Overdosis opioid adalah kondisi medis yang disebabkan oleh konsumsi opioid secara berlebihan, termasuk morfin, kodein, heroin, fentanyl, tramadol, dan metadon.[1][2] Kondisi ini merupakan bentuk toksisitas yang dapat menimbulkan risiko fatal apabila mengakibatkan depresi pernapasan, yaitu gangguan pernapasan yang dapat menyebabkan hipoksia akibat pernapasan yang lambat dan dangkal.[1] Gejala klinis yang umum terjadi meliputi penyempitan pupil (miosis) dan kehilangan kesadaran. Timbulnya gejala dapat bervariasi tergantung pada rute pemberian, dosis yang dikonsumsi, dan faktor risiko individu.[3] Selain kematian, overdosis opioid juga dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang, termasukkerusakan otak permanen.[4][5]
Diagnosis overdosis opioid dilakukan berdasarkan evaluasi gejala dan pemeriksaan fisik. Faktor risiko yang berkontribusi terhadap overdosis meliputi tingkat ketergantungan opioid yang tinggi, penggunaan opioid melalui injeksi, penggunaan dosis tinggi, adanya gangguan mental atau predisposisi terhadap gangguan mental, serta kombinasi penggunaan opioid dengan zat lain sepertialkohol, benzodiazepin, atau kokain.[6][7][8] Ketergantungan terhadap opioid resep dapat berkembang pada individu yang menggunakannya untuk pengelolaan nyeri kronis. Risiko overdosis juga meningkat setelah periode detoksifikasi, karena penurunan toleransi tubuh terhadap opioid.[6]
Penanganan awal terhadap overdosis opioid fokus pada dukungan pernapasan dan pemberian oksigen untuk mengurangi risiko hipoksia.[9] Nalokson digunakan sebagai agen antagonis opioid pada individu yang tidak dapat mengembalikan fungsi pernapasan secara mandiri.[1][9] Pemberian nalokson dapat dilakukan melalui intranasal atau injeksi intramuskular, dengan efektivitas yang sebanding. Upaya pencegahan kematian akibat overdosis juga mencakup peningkatan akses terhadap nalokson dan pengobatan untuk ketergantungan opioid.[6][10]
Secara global, penggunaan narkoba menyebabkan sekitar 500.000 kematian, dengan overdosis opioid menyumbang sekitar 115.000 kematian pada tahun 2018,[6] meningkat dibandingkan 18.000 kematian pada tahun 1990.[11][12] Pada tahun yang sama, sekitar 269 juta orang tercatat telah menggunakan narkoba setidaknya sekali, dengan 58 juta orang menggunakan opioid. Gangguan penggunaan narkoba dilaporkan memengaruhi sekitar 35,6 juta orang di seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa 70% kematian akibat penggunaan narkoba terkait dengan opioid, dengan 30% di antaranya disebabkan oleh overdosis. Epidemi opioid diperkirakan sebagian dipengaruhi oleh klaim keamanan opioid resep yang disampaikan oleh industri farmasi pada 1990-an,[13] yang menyebabkan peningkatan penggunaan dan ketergantungan. Meskipun tersedia intervensi medis untuk mengurangi risiko overdosis, kurang dari 10% individu yang terdampak menerima pengobatan yang sesuai.[6][13]