Pasalongan Rinegetan adalah sebutan untuk gaun atau blus adat perempuan dalam kebudayaan Minahasa, Sulawesi Utara. Busana ini dibuat dari kain tenun bentenan.[1] Pakaian adat ini biasanya dipakai diatas baju Wuyang yang mirip dengan kebaya dan terbuat dari kulit kayu.
Sejarah dan Asal
Kain bentenan telah ada sejak abad ke-7 di masyarakat Minahasa, awalnya dibuat dari serat kayu seperti fuya (dari pohon lahendong dan sawukouw), nanas (koffo), pisang, dan bambu (wa’u). Pada abad ke-15, bahan katun mulai digunakan, dan kain tersebut menjadi populer dari Desa Bentenan, sehingga dinamakan kain bentenan.[2]
Istilah “pasalongan” bermakna sarung/bundar, dan “rinegetan” merujuk pada lonceng kecil (reget) yang dipasang di pinggiran kain. Karena bentuknya utuh tanpa jahitan, kain dibuat dalam bentuk lingkaran panjang dan biasanya dipakai dengan cara dilipat sebagai atas‑an tradisional.[3]
Ciri Khas dan Teknik Pembuatan
Pasalongan Ringetan dibuat dari kain tenun berbentuk lingkaran tanpa sambungan dan dijahit menggunakan teknik multi-lonjeng. Setiap pinggir kain dihiasi bel lonceng kecil sehingga menghasilkan suara lembut saat digunakan untuk memberi aspek visual dan suara simbolis saat dikenakan. Motif utamanya disebut Bentenan, mencakup tujuh pola: tonilama dengan warna putih polos, sinoi dengan warna garis warna-warni, pinatikan dengan motif jaring segi enam, tinompak kuda, tononton mata (figur manusia), kalwu patola dengan citra kain PatolaIndia, dan kokera dengan motif flora bersulam manik-manik.[4]
Motif
Kain bentenan dibuat tanpa sambungan; ditenun dalam bentuk tabung panjang. Bawahnya dihiasi lonceng kecil (reget), yang memberi ciri khas serta nama “Rinegetan”. Motifnya mencerminkan perpaduan lokal dan pengaruh India (patola), seperti motif jala segi enam, figur manusia, bunga, dan simbol spiritual.[5]
Pelestarian
Di era modern, Pasalongan Ringetan turut digunakan dalam upaya revitalisasi kearifan lokal, termasuk dalam pengenalan budaya di kalangan generasi muda dan sebagai bagian dari busana acara resmi. Inisiatif lokal dari lembaga budaya seperti Yayasan Karema mempromosikan penggunaannya dalam mode kontemporer, dan pemerintah daerah mendorong penggunaan kain ini oleh Aparatur Sipil Negara di hari-hari tertentu.[6] Sebagian desainer nasional juga mengadopsinya dalam koleksi gaun malam etnik, menjembatani tradisi dan inovasi dalam dunia mode.[butuh rujukan]
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.