Torang M.T. Sitorus adalah seorang desainer mode, kurator wastra, dan kolektor kain tradisional asal Indonesia yang dikenal atas upayanya melestarikan dan memodernisasi ulos, kain tenun khas masyarakat Batak Toba, Sumatera Utara, serta eksplorasi terhadap kekayaan tekstil Nusantara, termasuk songket Palembang dan Songket Bali. Ia aktif memperkenalkan ulos ke kancah nasional dan internasional melalui karya busana, pameran, dan kolaborasi dengan berbagai perajin (*partonun*).[1]
Kehidupan awal dan pendidikan
Torang Sitorus lahir dan besar di Tarutung, Sumatera Utara. Ia tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan tradisi Batak Toba dan mulai tertarik pada seni tekstil sejak muda. Ibunya adalah penggemar kain tradisional yang memperkenalkannya pada seni tekstil dan membuat Ketertarikannya berlanjut menjadi minat profesional setelah ia mendirikan Sumatra Loom Gallery, sebuah ruang yang memamerkan dan meneliti kain-kain ulos tua serta karya tenun kontemporer.[2]
Karier
Pengembangan dan inovasi ulos
Sebagai desainer, Torang Sitorus berupaya memperluas fungsi ulos dari sekadar busana adat menjadi bagian dari mode modern. Ia memadukan teknik tenun tradisional dengan material baru seperti bemberg dan serat daur ulang, serta mempopulerkan gaya busana ready to wear deluxe berornamen motif ulos.[3]
Ia memperkenalkan motif-motif baru hasil reinterpretasi ulos klasik seperti Harungan dan Ragi Hotang.[4]
Pada 2024, koleksi rancangannya dipamerkan di ajang London Fashion Week dan mendapat sorotan atas perpaduan antara tradisi dan keberlanjutan.[5]
Sejak awal 2000-an, Torang aktif bereksperimen dengan teknik pewarna alami menggunakan bahan lokal seperti daun jolawe, kayu secang, kayu nangka, indigo, mahoni, dan gambir. Fokus utamanya adalah pada inovasi dan pelestarian kain Ulos Batak, namun ia juga mengoleksi dan mempelajari kain Songket Palembang dan kain Bali sebagai bagian dari riset lintas budaya tekstil Indonesia.
Pada tahun 2023, ia tampil dalam peragaan busana diplomasi budaya Indonesia–Jepang di The Apurva Kempinski Bali, menampilkan perpaduan Ulos dan sutra Jepang dengan sentuhan warna kontemporer.Media VOI menyoroti kiprah Torang selama lebih dari 25 tahun dalam dunia tekstil. [6]
Liputan BaliNews mencatat perannya sebagai satu-satunya desainer Indonesia dalam acara diplomasi budaya di Bali. [7]
Dalam jurnal “Ulos as Batak Cultural Wisdom Towards World Heritage”, Torang disebut sebagai tokoh yang aktif mendampingi komunitas penenun (partonuns) dalam pelestarian kain Ulos. [8]
Tempo (2015) juga mencatat upayanya membuka museum kain tradisional di Medan. [9]
Kolektor dan kurator
Melalui Sumatra Loom Gallery, Torang mengoleksi lebih dari 300 lembar ulos antik yang sebagian telah dipamerkan di Museum Tekstil Jakarta dan berbagai galeri di Medan, Tokyo, dan London.[10]
Salah satu karyanya, Ulos Pangait Ni Holong, dijadikan referensi dalam beberapa penelitian tentang seni tenun Batak. Ia juga menjadi kurator pameran bertema The Batak Culture Exhibition dan The Light of Hope di Medan.
Karya tulis
Torang Sitorus juga menulis dan menyusun beberapa buku tentang Ulos dan tekstil Batak:
Ulos Pangait Ni Holong (Museum Tekstil Jakarta, 2013, 96 hlm., penyunting: Judi Achjadi). Buku ini berisi dokumentasi fotografi Ulos antik dari berbagai daerah Tapanuli dan didaftarkan dalam katalog National Library of Australia (No. 6417095).[11]
Identity in a Piece of Cloth: The Batak Ulos (Bab Publishing Indonesia, Jakarta, 2021, ISBN 978-9798926358, 376 hlm.). Buku ini mendokumentasikan lebih dari 130 koleksi Ulos terbaik dari koleksi pribadi Torang, disertai penjelasan filosofis dan deskriptif. Buku ini diluncurkan secara resmi pada 21 Maret 2022 dalam acara Adiwastra Nusantara di Jakarta Convention Center.[12][13]
Kolaborasi dan karya
Torang kerap tampil di berbagai peragaan busana nasional seperti Sumatra Fashion Week dan Indonesia Wastra Show.
Ia berkolaborasi dengan desainer Samuel Wattimena dan Threes Emir dalam buku Kain Ulos Danau Toba, yang mendokumentasikan keindahan dan makna filosofis ulos.[14]
Filosofi dan kontribusi
Menurut Torang, ulos tidak hanya berfungsi sebagai kain, tetapi sebagai pangait ni holong — “pengikat kasih.”
Ia menekankan pentingnya memaknai ulang warisan tekstil Batak sebagai inspirasi bagi generasi muda, serta mendorong penggunaan bahan alami dan pewarna organik dalam industri mode berkelanjutan.[15]
Pameran dan penghargaan
Batak For The World – Medan (3 November 2023), pertunjukan seni dan fashion show hasil kolaborasi antara Lions Club Medan Seruni dan Torang Sitorus di Mutia Garden, Glass House Medan. Acara ini bertujuan memperkenalkan warisan Ulos Batak sekaligus menggalang dana untuk program sosial di Samosir. [16][17][18]
Ulos for Hope – Jakarta (2024)
London Fashion Week – Koleksi "Ulos Harungan" (2024)[19][20][21]
Indonesia–Japan 65th Diplomatic Exhibition – Tokyo (2024)[22]
20 Tahun Berkarya – Medan (2022) – pameran ulang tahun 20 tahun berkarya Torang Sitorus, memamerkan koleksi ulos dan artefak pribadinya di Convention Hall Tiara, Medan[23]
↑Septiana, Marta Gabriella; Siagian, Marissa Cory Agustina (Agustus 2019). "Penerapan Motif Kain Ulos Tumtuman pada Busana Ready to Wear Deluxe". e-Proceeding of Art & Design. 6 (2): 1924–.
↑"Development of Ulos Batak Woven Products in Economic Perspective". Proceedings of ICIP 2023 (dalam bahasa Inggris). UIN SAIZU.