Pacuan kuda di Indonesia adalah bentuk olahraga berkuda yang kaya akan sejarah dan budaya Indonesia. Sejarah olahraga ini di Indonesia dapat ditelusuri kembali ke era kolonial Hindia Belanda. Olahraga ini kemudian distandarisasi sebagai kompetisi resmi di bawah PORDASI.
Olahraga nasional ini memiliki kejuaraan tahunan seperti seperti Indonesia Derby dan seri Kejurnas. Uniknya, pacuan kuda Indonesia menggunakan sistem klasifikasi terperinci berdasarkan usia, tinggi badan, dan persentase darah Thoroughbred (kuda ras unggul), seringkali mengkategorikan kuda menggunakan sistem kuda G untuk mengelola perkawinan silang dengan kudasandel lokal dan kuda poni lokal lainnya.
Pacuan kuda mencapai puncaknya selama era Orde Baru dengan pengembangan tempat-tempat modern utama seperti di Pulomas. Meskipun popularitasnya menurun setelah larangan perjudian, upaya baru-baru ini telah dimulai untuk memprofesionalkan dan menghidupkan kembali olahraga ini, sementara pacuan tradisional tetap menjadi bagian penting dari lanskap budaya di daerah-daerah seperti Sumatera Barat dan Bima.
Pacuan kuda di Jawa pada masa itu diatur oleh Asosiasi Balap Kuda dan Kereta Kuda Jawa (De Javasche Ren- en Harddraverij Vereeniging).[12] Beberapa organisasi regional juga beroperasi, termasuk Klub Balap Batavia–Buitenzorg (Batavia–Buitenzorg Wedloop Sociëteit), Perhimpunan Balap Kuda Semarang (Wedloop Sociëteit Semarang), Klub Pacuan Kuda Priangan (Preanger Wedloop Sociëteit),[13] Asosiasi Pacuan Kuda Kereta dan Datar Surabaya (Soerabaijasche Harddraverij en Renvereeniging),[14] dan Asosiasi Pacuan Deli (De Deli Renvereeniging).[15] Ras kuda yang umum digunakan pada masa ini meliputi kudaras unggul impor dari Australia atau Inggris, kuda Arab, kuda poni, dan kuda lokal yang khas di setiap wilayah (misalnya kuda Priangan atau kuda poni Sandalwood), serta kuda hasil persilangan.[16]
Foto udara Koningsplein (sekarang Medan Merdeka), sekitar tahun 1933. Di sudut kiri bawah terdapat gelanggang pacuan kuda.
Banyak gelanggang pacuan kuda dari era kolonial yang kini sudah tidak digunakan lagi, sementara beberapa di antaranya telah dialihfungsikan untuk keperluan umum lainnya. Contohnya antara lain gelanggang pacuan kuda di Koningsplein yang kini menjadi bagian dari Medan Merdeka, serta gelanggang pacuan kuda di Tegallega, Bandung, yang kini menjadi Lapangan Tegallega yang menjadi lokasi monumen peringatan peristiwa Bandung Lautan Api.[17] Pengecualian yang menonjol antara lain adalah Gelanggang Pacuan Kuda Bukit Ambacang di Bukittinggi, yang dibangun pada tahun 1889 dan dianggap sebagai gelanggang pacuan kuda tertua di negara ini, serta Gelanggang Pacuan Kuda Bancah Laweh di Padang Panjang, yang didirikan pada tahun 1913.[18][19] Kedua gelanggang pacuan kuda tersebut menjadi referensi budaya dalam sastra Indonesia pada era Balai Pustaka, berkontribusi pada latar cerita novel-novel yang menggambarkan budaya Minangkabau, seperti novel Hamka tahun 1939 berjudul Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan novel Toelis Soetan Sati tahun 1928 berjudul Sengsara Membawa Nikmat.[20][21]
Gelanggang lintasan rumput di Medan, c. 1900Pacuan kereta kuda, 1930-an
Para penggemar pacuan kuda di Indonesia mengambil inisiatif untuk menghidupkan kembali olahraga ini setelah masa vakum selama Perang Dunia II. Kembalinya pacuan kuda kolonial di negara Indonesia yang baru merdeka dimulai dengan pembukaan kembali gelanggang pacuan kuda Tegallega di Bandung pada 1948 setelah perbaikan akibat kerusakan selama pendudukan Jepang. Selain upacara pembukaan gelanggang pacuan kuda, acara tersebut juga menandai reaktivasi Preanger Wedloop Sociëteit (kemudian berganti nama menjadi Perkumpulan Pacuan Kuda Priangan), yang telah tidak aktif selama pendudukan Jepang.[22] Organisasi lain seperti Batavia–Buitenzorg Wedloop Sociëteit (kemudian berganti nama menjadi Perkumpulan Pacuan Kuda Djakarta-Bogor) mengikuti jejak tersebut dengan membuka kembali operasinya pada tahun berikutnya.[23]
Meskipun organisasi pacuan kuda sudah ada sebelum kemerdekaan, mereka belum beroperasi secara nasional dan sebagian besar bersifat regional. Upaya untuk menyatukan asosiasi-asosiasi ini berujung pada pembentukan Pusat Organisasi Poni Seluruh Indonesia (POPSI) sekitar tahun 1953, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Singgih. Sayangnya, POPSI gagal berkembang dan perlahan-lahan menghilang seiring waktu.[24]
Era Orde Baru
Selama transisike Orde Baru pada tahun 1966, sebuah pacuan eksibisi diadakan di Bandung pada tanggal 9 Juni. Hal ini berujung pada pertemuan pada 11–12 Juni, yang secara resmi mendirikan Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI), dengan Achmad Sham sebagai ketua umum. Beberapa bulan kemudian, organisasi yang baru dibentuk tersebut meminta Jenderal Soeharto saat itu untuk menjadi “bapak angkat pacuan kuda Indonesia” dan mengizinkan penggunaan namanya untuk kejuaraan nasional yang akan datang. Persetujuannya dituangkan dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Olahraga No. 016/1966, tertanggal 28 Oktober 1966, yang secara resmi mengakui PORDASI sebagai badan pengatur nasional untuk olahraga berkuda di Indonesia.[24] Kuda milik Soeharto, Diana, memenangkan Soeharto Cup perdana yang diselenggarakan di Bogor pada 12–13 November 1966.[25]
Gelanggang Pacuan Kuda Pulomas pada tahun 1971
Pada tahun 1971, Gelanggang Pacuan Kuda Pulomas dibangun di Jakarta Timur dan diresmikan oleh Gubernur saat itu, Ali Sadikin. Gelanggang pacuan kuda ini dikembangkan dan didanai oleh Djakarta Racing Management, sebuah usaha patungan antara Pemerintah Provinsi Jakarta dan konsorsium swasta asal Australia. Pembangunan dan pengoperasian gelanggang pacuan kuda ini juga mendapat dukungan dari tokoh-tokoh terkemuka, seperti pensiunan perwira militer dan pendiri Kopassus, Alex Kawilarang, serta pelatih kuda pacu terkenal asal Australia, Bart Cummings.[26] Gelanggang pacuan kuda ini juga memperkenalkan sistem totalizator untuk taruhan, yang disahkan di Jakarta hingga larangan perjudian secara nasional diberlakukan pada tahun 1981.[27]
Selama periode ini, kuda-kuda yang dilombakan meliputi kuda Thoroughbred murni (beberapa di antaranya diimpor dari Australia), kuda lokal (secara umum dikenal sebagai sandel), atau kuda campuran. Era ini juga memperkenalkan sistem klasifikasi baru untuk kuda silang, yang dikenal secara lokal sebagai kuda G (kuda G), di mana G1 merujuk pada generasi pertama kuda silang, G2 pada generasi kedua (disilangkan kembali dengan kuda Thoroughbred), dan seterusnya.
Era ini menyaksikan pemenang pertama dalam sejarah Piala Tiga Mahkota, Mystere, pada tahun 1978. Namun, penamaan gelar tersebut dihentikan tidak lama setelahnya pada tahun 1979.[25]
Era Reformasi
Pada masa ini, diciptakan istilah baru untuk kuda hasil persilangan yang disebut Kuda Pacu Indonesia, yang didefinisikan sebagai hasil persilangan antara kuda G3 dan/atau G4 dengan kuda G3 dan/atau G4 lainnya atau kuda ras ungul.[28][24]
Manik Trisula menjadi kuda kedua dan kuda betina pertama yang memenangkan Piala Tiga Mahkota pada tahun 2002, menandai berakhirnya jeda selama 25 tahun dalam seri tersebut. Setelah itu, Djohar Manik mengikuti jejaknya, menjadi kuda ketiga yang meraih gelar tersebut pada tahun 2014.[24]
Di tengah pandemi COVID-19, pacuan kuda di Indonesia tetap berlangsung, dengan pacuan besar seperti A.E. Kawilarang Memorial Cup, seri pertama Kejurnas, dan berbagai pacuan regional tetap diselenggarakan.[33][34]
Upaya untuk menghidupkan kembali olahraga ini muncul kembali pada tahun 2020-an, dengan promotor SARGA.CO meluncurkan sirkuit pacu nasional bekerja sama dengan PORDASI untuk memprofesionalkan pacuan kuda dan menarik penonton yang lebih muda.[35][36] Sirkuit pacuan ini secara resmi disusun menjadi seri Indonesia's Horse Racing.[37]
Peluncuran global Umamusume: Pretty Derby pada Juni 2025 secara tak terduga menjadi katalisator kebangkitan kembali dunia pacuan kuda di kalangan anak muda Indonesia.[38] Promotor SARGA.CO, yang menyelenggarakan acara pacuan kuda nasional, mengakui pengaruh waralaba tersebut dan sejak saat itu telah bermitra dengan beberapa komunitas penggemar Umamusume lokal untuk mempromosikan olahraga ini.[39][40] Secara kebetulan, pada 27 Juli, King Argentin mencatatkan tonggak sejarah dengan memenangkan ketiga seri Piala Tiga Mahkota, menjadi kuda keempat yang berhasil meraih prestasi tersebut setelah 11 tahun tidak ada pemenang.[41]
Menyusul insiden di Jateng Derby 2025, PORDASI memberlakukan aturan baru yang menyatakan bahwa joki kini hanya diperbolehkan menunggangi maksimal enam kuda dalam satu kompetisi. Sebelum aturan ini diberlakukan, joki dapat menunggangi jumlah kuda yang tidak terbatas dalam satu kompetisi, dengan beberapa di antaranya berpartisipasi dalam sepuluh hingga sebelas pacuan.[42]
Pada Mei 2025, Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi) secara resmi menandatangani perjanjian kemitraan strategis dengan Prancis. Perjanjian kerja sama tersebut mencakup kemitraan strategis dengan Federasi Berkuda Prancis (FFE), France Galop, Asosiasi Stal Pacu (AFASEC), Institut Kuda dan Berkuda Prancis (IFCE), serta Filière Cheval, yang merupakan tindak lanjut dari kunjungan PP Pordasi ke Prancis pada 6–9 Maret 2025. Perjanjian kemitraan strategis tersebut ditandatangani oleh Ketua PP Pordasi Aryo Djojohadikusumo dan Direktur Jenderal IFCE Jean-Roch Gaillet di Istana Negara, disaksikan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Emmanuel Macron.[43] Khususnya dalam hal pacuan kuda, kemitraan ini bertujuan untuk meningkatkan standar pacuan di Indonesia. Upaya ini mencakup pelatihan joki, pembangunan arena, dan fasilitas pelatihan di Indonesia.[44]
Pada Desember 2025, Aryo Djojohadikusumo bersama CEO Sarga Group, Aseanto Oudang, mengadakan pertemuan dengan Ketua Dubai Racing Club, Sheikh Rashed bin Dalmook Al Maktoum, di Gelangang Pacuan Kuda Meydan, Dubai, Uni Emirat Arab, untuk membahas peluang kerja sama.[45] Rincian kedua kerja sama tersebut belum diumumkan.
Klasifikasi kuda
Berdasarkan usia
Untuk klasifikasi berdasarkan usia, kelas-kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok untuk kuda berusia dua, tiga, dan empat tahun ke atas, dengan semua kelompok mencakup kuda jantan dan betina. Kuda berusia 2 hingga 3 tahun memulai karier balapnya di Kelas Pemula atau Perdana. Kuda berusia tiga tahun diklasifikasikan dalam Kelas Remaja atau Derby, dan ini adalah satu-satunya kelompok usia yang memenuhi syarat untuk bersaing dalam Piala Tiga Mahkota. Sementara itu, kuda berusia 3 tahun ke atas dapat bersaing di Kelas Dewasa, dan kuda berusia empat tahun ke atas diperbolehkan berpartisipasi dalam pacuan terbuka yang mencakup jarak jauh dan/atau sprint.
Berdasarkan tinggi
Klasifikasi Kejurnas
Klasifikasi Non-Kejurnas
Kelas
Tinggi (cm)
Kelas
Tinggi (cm)
A
≥ 161.1
G
134.1 – 138
B
156.1 – 161
H
130.1 – 134
C
151.1 – 156
I
127.1 – 130
D
146.1 – 151
J
124.1 – 127
E
142.1 – 146
F
138.1 – 142
Klasifikasi tinggi badan didasarkan pada tinggi badan kuda tanpa memperhitungkan usia. Dengan kata lain, kuda dari segala kelompok usia, mulai dari usia dua tahun ke atas, dapat berkompetisi selama mereka memenuhi standar dan persyaratan tinggi badan yang ditetapkan. Klasifikasi ini tidak berlaku untuk kuda ras unggul.
Berikut adalah klasifikasi berdasarkan tinggi kuda. Balapan di kelas A hingga F dikategorikan sebagai kejuaraan nasional (Kejurnas). Sementara itu, balapan di kelas G hingga J tidak termasuk dalam kategori kejuaraan nasional (non-Kejurnas).[46]
Berdasarkan persentase darah ras unggul
Karena sebagian besar kuda pacu Indonesia merupakan hasil persilangan antara kuda ras unggul dan kuda lokal, mereka diklasifikasikan berdasarkan persentase darah ras unggul yang dimilikinya, sebuah sistem yang umumnya dikenal sebagai sistem klasifikasi kuda-G. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa garis keturunan dapat dilacak untuk keperluan pembiakan dan seleksi.
Klasifikasi dimulai dengan G1, yang mewakili persilangan generasi pertama antara kuda lokal (dalam klasifikasi ini juga dikenal sebagai G0/sandel/LK) dan kuda ras unggul (juga dikenal sebagai THB). Dalam istilah Mendel, setiap generasi menggandakan proporsi materi genetik Thoroughbred, sehingga menghasilkan 50% (G1), 75% (G2), 87,5% (G3), dan seterusnya. Kuda di luar generasi ke-4 umumnya disebut menggunakan "KP", yang berlanjut ke KP5, KP6, KP7, dan seterusnya.[24]
Pada tahun 1996, penamaan alternatif baru untuk kuda pacu hasil persilangan yang dikenal sebagai Kuda Pacu Indonesia distandardisasi. Generasi kuda ini didefinisikan sebagai hasil persilangan antara kuda generasi ketiga (G3) dan generasi keempat (G4). Klasifikasi ini secara resmi diluncurkan oleh Kementan pada tahun 2013.[28]
Pada tahun 2021, klasifikasi baru untuk kuda silang diajukan dan disetujui oleh PORDASI. Klasifikasi baru ini, yang dikenal sebagai Gumarang, didefinisikan sebagai hasil persilangan dua kuda KP5–KP8, dan kemudian, persilangan keturunan yang dihasilkan. Meskipun telah disahkan oleh PORDASI, klasifikasi ini belum diluncurkan secara resmi.[47]
PORDASI menetapkan standar khusus bagi joki pacuan kuda profesional dalam pedoman kejuaraan resminya. Untuk memenuhi syarat, calon joki harus merupakan warga negara Indonesia yang berusia 18 tahun ke atas dan dipilih oleh seorang pelatih kuda.[48] Untuk mendapatkan lisensi, calon joki harus lulus pemeriksaan kesehatan (baik fisik maupun mental) dan penilaian keterampilan oleh Dewan Pengawas, serta mendapatkan rekomendasi resmi dari cabang PORDASI di tingkat provinsi. Joki yang menunggangi kuda kecil harus memiliki berat minimal 35 kg, sedangkan joki yang menunggangi kuda standar nasional harus memiliki berat antara 48 kg dan 55 kg.[48]
Salah satu joki terbaik Indonesia adalah Coen Singal. Ia memulai kariernya sebagai joki pada tahun 1980-an, dan sejak saat itu, ia telah memenangkan Indonesia Derby sebanyak lima kali (1988, 1990, 1999, 2000, dan 2004). Selain Coen, Jemmy Runtu juga telah memenangkan lima pacuan Indonesia Derby (2016, 2018, 2021, 2024, dan 2025). Runtu adalah joki King Argentin, pemenang Piala Tiga Mahkota 2025.
Pacuan
Handicap
Seri Kejurnas menggunakan sistem yang mirip dengan sistem Weight for Age, di mana handicap yang diberikan kepada setiap kuda bergantung pada usia, jenis kelamin, dan tinggi badannya dalam klasifikasi tinggi badan. Sebagai patokan umum, untuk setiap sentimeter di atas tinggi badan minimum kelas atau usia di atas 2 tahun, seekor kuda akan diberi tambahan 0,5 kg pada bobotnya, hingga maksimal 2 kg untuk usia kuda. Kuda Kelas A juga memiliki handicap maksimum 2 kg untuk tinggi badannya. Ini merupakan tambahan dari bobot dasar yang bergantung pada kelas dan jenis kelamin.[46] Kuda Kelas A dan B membawa handicap dasar 51 kg, sedangkan kuda Kelas C hingga F membawa handicap dasar 50 kg. Kuda betina juga menerima keringanan 1 kg.
Pacuan klasik Indonesia
Ini adalah serangkaian pacuan kuda datar. Setiap pacuan klasik diadakan sekali setahun dan merupakan bagian dari kalender nasional PORDASI.
Setiap tahun, PORDASI menyelenggarakan Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda (Kejurnas), di mana para peserta bertanding bukan sebagai individu melainkan sebagai perwakilan dari cabang provinsi atau daerah masing-masing. Juara umum ditentukan berdasarkan total poin yang diraih di seluruh kelas pacuan. Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda diselenggarakan untuk memperebutkan Piala Presiden.[46]
Seri Kejurnas 1
Juga dikenal sebagai Seri Tiga Mahkota. Kuda-kuda Indonesia, baik jantan maupun betina, memperoleh gelar Tiga Mahkota dengan memenangkan ketiga pacuan. Seri ini terdiri dari:
Seri Kejurnas ini mempertandingkan kuda balap berdasarkan usia yang dibagi ke dalam kelas. Indonesia Derby dianggap sebagai salah satu acara utama dalam seri Kejurnas pertama, karena secara tradisional diadakan pada hari yang sama dan terintegrasi ke dalam program kejuaraan.[46]
Seri Kejurnas 2
Seri Kejurnas ini mempertandingkan kuda pacu berdasarkan tinggi badan mereka yang dibagi ke dalam kelas. Pacuan utama dalam seri ini meliputi:
Piala Ketua Umum Pengurus Pusat Pordasi (Piala Ketum PP Pordasi)
Piala Raja Hamengku Buwono XI
Pakualam Cup
Sumpah Pemuda Cup
Seri pacuan kuda regional meliputi:
Wisata Derby Bukittinggi
Berbagai pacuan yang diselenggarakan oleh walikota/bupati (misalnya Piala Bupati Minut, dll.)
Gelanggang Pacuan Kuda Takengon pada tahun 2019. Gelanggang pacuan kuda ini menjadi tempat penyelenggaraan pacuan kuda pada Pekan Olahraga Nasional 2024
Selain kompetisi nasional yang diselenggarakan oleh PORDASI, cabang-cabang regional dan pengelola lokal juga menyelenggarakan acara pacuan kuda mereka sendiri, mulai dari balapan datar modern hingga bentuk-bentuk kompetisi tradisional).[49][50] Pacuan kuda juga sering dipertandingkan dalam Pekan Olahraga Nasional, dengan penambahan terakhirnya pada edisi 2024.[51]
Pacuan non-datar dan/atau tradisional/lokal
Pacuan pacoa jara tradisional di Bima. Para joki dalam pacuan ini biasanya adalah anak-anak.
Selain pacuan datar, baik dalam konteks tradisional maupun modern, bentuk-bentuk lain dari pacuan kuda (terutama pacuan kereta kuda) juga terdapat dalam scene pacuan kuda lokal Indonesia. Dalam pacuan kuda tradisional Minangkabau, selain pacu kudo, kompetisi berkuda lain yang umum disebut draf bogie. Dalam draf bogie, pemenang ditentukan tidak hanya berdasarkan kuda mana yang melintasi garis finish terlebih dahulu, tetapi juga berdasarkan kualitas dan konsistensi langkahnya.[18] Di Sulawesi Utara, pacuan kereta kuda dikenal sebagai bendi kalaper.[54]
Badan pengatur
Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) adalah organisasi yang mengatur kompetisi pacuan kuda di Indonesia. Melalui Komisi Pordasi Pacu, Pordasi secara rutin menggelar seri tahunan Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda Pordasi (kini Indonesia's Horse Racing) sejak pendirian organisasi ini pada tahun 1966.[55] Sejak 2023, promotor kompetisi berkuda Sarga.co dibentuk melalui dukungan Pordasi untuk mengembangkan kualitas perlombaan pacuan kuda di tingkat nasional.[56][57]
Gelanggang
Sebagian besar gelanggang pacuan kuda di Indonesia berlintasan tanah, kecuali Gelanggang Pacuan Kuda Yosonegoro di Gorontalo, yang merupakan satu-satunya arena rumput di negara ini.
Gelanggang
Lokasi
Track
Status
Telah menjadi tuan rumah kejuaraan tingkat nasional[a]
↑Lintasan pacuan kuda non-standar; lintasan pacuan kuda ini tidak menggunakan rumput standar untuk pacuan kuda.
Referensi
↑"Salatiga Races October Meeting". Java Government Gazette. Batavia (dipublikasikan Oktober 24, 1812). 1812. hlm.2. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-03-11. Diakses tanggal 2025-10-26.
↑"Tanende Sport". Bataviaasch Nieuwsblad (dalam bahasa Belanda). Vol.55, no.84. March 11, 1940. hlm.1. Diakses tanggal December 18, 2025.
↑"De Ren-Data voor 1935". Jaarvergadering Javasche Ren-vereeniging. De locomotief (dalam bahasa Belanda). No.46. Samarang (dipublikasikan Februari 25, 1935). 1935. hlm.9.
↑"De Deli renvereeniging". De Sumatra post (dalam bahasa Belanda). No.52. Medan (dipublikasikan Agustus 13, 1923). 1923. hlm.10. Diakses tanggal 2025-10-18.
↑"Raceterrein Tegallega te Bandoeng Hersteld". De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad (dalam bahasa Belanda). Vol.96, no.251. Semarang (dipublikasikan Juli 3, 1948). 1948. hlm.2. Diakses tanggal 2025-10-18.
↑"Batavia Buitenzorg Wedloop Sociëteit". Indische courant voor Nederland (dalam bahasa Belanda). Vol.1, no.96. Amsterdam (dipublikasikan Juni 25, 1949). 1949. hlm.2. Diakses tanggal 2025-10-18.