Ia melayani di bawah Presiden Ahmadou Ahidjo dan menjadi Perdana Menteri pada 1975. Ahidjo mengundurkan diri pada 6 November1982 dan Biya menjadi presiden. Setelah ia mengundurkan diri, Ahidjo berbenturan dengan Biya. Ia mengasingkan diri pada 1983 dan meninggal pada 1989.
Biya dikritik sebagian orang karena menjadi orang kuat, dan kadang-kadang dianggap jauh dari rakyat. Ia juga sering dikritik oleh rakyat Kamerun yang Anglofon (rakyat Kamerun yang hidup di wilayah bekas jajahan Britania) karena melakukan marjinalisasi dan menindas. Perlawanan yang paling kuat terhadap dirinya muncul dari wilayah ini di Kamerun.
Pada 11 Oktober2004 ia memperoleh mandat tujuh tahun lagi dalam pemilu kepresidenan. Ia resminya memperoleh 70,92% suara, tetapi pihak oposisi menuduh banyak terjadi kecurangan. Ia merupakan kepala negara tertua di dunia yang berkuasa lebih dari 40 tahun dalam sejarah Kamerun.[3]