Pada usia dua setengah tahun, Parlindungan menderita penyakit parah yang menyebabkan kulitnya dipenuhi bisul. Cyrellus kemudian berdoa dan menyatakan bahwa ia akan menjadikan putranya "hamba Tuhan" jika ia sembuh dari penyakit itu. Parlindungan sembuh dari penyakit beberapa hari kemudian.[3]
Karier penginjilan
Parlindungan ditahbiskan sebagai pendeta HKBP pada 22 Juni 1958.[4] Ia pun memulai kariernya sebagai pendeta di HKBP Jakarta hingga 1965.[5]
Parlindungan diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR GR) pada 27 Januari 1967, mewakili para prelat Kristen. Ia dilantik sebagai anggota DPR GR lima hari kemudian.[6] Ia dan tiga prelat Kristen lainnya di dewan kemudian bergabung dengan fraksi Partai Kristen Indonesia.[7] Masa jabatannya sebagai anggota dewan berakhir ketika dewan dibubarkan dan diganti dengan yang baru pada 28 Oktober 1971.[8] Ia kemudian kuliah di Universitas Hamburg dan lulus pada tahun 1973 dengan gelar doktor di bidang teologi.[9]