Patung Pattimura ini berada di taman Pattimura, Uritetu, Sirimau, Kota Ambon, Maluku. Monumen Patung Pattimura ini merupakan simbol perjuangan rakyat maluku yang ada di kota Ambon. Dibangunnya monumen ini, juga untuk mengenang kisah kepahlawanan Kapitan Pattimura sebagai Pahlawan Nasional yang menjadi kebanggaan masyarakat Maluku.[1]
Sejarah
Monumen Pattimura di Ambon merupakan karya monumental Dr. Gustiyan Rachmadi, S.Sn., M.Sn., yang dirancang untuk memperkuat identitas kepahlawanan nasional melalui estetika ruang publik. Inisiatif pembaruan patung ini lahir di bawah kepemimpinan Walikota Ambon saat itu, Marcus Jacob Papilaja, sebagai upaya merevitalisasi kawasan Lapangan Merdeka menjadi pusat edukasi sejarah yang ikonik. Dengan material perunggu setinggi tujuh meter, karya yang diresmikan pada 15 Mei 2008 ini menggantikan patung lama demi menghadirkan detail anatomi yang lebih dinamis, sekaligus merepresentasikan citra maskulinitas dan resistensi masyarakat Maluku terhadap kolonialisme.
Secara artistik, Dr. Gustiyan menerjemahkan visi Marcus Jacob Papilaja dengan mengintegrasikan angka-angka simbolik peristiwa 15 Mei 1817 ke dalam elemen arsitektural monumen. Melalui komposisi lima kolom penyangga, sepuluh anak tangga, hingga tujuh belas balok penyangga, setiap jengkal konstruksinya berfungsi sebagai narasi visual yang membangkitkan ingatan kolektif akan perjuangan Kapitan Pattimura. Sebagai akademisi dari ISBI Bandung, Gustiyan berhasil menciptakan harmoni antara nilai kultural lokal dan ekspresi seni rupa modern, yang hingga kini berdiri tegak sebagai simbol kebanggaan dan karakteristik utama Kota Ambon.
Ruang Publik dan Identitas
Dalam perspektif tata kota, Monumen Patung Pattimura berfungsi sebagai landmark sentral yang mengontekstualisasikan ruang publik (Taman Pattimura) sebagai situs edukasi sejarah. Secara sosiologis, keberadaan monumen ini berperan dalam memelihara kohesi sosial dan kebanggaan lokal melalui ritual tahunan, seperti peringatan Hari Pattimura setiap tanggal 15 Mei. Hal ini menunjukkan bahwa monumen tersebut bertindak sebagai media transmisi nilai patriotisme dari satu generasi ke generasi berikutnya.