Revolusi Belgia atau Perang Kemerdekaan Belgia (bahasa Prancis:Révolution belgecode: fr is deprecated , bahasa Belanda:Belgische Revolutie/opstand/omwentelingcode: nl is deprecated ) adalah konflik di Kerajaan Bersatu Belanda yang dimulai dengan kerusuhan di Brussels pada Agustus 1830 dan menyebabkan berdirinya negara Belgia. William I, Raja Belanda, menolak mengakui Belgia hingga tahun 1839, karena ditekan oleh Traktat London.
Ada berbagai penyebab yang memicu revolusi tersebut. Penyebab paling utama adalah perbedaan agama (Katolik di Belgia sementara Protestan di Belanda) dan permintaan otonomi daerah yang tidak diberikan oleh pemerintahan pusat Belanda.
Faktor lain berupa berikut:
Kurangnya perwakilan dari Belgia ke Dewan Perwakilan Belanda (62% populasi Belgia untuk 50% kursi saja)[3]
Ketidakseimbangan beban publik dan institusi dengan mayoritas berasal dari Belanda. Hanya 1 dari 4 menteri Belanda berasal dari Belgia. Pegawai negeri sipil Belanda berjumlah empat kali lebih besar dibandingkan Belgia.[4] Secara umum, Belanda menguasai institusi ekonomi, politik dan sosial.
Hutang publik Belanda juga harus ditanggung oleh Belgia,[4] meskipun hutang yang disepakati di Kongres Wina berjumlah 1,25 miliyar gulden untuk Belanda dan hanya 100 juta gulden untuk Belgia (yang saat itu bernama Belanda Austria)
Penerapan kebebasan pers dan kebebasan berkumpul yang tidak memuaskan dianggap oleh para intelektual Belgia sebagai cara kontrol Utara terhadap wilayah Selatan.
Sebuah reformasi bahasa yang disahkan pada 1823 mendekretkan bahwa Bahasa Belanda menjadi bahasa resmi di wilayah Flandria dan Walonia. Reformasi ini ditentang oleh kalangan bangsawan Belgia yang kebanyakan berbahasa Prancis, tidak peduli apakah mereka dari Flandria atau Walonia.[5] Rakyat Flandria yang notabene merupakan keturunan Belanda memiliki dialek Belanda sendiri dan tidak menggunakan bahasa baku Belanda, sehingga mereka juga melawan reformasi tersebut. Reformasi ini pada akhirnya dihapus pada 4 Juni 1830.[6]
Perang Jawa yang bergejolak di Hindia Belanda selama 5 tahun dari 1825. Perang melawan Diponegoro menguras anggaran dan tentara Belanda yang kemudian difokuskan ke Jawa sehingga kontrol di Belgia menjadi minim.[7]
Eropa dan Belgia yang merdeka
Pada 20 Desember 1830, negara adikuasa Eropa berkumpul di London untuk menghadiri Konferensi London 1830 dimana delegasi dari Inggris, Austria, Prancis, Prusia dan Rusia berkumpul untuk membahas tentang Belgia. Banyak opini terpecah mengenai kemerdekaan Belgia karena bekas-bekas pengaruh Perang Napoleon masih segar di pemikiran setiap delegasi. Prancis dibawah pemerintahan Monarki Juli mendukung kemerdekaan Belgia, membuat Inggris, Austria, Prusia, dan Rusia mendukung integritas wilayah Belanda karena keempat negara tersebut (terutama Inggris) takut bahwa Belgia akan dianeksasi oleh Prancis untuk kedepannya. Namun keempat negara tersebut tidak mengirimkan bala bantuan kepada Belanda karena masalah di negara masing-masing (Rusia harus berhadapan dengan Pemberontakan November melawan Polandia dan Prusia terjerat hutang perang). Inggris pada akhirnya mendukung kemerdekaan Belgia dengan syarat menjadi negara penyangga untuk melawan pengaruh Belanda, Prancis, dan Prusia.
Penobatan Raja Leopold
Pada November 1830, Kongres Nasional Belgia dibentuk untuk merumuskan konstitusi untuk negara Belgia yang merdeka. Kongres memutuskan bahwa Belgia akan berbentuk kerajaan konstitusional berbasis kerakyatan. Konstitusi Belgia diproklamasikan pada 7 Februari 1831 namun belum ada raja yang menerima untuk menjadi Raja Belgia.
Kongres menolak untuk mempertimbangkan seorang anggota keluarga Wangsa Oranye-Nassau untuk menjadi Raja Belgia.[8] Pada akhirnya, Kongres menyetujui tiga calon, seluruhnya beretnis Prancis. Keputusan ini menyebabkan friksi antara nasionalis Belgia dan pada akhirnya Leopold dari Saxe-Coburg yang awalnya ditolak karena penolakan Prancis dijadikan calon.[9] Pada 22 April 1831, Leopold dihampiri oleh delegasi Belgia di Marlborough House dan mereka menawarkan taktha Belgia kepadanya.[10] Meskipun pada awalnya menolak,[11] pada akhirnya Leopold setuju dan ia disambut meriah di Brussel. Leopold kemudian mengambil sumpah sebagai Raja Belgia pada 21 Juli 1831.