Penghambat glukosidase alfa (Bahasa Inggris: Alpha-glucosidase inhibitor, disingkat AGI) adalah obat diabetes oral yang digunakan untuk diabetes melitus tipe 2 yang bekerja dengan mencegah pencernaan karbohidrat (seperti pati dan gula pasir). AGI alami ditemukan pada tumbuhan/herbal mentah seperti kulit kayu manis dan murbei putih serta beberapa bakteri.[1][2][3][4] Karbohidrat biasanya diubah menjadi gula sederhana (monosakarida) oleh enzim alfa-glukosidase yang terdapat pada sel-sel yang melapisi usus, memungkinkan monosakarida diserap melalui usus. Oleh karena itu, penghambat glukosidase alfa mengurangi dampak karbohidrat makanan terhadap kadar gula darah.[1][2]
Meskipun obat-obatan tersebut memiliki mekanisme kerja yang serupa, terdapat perbedaan halus antara akarbosa dan miglitol. Akarbosa adalah oligosakarida, sedangkan miglitol menyerupai monosakarida. Miglitol diserap dengan cukup baik ke dalam aliran darah, dibandingkan dengan akarbosa. Selain itu, akarbosa menghambat amilase alfa pankreas selain glukosidase alfa, dan didegradasi oleh amilase alfa maltogenik bakteri usus dan siklomaltodekstrinase.[6][7]
Penghambat glukosidase alfa alami
Ada sejumlah besar produk alami dengan aksi penghambat glukosidase alfa.[1][8][9] Faktanya, obat prototipe golongan ini (akarbosa) ditemukan dari bakteri tanah.[10]
Misalnya, penelitian menunjukkan kuliner jamur Maitake (Grifola frondosa) memiliki efek hipoglikemik.[11][12][13][14][15][16] Alasan Maitake menurunkan gula darah adalah karena jamur secara alami mengandung penghambat glukosidase alfa.[17]
Semua spesies kayu manis menunjukkan aktivitas mirip akarbosa.[2] Dosis tunggal kayu manis mentah sebelum makan yang mengandung karbohidrat kompleks menurunkan hiperglikemia postprandial (lebih tinggi dari 140mg/dL; >7,8mmol/L) pada pasien diabetes tipe II.[1] Tumbuhan lain yang menarik banyak perhatian adalah Salacia oblonga.[18]
Kegunaan medis
Penghambat glukosidase alfa digunakan untuk membangun kontrol glikemik yang lebih baik terhadap hiperglikemia pada diabetes melitus tipe 2, khususnya yang berkaitan dengan hiperglikemia pasca makan. Mengonsumsi satu dosis sebelum makan yang mengandung karbohidrat kompleks jelas menekan lonjakan glukosa dan dapat menurunkan hiperglikemia pasca makan (lebih tinggi dari 140mg/dL; >7,8mmol/L) pada pasien dengan diabetes tipe II. Kemampuan ini diamati dalam keadaan asli/mentah dari penghambat amilase alfa; oleh karena itu, konsumsinya di dalam makanan yang mengalami pemanasan (dipanggang, digoreng atau dimasak/direbus) diperkirakan akan menumpulkan khasiatnya untuk menurunkan aktivitas enzim pencerna karbohidrat.[1][19]
Tinjauan sistematisCochrane menilai efek AGI pada orang dengan gangguan toleransi glukosa, gangguan glukosa darah puasa, peningkatan hemoglobin glikosilasi A1c (HbA1c). Ditemukan bahwa akarbosa tampaknya mengurangi kejadian diabetes melitus tipe 2 jika dibandingkan dengan plasebo, tetapi tidak ada bukti konklusif bahwa akarbosa dibandingkan dengan diet dan olahraga, metformin, plasebo, tanpa intervensi memperbaiki mortalitas semua penyebab, mengurangi atau meningkatkan risiko mortalitas kardiovaskular, efek samping serius atau tidak serius, strok yang tidak fatal, gagal jantung kongestif, atau serangan jantung yang tidak fatal. Tinjauan yang sama menemukan bahwa tidak ada bukti konklusif bahwa voglibosa dibandingkan dengan diet dan olahraga atau plasebo mengurangi kejadian diabetes melitus tipe 2, atau hasil terukur lainnya.[20]
Pada pasien diabetes melitus tipe 1, penggunaan penghambta glukosidase alfa belum disetujui secara resmi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat, namun ada beberapa data mengenai efektivitasnya pada populasi ini, yang menunjukkan potensi manfaat yang sebanding dengan peningkatan risiko hipoglikemia.[21]
Formulasi
Manfaat kesehatan dari bubuk herbal penghambat glukosidase alfa terbukti lebih kuat ketika bubuk tersebut dikonsumsi secara oral dengan cara dilarutkan dalam air sebagai minuman dibandingkan dengan mengonsumsinya sebagai kapsul gelatin keras biasa.[1]
Sisipan kemasan tablet akarbosa mencantumkan dua cara untuk mengonsumsinya: mengunyahnya saat suapan pertama makan, atau menelannya beberapa saat sebelum makan. Dengan merek tablet akarbosa yang sama, mengunyah makanan tampak lebih efektif daripada menelannya dalam melawan kenaikan gula darah akibat minum air sukrosa.[22]
Efek samping beserta pencegahan
Karena penghambat glukosidase alfa mencegah degradasi karbohidrat kompleks menjadi glukosa, karbohidrat akan tetap berada di dalam usus. Di dalam usus besar, bakteri akan mencerna karbohidrat kompleks, sehingga menyebabkan efek samping gastrointestinal seperti flatulensi dan diare. Karena efek ini berhubungan dengan dosis, umumnya disarankan untuk memulai dengan dosis rendah dan secara bertahap meningkatkan dosis hingga jumlah yang diinginkan. Pneumatosis intestinalis adalah efek samping lain yang dilaporkan.[23]
↑Zidar, Nace (2019). Peroralni antidiabetiki - pregled stanja in pogled v prihodnost. Farmacevtski vestnik, letnik 70, številka 1, str. 19-26.
↑Jang MU, Kang HJ, Jeong CK, Kang Y, Park JE, Kim TJ (February 2018). "Functional expression and enzymatic characterization of Lactobacillus plantarum cyclomaltodextrinase catalyzing novel acarbose hydrolysis". Journal of Microbiology. 56 (2): 113–118. doi:10.1007/s12275-018-7551-3. PMID29392561. S2CID255583941.
↑Benalla W, Bellahcen S, Bnouham M (July 2010). "Antidiabetic medicinal plants as a source of alpha glucosidase inhibitors". Current Diabetes Reviews. 6 (4): 247–254. doi:10.2174/157339910791658826. PMID20522017.
↑Ji F, Xiao G, Dong L, Ma Z, Ni J (June 2010). "[Development of alpha-glucosidase inhibitor from medicinal herbs]" 药用植物来源的α-葡萄糖苷酶抑制剂研究进展 [Development of α-glucosidase inhibitor from medicinal herbs]. Zhongguo Zhong Yao Za Zhi = Zhongguo Zhongyao Zazhi = China Journal of Chinese Materia Medica (dalam bahasa Tionghoa). 35 (12): 1633–1640. doi:10.4268/cjcmm20101229. PMID20815224.
↑Konno S, Tortorelis DG, Fullerton SA, Samadi AA, Hettiarachchi J, Tazaki H (December 2001). "A possible hypoglycaemic effect of maitake mushroom on Type 2 diabetic patients". Diabetic Medicine. 18 (12): 1010. doi:10.1046/j.1464-5491.2001.00532-5.x. PMID11903406. S2CID34210764.
↑Hong L, Xun M, Wutong W (April 2007). "Anti-diabetic effect of an alpha-glucan from fruit body of maitake (Grifola frondosa) on KK-Ay mice". The Journal of Pharmacy and Pharmacology. 59 (4): 575–582. doi:10.1211/jpp.59.4.0013. PMID17430642. S2CID85987141.
↑Lo HC, Hsu TH, Chen CY (2008). "Submerged culture mycelium and broth of Grifola frondosa improve glycemic responses in diabetic rats". The American Journal of Chinese Medicine. 36 (2): 265–285. doi:10.1142/S0192415X0800576X. PMID18457360.
↑Manohar V, Talpur NA, Echard BW, Lieberman S, Preuss HG (January 2002). "Effects of a water-soluble extract of maitake mushroom on circulating glucose/insulin concentrations in KK mice". Diabetes, Obesity & Metabolism. 4 (1): 43–48. doi:10.1046/j.1463-1326.2002.00180.x. PMID11874441. S2CID23788507.
↑Alternative Agents in Type 1 Diabetes in Addition to Insulin Therapy: Metformin, Alpha-Glucosidase Inhibitors, Pioglitazone, GLP-1 Agonists, DPP-IV Inhibitors, and SGLT-2 Inhibitors. Michelle DeGeeter, PharmD, CDE, Bobbie Williamson, PharmD, BCACP, CDE. Journal of Pharmacy Practice Vol 29, Issue 2, pp. 144 - 159. First Published October 13, 2014 https://doi.org/10.1177/0897190014549837