Panggarangan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lebak, ProvinsiBanten, Indonesia. Panggarangan terletak di antara kecamatan Cihara (yang juga pemekaran dari Kecamatan Panggarangan pada tahun 2009) di bagian barat dan Kecamatan Bayah di bagian timur. Nama "Panggarangan" berasal dari kata "pangarang" (Bahasa Sunda) yang artinya pengarang (Bahasa Indonesia).
Pada tahun 2022, Panggarangan, Indonesia mendapat pengakuan sebagai Siap Tsunami (Tsunami Ready) berdasarkan Program Pengakuan Siap Tsunami (Tsunami Ready Recognition Programme) oleh UNESCO-IOC.[1]
Geopark Bayah Dome yang merupakan Prioritas Pariwisata Kabupaten Lebak juga meliputi wilayah kecamatan Panggarangan, sekaligus Cilograng, Cibeber, Bayah, Cigemblong, Cihara, Sajira dan Curugbitung. Beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi di Panggarangan antara lain Destinasi Wisata Bukit Layung - Genteng Paska, Pantai Cimandiri, Pesisir Indah Siturgen, dan Pantai Munggul Aseupan. Di Kecamatan ini banyak dihasilkan tambang Batu Bara, Kelapa Sawit, Kelapa, Cengkih, dan Padi.
Latihan Degung di Panggarangan yang dilaksanakan di SDN 3 Mekarjaya
Sejarah
Nama "Panggarangan" berasal dari kata "pangarang" (Bahasa Sunda) yang artinya pengarang (Bahasa Indonesia). Banyak warga masyarakat yang berprestasi dibidang seni dari Kecamatan ini, seperti grup Degung atau Gamelan Sunda yang beranggotakan para Guru sekolah dasar dan menengah yang kadangkala mengisi acara kesenian maupun pernikahan. Panggarangan dianggap kampung seni, atau kampung yang berpotensi seni, dan menjadikan potensi masyarakat di Panggarangan.[2]
Kegiatan latihan seni Sunda degung rutin dilakukan oleh guru dan masyarakat setempat dalam berbagai rangka acara, salah satunya untuk memeriahkan HUT Republik Indonesia yang sekaligus untuk melestarikan seni budaya leluhur khususnya seni Sunda degung.[3]
Bung Karno di Bayah, membangun kereta api melewati Panggarangan
Sebagai daerah yang rawan Tsunami, Desa Panggarangan menjadi desa pertama di Banten yang mengupayakan indikator tsunami ready yang sudah mendapatkan Verifikasi Lapangan dari Tsunami Ready Community oleh UNESCO-IOC dan Komite Nasional Kesiapsiagaan Tsunami.[4]
Kesiagaan Tsunami dari UNESCO
Pada tahun 2022, Panggarangan, Indonesia, menerima pengakuan sebagai Tsunami Ready di bawah Program Pengakuan Tsunami Ready yang dikembangkan oleh UNESCO-IOC.
Kecamatan Panggarangan merupakan salah satu kecamatan di pesisir selatan Kabupaten Lebak yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan berada di atas zona subduksi Indo-Australia. Keberadaan beberapa objek wisata dan industri strategis di wilayah selatan Kabupaten Lebak menjadikan tingkat risiko bencana tsunami di daerah ini cukup tinggi. Berdasarkan pemodelan inundasi tsunami (skenario terburuk M8.7), kedalaman maksimum potensi genangan tsunami di Kecamatan Panggarangan dapat mencapai 6–14 meter.
Peta Bahaya Tsunami di Panggarangan
Sebagai organisasi masyarakat sipil lokal, Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) memiliki peran yang sangat penting sebagai penggagas dan penggerak masyarakat dalam upaya persiapan serta pemenuhan 12 indikator tsunami ready di Desa Panggarangan. Unsur kearifan lokal yang banyak diterapkan dalam upaya mitigasi bencana menjadi keunikan tersendiri di Desa Panggarangan. Partisipasi aktif masyarakat dalam berbagai kegiatan mitigasi dan kesiapsiagaan, keberadaan Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS), serta dukungan dari berbagai pihak turut berkontribusi dalam pemenuhan 12 indikator di Desa Panggarangan.
Peta Rendaman Tsunami di Panggarangan
Upaya untuk mempersiapkan Desa Panggarangan menjadi komunitas Tsunami Ready dilakukan oleh Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) dengan membangun kolaborasi yang kuat dengan berbagai pihak, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), U-INSPIRE Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kidzsmile Foundation, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Universitas Multimedia Nusantara (UMN), ID Flow Stories, RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia), Indonesia Offroad Federation, Sky Volunteer, PT Zenith, Biner Dev, BSI Foundation, dan PLN Peduli.
Pada awal Januari 2022, setelah melalui verifikasi atas kelengkapan 12 indikator, Desa Panggarangan menerima sertifikat pengakuan sebagai komunitas Tsunami Ready di tingkat nasional. Selain itu, pada tahun yang sama, Desa Panggarangan juga memperoleh pengakuan Tsunami Ready dari IOC-UNESCO.[1]
Pemerintahan
Berdasarkan data pokok Kecamatan Panggarangan tahun 2020, ada 11 Desa dan Kelurahan dengan jumlah penduduk sebagai berikut.[5]
Desa/kelurahan dan Jumlah Penduduk di 2020
Situregen 4.435 Orang
Sukajadi 2.853 Orang
Hegarmanah 1.974 Orang
Panggarangan 4090 Orang
Sindangratu 4.597 Orang
Cimandiri 4.296 Orang
Mekarjaya 4.806 Orang
Gununggede 2.873 Orang
Sogong 2.775 Orang
Jatake 3.571 Orang
Cibarengkok 2.754 Orang
Pendidikan
Tingkat SMA/SMK/MA
SMPN 8 Satu Atap Panggarangan
SMPN 3 Panggarangan
SMPN 9 Panggarangan
SMPN 5 Panggarangan
SMPN 7 Satu Atap Panggarangan
SMPN 4 Panggarangan
SMPN 6 Satu Atap Panggarangan
SMPN 2 Panggarangan
SMPN 1 Panggarangan
SMK Putra Mandiri Cimandiri – Panggarangan
SMK Negeri 1 Panggarangan
SMAN 1 Panggarangan
SMA Negeri 3 Panggarangan
SMA Negeri 4 Panggarangan
SMAN 2 Panggarangan
Industri dan Pariwisata
Geopark Bayah Dome yang merupakan Prioritas Pariwisata Kabupaten Lebak yang berada di daerah ini. Geopark Bayah Dome tersebut meliputi geosite Bayah, Cilograng, Cibeber, Panggarangan, Cigemblong, Cihara, Sajira dan Curugbitung.[6] Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga telah menetapkan Kawasan Bayah Dome atau Kubah Bayah di Kabupaten Lebak sebagai Geopark yang memiliki warisan Geologi atau Geoheritage melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 164 Tahun 2022 tentang Penetapan Warisan Geoheritage kawasan Bayah Dome atau Kubah Bayah tersebut. Geopark Bayah Dome bertujuan untuk menjaga konservasi alam, melestarikan budaya, serta menjadi sumber pendapatan berbasis wisata edukasi.[7]
Orang-orang Terkemuka
Muhammad Zid - Professor pertama bidang Ilmu Sosiologi Pedesaan di Universitas Negeri Jakarta[8]