Pangeran Pekik adalah penguasa Surabaya yang memerintah pada tahun 1614 sampai 1672. Pada masa pemerintahannya Surabaya berkembang menjadi sebuah kawasan perdagangan yang makmur. Kemakmurannya bahkan menggantikan Gresik yang telah menjadi kota pelabuhan sejak era Raja Airlangga. Pangeran Pekik digantikan oleh putranya yaitu Adipati Mas Jangrana Anggawangsa / Jayengrono / Jayo ing Lago yang menjadi menantu dari trah Sunan Giri yaitu Pangeran Lanang Dangiran.
Kehidupan Awal
Pangeran Pekik dilahirkan di Surabaya bersama dengan saudara lainnya yaitu Pangeran Trunojoyo, Pangeran Indrajit dan Pangeran Wirodarmo. Ayah mereka yaitu Joyolengkoro adalah penguasa Surabaya yang berkedudukan di daerah Wonokromo. Sebagai seorang anak penguasa, Pangeran Pekik tumbuh dalam lingkungan Keadipatian Surabaya yang memiliki kebudayaan santri yang kental.
Menjadi Penguasa Surabaya
Pangeran Pekik menggantikan ayahnya menjadi Penguasa Surabaya. Pangeran Pekik kemudian membangun Masjid Agung Surapringga sebagai pusat dakwah sekaligus pusat pemerintahan. Karena Pangeran Pekik adalah penguasa yang sekaligus juga seorang ulama maka putra Jayalengkoro tersebut diberi gelar Susuhunan Abdurahman. Dari istri Ratu Wandansari, Pangeran Pekik dikaruniai anak yaitu Jayengrono / Jayo ing Lago, Onggojoyo dan Suro Menggolo. Selain bergelar Susuhunan Abdurahman, Pangeran Pekik juga bergelar Gagak Emprit, Raja Pandhita Wali hingga Pangeran Anom. Pangeran Pekik juga memiliki julukan Kyai Sedo Masjid atau Badaruddin yang darinya terlahir penguasa Kesultanan Palembang.
Keberhasilan Pangeran Pekik dalam membangun Kota Surabaya telah membuat dominasi Gresik sebagai Kota Pelabuhan utama di Jawa Timur melemah. Peran Giri Kedaton sebagai penguasa Jawa Timur kemudian berangsur-angsur runtuh digantikan oleh Surabaya yang semakin makmur dan maju. Panembahan Kawis Guwa adalah penguasa terakhir Giri Kedaton yang menyerahkan penguasaan Jawa Timur kepada Pangeran Pekik. Sejak saat itu peran Gresik sebagai Kota Pelabuhan utama Jawa Timur digantikan oleh Surabaya hingga saat ini.
Wafat
Foto makam Pangeran Pekik di kawasan Masjid Surapringga Tembakan
Pada tahun 1672, Pangeran Pekik wafat dan dimakamkan di sebelah Masjid Surapringga. Pangeran Pekik kemudian digantikan oleh putranya yaitu Jayengrono yang memerintah Surabaya hingga tahun 1714. Ketika Masjid Surapringga dirobohkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda, makam Pangeran Pekik saat ini terletak di kawasan Tugu Pahlawan Surabaya. Hal ini bisa dibuktikan dari foto lama yang menunjukkan proses renovasi makam Pangeran Pekik.
Selain di Surabaya konon makam Pangeran Pekik juga ada di Makam Banyusumurup Imogiri Bantul. Namun keberadaan makam di Yogyakarta ini belum terkonfirmasi karena tidak pernah ditemukan bukti-bukti dokumen atau foto makam.
Kepustakaan
Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu