Peristiwa ini mengakhiri era Dinasti Song Utara, yaitu periode saat Dinasti Song menguasai sebagain besar Cina. Sisa keluarga kerajaan yang selamat melarikan diri dan mendirikan pemerintahan baru di Lin'an.
Akibat dan penilaian
Banyak nama keluarga Tionghoa yang terdengar asing dan tidak tradisional yang ada di Tiongkok saat ini dapat berasal dari insiden ini, karena para tawanan Han Tiongkok dipaksa untuk mengadopsi nama keluarga Jurchen. Faktanya, banyak anggota keluarga kekaisaran Dinasti Qing memiliki nama keluarga "Gioro" (misalnya Aisin Gioro, Irgen Gioro); diyakini bahwa mereka adalah keturunan Kaisar Huizong dan Kaisar Qinzong.[2]
Invasi ini, dikombinasikan dengan kekuasaan Mongol di kemudian hari, diduga telah menyebabkan kemajuan Tiongkok menuju kapitalisme tertinggal beberapa abad; meskipun Dinasti Ming kemudian memulihkan tatanan lama, akibat kejatuhan mereka sendiri ke tangan Manchu adalah Tiongkok kembali mandek. Pandangan ini didukung oleh fakta bahwa ekonomi Song telah maju, dan memperlihatkan banyak ciri kapitalisme. Menurut pandangan ini, Insiden Jingkang memiliki signifikansi historis terkait dengan kemunduran Tiongkok kekaisaran di akhir.[4]
↑Coblin, W. South. "Migration History and Dialect Development in the Lower Yangtze Watershed," Bulletin of the School of Oriental and African Studies (Volume 64, Number 3, 2002): 529–453. Page 533.
↑《黑龙江志稿•氏族》:「觉罗者,传为宋徽、钦之后。」("People who held the surname "Gioro" were believed to be the descendants of Emperors Huizong and Qinzong.)
↑Li Bo, Zheng Yin, "5000 years of Chinese history", page 874-880
Referensi
Kaplan, Edward Harold. Yueh Fei and the founding of the Southern Sung. Thesis (Ph. D.) -- University of Iowa, 1970. Ann Arbor: University Microfilms International, 1970.
Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.