Pemakaman Assistens (Denmark: Assistens Kirkegård) di Kopenhagen, Denmark, adalah tempat pemakaman bagi banyak tokoh terkemuka Denmark sekaligus ruang terbuka hijau yang penting di distrik Nørrebro. Diresmikan pada tahun 1760, tempat ini awalnya merupakan pemakaman bagi orang miskin yang dibangun untuk meringankan beban kuburan-kuburan yang padat di dalam tembok kota. Namun, selama Zaman Keemasan Denmark pada paruh pertama abad ke-19, pemakaman ini menjadi populer dan banyak tokoh terkemuka pada zaman tersebut, seperti Hans Christian Andersen, Søren Kierkegaard, Christoffer Wilhelm Eckersberg, dan Christen Købke, dimakamkan di sini.
Pada akhir abad ke-19, ketika Pemakaman Assistens sendiri mulai padat, sejumlah pemakaman baru didirikan di sekitar Kopenhagen, termasuk Pemakaman Vestre. Namun, sepanjang abad ke-20, pemakaman ini terus menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi tokoh-tokoh terkemuka. Di antara mereka adalah fisikawan pemenang Hadiah NobelNiels Bohr serta sejumlah musisi jazz Amerika Serikat yang menetap di Kopenhagen selama dekade 1950-an dan 1960-an, termasuk Ben Webster dan Kenny Drew.
Istilah assistenskirkegård (berarti "pemakaman bantuan") awalnya merupakan istilah generik dalam bahasa Denmark yang digunakan untuk merujuk pada pemakaman yang dibangun untuk menyokong situs pemakaman yang sudah ada, biasanya yang terletak di kawasan perkotaan dan terhubung dengan gereja. Oleh karena itu, sejumlah pemakaman dengan nama yang sama dapat ditemukan di berbagai wilayah Denmark.
Rencana denah pemakaman tahun 1800 oleh Jørgen Henrich RawertRencana denah pemakaman dari sekitar tahun 1800
Pada Abad Pertengahan, penguburan di dalam tembok kota merupakan sebuah aturan umum, meskipun pemakaman terbuka lambat laun menjadi lebih biasa dilakukan. Pada tahun 1666, Pemakaman Holmen milik Angkatan Laut Kerajaan Denmark dipindahkan dari lokasi aslinya di Gereja Holmen ke sebuah situs di luar Gerbang Kota Timur sebagai fasilitas pemakaman pertama yang terletak di luar kota.[1]
Mewabahnya penyakit pes pada tahun 1711 yang menewaskan sekitar 23.000 warga memberikan tekanan yang sangat besar pada situs-situs pemakaman yang ada, sedemikian rupa sehingga hingga lima peti mati terkadang dikuburkan secara bertumpuk di atas satu sama lain. Hal ini menyebabkan didirikannya lima pemakaman baru di pinggiran kota, tetapi tepat di dalam tembok kota, sementara Pemakaman Garnisun militer dipindahkan ke sebuah situs di sebelah Pemakaman Holmen.
Pendirian pemakaman baru
Pada dekade 1750-an, situasi memburuk lebih jauh. Dalam sebuah surat tertanggal 2 Mei 1757, Dewan Kota mengusulkan kepada Kanselir agar sebuah pemakaman baru yang besar dibangun bagi paroki-paroki kota di luar tembok kota. Setelah beberapa negosiasi, diputuskan untuk menempatkannya di luar Gerbang Kota Utara. Pada 26 Mei 1757, fasilitas baru tersebut didirikan melalui piagam dari Kerajaan. Pemakaman baru tersebut kemudian diresmikan pada 6 November 1760 dan dikelilingi oleh tembok yang dibangun oleh Philip de Lange.[1]
Awalnya, pemakaman ini ditujukan sebagai tempat penguburan bagi orang-orang miskin. Pada tahun 1785, seorang warga kaya, penulis astronomi, dan Sekretaris Pertama Kanselir Perang Johan Samuel Augustin, mengajukan permintaan khusus untuk dimakamkan di pemakaman tersebut. Dalam kodisilnya, ia menyatakan bahwa "Mein Begräbnis soll auf dem Armen-Kirchhofe vor dem Norderthor seyn, wesfalls ich sehon mit Mr. Simon, der dort Gräber ist, gesprochen habe".[1] Langkahnya segera diikuti oleh tokoh-tokoh terkemuka lainnya dari kalangan elit dan pemakaman tersebut segera berkembang menjadi tempat pemakaman paling bergengsi di kota itu.
Tempat rekreasi populer
Ole Jørgen Rawert: Pemakaman Assistens, 26 Agustus 1825Rumah Penggali Kubur pada tahun 1884
Sekitar waktu itu, rekreasi ke pemakaman dengan membawa keranjang piknik dan teh menjadi kegiatan yang populer di kalangan warga biasa Kopenhagen. Dalam catatannya tentang kunjungan ke Kopenhagen pada tahun 1827, penyair SwediaKarl August Nicander mengenang Pemakaman Assistens dengan penuh kasih:[1]
Untuk menikmati perayaan lain yang lebih lembut dan tenang, suatu malam saya berjalan keluar melalui Nørre Port (Gerbang Utara) menuju tempat yang disebut Pemakaman Assistens. Tempat ini pastilah salah satu kuburan terindah di Eropa. Pohon-pohon yang rindang, jalan-jalan yang teduh, hamparan bunga terbuka yang cerah, kuil-kuil yang dinaungi pohon poplar, makam marmer yang dirundung oleh pohon dedalu ratap, serta guci atau salib yang diselimuti mawar, keharuman, dan kicauan burung, semuanya mengubah tempat kematian ini menjadi sebuah surga kecil.[2]
Kunjungan-kunjungan rekreasi tersebut terkadang berkembang menjadi perkumpulan yang gaduh, sehingga undang-undang pun disahkan untuk mencegah hal ini. Sebuah komisi yang dibentuk pada tahun 1805 mengeluarkan instruksi yang melarang konsumsi makanan atau minuman, musik, serta segala bentuk perilaku riang lainnya di area pemakaman. Para penggali kubur yang tinggal di lokasi tersebut ditugaskan untuk menegakkan pembatasan ini, tetapi mereka tampaknya mengabaikan tugas mereka. Undang-undang dari tahun 1813 melarang mereka menjual alkohol kepada pengunjung pemakaman. Terlepas dari semua upaya ini, kedamaian dan ketenangan yang diharapkan membutuhkan waktu lama untuk terwujud. Untuk pemakaman yang sangat besar, kerumunan penonton akan berkumpul dan orang-orang akan memadati tembok pemakaman untuk mendapatkan pemandangan yang lebih baik. Untuk mengurangi jumlah pengunjung, sempat muncul wacana untuk memberlakukan biaya masuk, tetapi hal ini tidak pernah dilaksanakan.[3]
Pemakaman ini masih menjalankan fungsi aslinya sebagai tempat penguburan, tetapi juga menjadi atraksi wisata yang populer serta ruang terbuka hijau terbesar dan terpenting di bagian dalam distrik Nørrebro.
Area ini dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian tertua adalah Bagian A, yang di antaranya memuat makam Søren Kierkegaard dan pelukis Christen Købke. Bagian D didedikasikan untuk minoritas agama, berisi makam Katolik Roma dan Kalvinis serta makam Rusia. Bagian E adalah bagian yang awalnya diperuntukkan bagi Gereja Bunda Kita.[1]