di dalam surga.[1] Di dalam Surah At-Tur ayat 26 disebutkan bahwa para penghuni surga dahulu selalu merasa takut akan diazab dan takut tidak termasuk penghuni surga. Rasa takut ini timbul ketika para penghuni surga masih bersama keluarga mereka di dunia.[2] Dalam Surah Al-Isra' ayat 57, disebutkan pula bahwa rasa takut para penghuni surga disertai dengan rasa harap atas rahmat Allah.[3]
Pengisahan
Memasuki surga
Ketika penghuni surga memasuki surga untuk pertama kalinya, mereka memuji Allah atas kenikmatan yang diberikan-Nya kepada mereka. Pujian ini disematkan atas nikmat Allah berupa petunjuk-Nya bagi manusia untuk mencapai surga. Kisah pemujian penghuni surga kepada Allah ini disebutkan dalam Surah Al-A'raf ayat 43.[4]
Kenikmatan yang diperoleh
Kemah-kemah dan kamar-kamar
Para penghuni surga akan memperoleh kemahnya masing-masing. Bahan pembuatan kemah ini adalah permata yang berongga. Masing-masing kemah membentang sepanjang 60 mil.[5] Bagi penghuni surga yang mengerjakan salat tahajjud, Allah telah menyiapkan kamar-kamar di tempat yang tinggi di Surga. Ketinggian kamar-kamar ini untuk menunjukkan ketinggian derajat dari mukmin yang mengerjakan salat tahajjud dan menjadi penghuni surga.[6]
Istri dari bidadari
Bagi laki-laki penghuni surga disediakan istri-istri dari bidadari. Para istri ini tinggal di dalam kemah-kemah. Istri-istri mereka tidak saling melihat satu sama lain sehingga tidak ada keributan di dalam surga antara para istri ini.[5]Ahmad bin Hanbal dan An-Nasa'i meriwayatkan sebuah hadis sahih dari Zaid bin Arqam yang termasuk hadis marfu' yang menyatakan bahwa kekuatan laki-laki yang menjadi penghuni surga sama dengan kekuatan seratus laki-laki biasa di dunia. Peningkatan kekuatan tersebut berlaku berkaitan dengan nafsu dalam berhubungan intim serta nafsu dalam mengonsumsi makanan dan minuman.[7]
Kebun-kebun
Para penghuni surga juga memperoleh kebun yang isinya terbuat dari emas dan perak.[5]
Melihat Allah secara langsung
Melihat Allah secara langsung merupakan kenikmatan yang terbesar yang diterima oleh para penghuni surga. Tingkat kenikmatannya melebihi tingkat kenikmatan apapun yang disediakan di dalam surga. Para penghuni surga akan melihat Allah dengan sangat jelas. Kejelasannya melampaui kejelasan ketika manusia menatap bulan pada saat purnama maupun ketika menatap matahari pada hari yang cerah.[8]
Kepemimpinan
Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Hudzaifah bin al-Yaman, disebutkan bahwa dirinya bertemu dengan Muhammad dalam perjalanan pulang dari salat Isya, Muhammad mendoakan dirinya dan ibunya kemudian menjelaskan tentang kedatangan seorang malaikat yang pertama kali turun ke Bumi. Malaikat ini memberi salam dan memberikan kabar gembira kepada Muhammad. Kabar gembiranya ialah bahwa Fatimah akan menjadi penghulu pada wanita yang menjadi penghuni surga, Selain itu, malaikat tersebut mengabarkan bahwa Hasan dan Husain akan menjadi penghulu para pemuda yang menjadi penghuni surga.[9]
Referensi
Catatan kaki
↑Qamariyah, Ulfa (2015). Usman dan Alfrida (ed.). Nama-Nama Surga dan Penghuninya. Semarang: Bengawan Ilmu. hlm.2. ISBN978-979-021-573-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Al-Mishri, Mahmud (2011). Yasir, Muhammad (ed.). Semua Ada Saatnya[Sa'atan Sa'atan]. Diterjemahkan oleh Somad, Abdul. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. hlm.299. ISBN978-979-592-779-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Al-Hanbali, Ibnu Rajab (2019). Negeri Kebinasaan: Seburuk-buruk Tempat Kembali[At-Takhwif minan Naar wat Ta'rif bi Haali Daril Bawar]. Diterjemahkan oleh Daeng Ngempo, M. Tashwir. Jakarta Timur: Griya Ilmu. ISBN978-623-92097-0-4. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Al-Qahthani, Said bin 'Ali bin Wahf (2019). Abu Hasan (ed.). Shalatul Mu'min: Buku Induk Shalat. Diterjemahkan oleh Abi Khadijah. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo. ISBN978-602-04-9917-8.; Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)